<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008</id><updated>2012-02-09T21:43:15.627+08:00</updated><category term='Kampung Halaman'/><category term='Pendidikan'/><category term='Sumatera Barat'/><category term='Koleksi Photo'/><category term='Pantai'/><category term='On the Job'/><category term='Opini'/><category term='Flores'/><category term='Catatan kucel'/><category term='Jalan-jalan'/><category term='Timor'/><title type='text'>Jalan-Jalan Lupa Pulang</title><subtitle type='html'>Hidup Berpetualang,
Petualangan Hidup.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>36</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-8077838014411753336</id><published>2010-11-19T23:05:00.000+08:00</published><updated>2010-11-19T23:05:33.764+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatera Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Lembah Harau</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/TOaP85vhj5I/AAAAAAAAAfg/t2K7aYqFkaI/s1600/DSC01418.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/TOaP85vhj5I/AAAAAAAAAfg/t2K7aYqFkaI/s320/DSC01418.JPG" width="212" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Dinding Tebing Harau&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Jika kita berwisata di Sumatera Barat, tak lengkap rasanya jika tidak mengunjungi Taman Wisata Lembah Harau yang berada di kabupaten Limapuluh Koto. Lembah Harau adalah sebuah lembah yang diapit oleh tebing batu granit dengan kemiringan 90 derajat alias berdiri tegak secara massif. Ketinggian tebing-tebing ini bervariasi antara 80 hingga 300 meter. Yang membuat kagum selain tinggi serta panjangnya tebing yang menjadi dinding lembah harau tersebut, juga mosaic warna yang muncul antara hitam kecoklatan dan putih dihiasi gumpalan-gumpalan rerumputan dan pepohonan perdu yang menempel di tebing. Sementara di dasar lembahnya terdapat sawah-sawah dan sedikit perkampungan. Melihat kontur dan bentuk lembah ini, sepertinya lembah harau tercipta akibat gesekan bumi maha dasyat yang menyebabkan turunnya massa tanah yang kini menjadi lembahnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/TOaQbuYSngI/AAAAAAAAAfk/a0GcZyEBoMQ/s1600/DSC03332.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/TOaQbuYSngI/AAAAAAAAAfk/a0GcZyEBoMQ/s320/DSC03332.JPG" width="212" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Salah Satu Air Terjun di Akar Berayun&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Terdapat 5 air terjun besar yang berada di dua lokasi yakni satu di Sarasah Buntah dan yang lain berada di Akar Berayun. Selain itu terdapat beberapa air terjun kecil yang mengalir di sepanjang kiri dan kanan jalan. Tinggi ke-lima air terjun tersebut berbeda-beda, antara 50 hingga 90 meter. Sedangkan debit air yang mengalir biasanya tergantung curah hujan yang turun sebelumnya. Ketika saya mendatangi lembah ini yang pertama di bulan November 2009, debit air terjunnya kecil sehingga pengunjung bisa mendekat dan mengambil gambar dengan aman. Sedangkan ketika saya berkunjung ke lembah ini di akhir bulan Januari 2010, debit air cukup besar sehingga menciptakan cipratan air hingga 20 meter dan menerbangkan embun-embun yang membuat pengunjunga tak bisa mengambil gambar dari dekat menggunakan kamera tanpa pelindung water proof.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Udara di lembah Harau cukup sejuk dan cenderung dingin. Hal tersebut karena lembah ini masih berada di dataran yang cukup tinggi. Di pagi dan sore hari, kabut biasa datang dari atas tebing menuruni lembah sehingga menambah keelokan lembah harau. Mendekati ujung lembah, tepatnya 350 meter sebelah kiri dari gerbang lembah harau, terdapat Echo Point, yakni tempat yang menimbulkan efek pantulan bunyi/suara (echo). Di tempat ini disediakan panggung kecil tempat pengunjung membuktikan efek echo dengan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;berteriak lantang sehingga akan terdengar pantulan suara di seberang dinding tebing yang berjarak sekitar 300 meter. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Di atas tebing-tebing harau, terdapat hutan yang menurut warga setempat &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;terdapat suaga marga satwa seluas 250 hektar dan dihuni berbagai hewan liar asli sumatera seperti monyet ekor panjang, beruk, landak, tapir, beruang, berbagai jenis burung serta harimau sumatera. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-weight: bold; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;Menikmati lembah harau kurang pas jika kita tidak menginap di sini. Suasana malam yang sunyi berteman suara berbagai hewan dari atas tebing serta gemuruh air terjun sangat nyaman untuk bersantai. Sementara di pagi hari, kita bisa menikmati turun dan naiknya kabut di sekitar kita serta menikmati kopi dan sarapan mie panas yang disediakan oleh penjual yang berada di sekitar air terjun sarasah buntah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Jika ingin menginap di sini, terdapat hotel bertemakan resort yakni Lembah Echo Resort dengan bangunan-bangunan yang menyatu dengan alam dan berada tepat di tepi dinding tebing sebelah kiri. Lokasi hotel ini berada di dekat echo point. Kamar yang disediakan bertarif mulai 75 ribu untuk driver (1 orang), 400-600 ribu untuk bungalow yang bisa digunakan untuk 6 orang. Atau bagi mereka yang ingin berkemping, terdapat lokasi kemping di dekat air terjun Akar Berayun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/TOaRR8XciUI/AAAAAAAAAfo/gbODZgHDWxs/s1600/DSC01373.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="211" src="http://4.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/TOaRR8XciUI/AAAAAAAAAfo/gbODZgHDWxs/s320/DSC01373.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;salah satu bungalow Lembah Echo Resort&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Lembah harau berjarak 47 Km dari Bukittinggi dan 15 Km dari kota Payakumbuh. Untuk mencapai lokasi wisata lembah Harau, pengunjung bisa menggunakan angkutan umum ‘Tranex’ atau ‘Sinar Ayah’ ¾ jurusan payakumbuh, dari Payakumbuh lanjut pakai angkot ke Tanjung Pati turun di simpang harau dan melanjutkan dengan bettor (becak motor) yang tersedia di sana. Namun untuk lebih nyaman dan cepatnya, sebaiknya menggunakan kendaraan sewaan. Untuk sewa mobil, biasanya bertarif 250 ribu per hari tanpa supir alias dibawa sendiri, atau carter dg supir plus bensin seharga 400-500 ribu per hari. Sedangkan jika ingin sewa motor, tarif yang berlaku biasanya adalah 50 ribu per hari. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-weight: bold; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-8077838014411753336?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/8077838014411753336/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=8077838014411753336&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/8077838014411753336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/8077838014411753336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2010/11/lembah-harau.html' title='Lembah Harau'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/TOaP85vhj5I/AAAAAAAAAfg/t2K7aYqFkaI/s72-c/DSC01418.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-2588179935412206476</id><published>2010-10-24T13:51:00.002+08:00</published><updated>2010-10-26T12:30:56.345+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan kucel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kampung Halaman'/><title type='text'>Aku, Bagian dari Generasi Pemusnah (catatan dari masa kecil di desa)</title><content type='html'>&lt;b&gt;Kenangan Masa Kecil&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp; Bersyukur aku lahir dan dibesarkan di sebuah desa yang masih memberikan berbagai kenikmatan dari alamnya. Desaku berada di Kec. Mojosari yang masuk wilayah Kab. Mojokerto. Dari sini terlihat jelas deretan &lt;a href="http://khatulistiwa.info/gunung/44-gunung-arjuno-dan-gunung-welirang.html"&gt;pegunungan Welirang&lt;/a&gt; di sebelah selatan yang dulu sering aku imajinasikan sebagai sesosok raksasa yang sedang tidur membentang dengan kepala di sebelah timur dan kaki di sebelah barat. Sementara sosok gunung Penanggungan yang mirip tumpeng bertutup daun pisang berada tak jauh di bawahnya. Di masa kecilku, sebagian besar masyarakat di desa beraktifitas sebagai petani, namun kemudian sebagian lain beralih bekerja di industri rumahan sebagai pembuat genting. Masyarakat hidup berdampingan secara akrab dengan alam.&lt;br /&gt;&amp;nbsp; Masih dapat kuingat kehidupan saat aku dan teman-teman sebaya masih di sekolah dasar. Setiap pagi, kalau bukan dibangunkan oleh ibu, aku selalu terjaga oleh kicauan berbagai jenis burung yang ada di pohon2 belakang rumah. Dan jika hari menjelang petang, lengkingan ribuan burung &lt;i&gt;manyar&lt;/i&gt; terdengar bersahutan menciptakan semarak di sore hari, mereka bersarang di deretan rumpun bambu di sepanjang bibir curah (jurang sungai) yang berada tak jauh dari rumahku. Jika musim padi telah tiba, kami anak2 merasa senang sekali saat disuruh orang tua untuk menjaga sawah dari serbuan burung &lt;i&gt;emprit&lt;/i&gt; (pipit). Saat itu kami mengenal ada 2 jenis emprit, yakni emprit biasa yang berkepala hitam dan emprit kaji yang berkepala putih mirip topi haji. pemilik sawah biasanya telah menyiapkan gubuk di tengah pematang sawah. Dari gubuk ini kami menggerakkan &lt;i&gt;ondok2&lt;/i&gt; (orang2an sawah) dengan cara menarik-narik tali yang juga dihiasi plastik2 sehingga terlihat seperti orang yang melambai-lambai guna mengusir kawanan emprit yang hendak hinggap di tanaman padi. Kawanan burung emprit ini bisa berjumlah puluhan hingga ratusan ekor, sehingga sekali hinggap bisa memakan buliran padi hingga habis dari batangnya. Kami tak pernah tahu dari mana burung itu datang dan bagaimana mereka bisa berkumpul sedemikian banyak karena kami jarang sekali menemui sarangnya. Justru sarang burung &lt;i&gt;prenjak&lt;/i&gt; lah yang sering dijumpai menggantung di antara batang2 tanaman padi yang masih muda atau di batang2 tanaman kedelai. Namun karena burung prenjak bukanlah jenis yang diminati anak2, sehingga tak pernah kami pedulikan keberadaannya waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp; Alam menjadi tempat sekaligus media bermain utama bagi anak2 di masa itu. Bermain bagi anak2 kala itu hampir selalu dilakukan dalam bentuk permainan sosial (permainan berkelompok) dan selalu menggunakan media alam sekitar, baik sebagai alat, tema, maupun tempat. Jalan-jalan menjelajah sawah dan tegalan adalah salah satu aktivitas bermain yang menyenangkan di kala libur sekolah. Pohon-pohon dan binatang terasa akrab. Beberapa jenis burung dengan mudah dijumpai di pohon-pohon yang tumbuh liar.&lt;br /&gt;&amp;nbsp; Burung &lt;i&gt;Jambul &lt;/i&gt;(Kutilang) dan &lt;i&gt;Trucuk &lt;/i&gt;biasa dijumpai bersarang di pohon mangga atau di pohon kamboja yang ada di pemakaman desa. Kedua jenis burung ini cukup diminati waktu itu, selain karena mudah  ditangkap dan dipelihara, kedua burung yang memiliki kemiripan bentuk tersebut memiliki kicauan yang bagus. Jambul dan Trucuk sering pula hinggap mencari makan buah &lt;i&gt;keres&lt;/i&gt; di sekitar rumah penduduk. Pohon keres ini juga menjadi tempat favorit untuk mencari makan ulat daun bagi burung &lt;i&gt;Cipret&lt;/i&gt; yang berukuran kecil serta burung&lt;i&gt; Srapon&lt;/i&gt; yang memiliki warna-warni cerah di bagian kepala dan dadanya. Sementara burung &lt;i&gt;Cendet &lt;/i&gt;sering terlihat bertengger sambil bersolek membersihkan sayapnya di ranting2 pohon turi selepas mencari serangga dan hewan2 kecil di pematang sawah. Di kala musim hujan tiba, kami biasa beramai-ramai menangkap &lt;i&gt;Gemek&lt;/i&gt; (burung puyuh) di antara tanaman kacang dan jagung yang ada di&lt;i&gt; tegalan&lt;/i&gt;. Burung ini mudah ditangkap dengan tangan di kala hujan turun karena burung ini termasuk burung tanah yang tak bisa terbang jauh. Berbagai jenis burung yang lain juga mudah ditemui di desa kami waktu itu. Derkuku (tekukur) yang mirip merpati dengan garis hitam mirip kalung di lehernya banyak bersarang di pohon2 randu (kapuk) yang tinggi. Burung &lt;i&gt;Sikatan&lt;/i&gt; yang terbang lincah meliuk-liuk  rendah untuk menangkap serangga terbang seakan menjadi pemandangan sehari-hari di belakang rumahku. Sedangkan burung &lt;i&gt;Kuntul&lt;/i&gt; yang jangkung dan berleher panjang serta burung&lt;i&gt; Belkok&lt;/i&gt; yang berukuran lebih pendek seolah menjadi sahabat akrab &lt;i&gt;Pak Naip&lt;/i&gt; tetanggaku yang spesialis pembajak sawah menggunakan sapinya. Kedua burung ini selalu berkerumun di belakang Pak Naip dan sapinya untuk mencari hewan2 kecil yang keluar dari tanah setelah dibajak atau diratakan, bahkan kadang kuntul2 itu bisa hinggap dan berdiri di punggung sapi atau kerbau dengan cueknya. Waktu itu, tak ada orang yang mau menangkap burung2 ini karena dianggap dagingnya tidak enak dimakan. Di kala ada Elang terbang di atas, biasanya terdapat dua ekor &lt;i&gt;Srigunting&lt;/i&gt; yang terbang di atasnya dan mematuk-matuk Elang guna mengusirnya menjauh dari wilayahnya sarangnya. Rombongan burung besar yang kami sebut &lt;i&gt;Cangak-cangak Ulo&lt;/i&gt; yang berleher panjang kadang terlihat terbang bermigrasi dalam jumlah ribuan di ketinggian, orang tua di desaku mengatakan keberadaan burung ini sebagai pertanda bergantinya musim. Bahkan sewaktu masih kelas 3 SD, aku masih sempat melihat kelompok burung &lt;i&gt;Jalak Uret&lt;/i&gt;  saat aku jalan2 ke daerah &lt;i&gt;waung,&lt;/i&gt; sebuah bendungan di batas desa lain sekitar 2 Km arah barat desa kami. Namun beberapa tahun kemudian burung yang memiliki bulu hitam di bagian atas dan putih di bagian leher bawah hingga perut ini sudah tak pernah nampak lagi di tempat itu.&lt;br /&gt;&amp;nbsp; Selain berbagai jenis burung tersebut, komponen alam yang akrab dan menjadi bagian dalam keseharian anak-anak di masa itu adalah sungai-sungai dan kehidupan yang ada di dalamnya. Di masa itu, sungai dan parit2 airnya jernih di musim kemarau, sehingga ikan2 dan udang pun bisa terlihat ketika melintas. Hanya dedaunan yang terlihat mengotori sungai, terkadang kotoran manusia pun nampak di beberapa aliran sungai kecil tertentu yang digunakan warga khusus untuk membuang hajat.&lt;br /&gt;&amp;nbsp; Desa kami dilewati oleh aliran sungai yang berasal pegunungan Welirang yang mengalir hingga ke anak sungai &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sungai_Brantas"&gt;&lt;i&gt;brantas&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;. Penjajah Belanda membangun dam / bendungan sebagai sarana irigasi di hampir di setiap desa yang dilalui sungai ini. bendungan inilah yang menciptakan curah atau jurang yang terdapat aliran air di dasarnya. Jika kemarau, air di curah menjadi sangat jernih karena munculnya sumber2 mata air yang ada di bawah bendungan. Di sekitar mata air inilah yang dijadikan sebagai tempat mandi atau kami menyebutnya 'patusan' waktu itu. Mandi pagi sebelum berangkat sekolah menjadi ritual keseharian. Sepulang sekolah pun, anak2 seusiaku hampir selalu berkumpul di curah untuk mandi siang. Acara mandi siang inilah menjadi ajang bermain yang sangat menyenangkan. Salah satu dari kami biasa membawa korek api dari rumah. Sambil mandi, kami mencari pakung (udang sungai) di balik batu kerikil, pecahan genting serta dedaunan di dalam air. Karena jernihnya air dan banyaknya udang yang ada, kami selalu mudah mendapatkan udang untuk dibakar dengan menggunakan dedauan bambu yang mengering. Selain itu, hanya udang besar yang bersupit panjang lah yang kami tangkap. Jika mandi dengan cara berendam di dekat mata air, akan terlihat rombongan ikan wader berenang di sekitar kami, bahkan jika kami duduk dengan tenang, seringkali mereka datang dan menggigiti kulit kaki kami. Selepas musim hujan, ikan lele dengan mudah dijumpai di parit2 kecil. hanya bermodalkan tong dan ember kecil anak-anak seusiaku bisa mendapatkan lele, wader, atau tuntung (jenis gabus kecil yang ada di parit2) dengan cara menguras genangan2 air di parit atau di &lt;i&gt;tula'an&lt;/i&gt; (hulu aliran air di setiap pematang sawah). Dan di malam hari, bersama orang dewasa aku terkadang ikut mencari belut di sawah yang baru ditanami padi dengan penerangan lampu petromak. Dalam kegiatan ini, sudah menjadi hal yang lumrah ketika menjumpai berbagai jenis ular baik di sungai maupun di pematang sawah.&lt;br /&gt;&amp;nbsp; Masih banyak hal lain dari kehidupan alam sekitar yang sering dijumpai di desaku semasa itu. Di  pagi hari, seringkali terlihat tupai yang berlompatan di antara dahan pepohonan setelah menghabiskan buah nangka di kebun belakang rumah. Juga munculnya kupu2 gajah yang selalu muncul di awal musim hujan, terbang naik-turun di kerendahan seperti layang-layang yang tak dapat angin.Bahkan di masa itu, masih terdapat keluarga kucing hutan yang berlarian di atanra barisan pohon tebu di sawah yang berada di batas luar desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Generasi Pemusnah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp; Kebiasaan berburu mungkin adalah hal yang primitif namun terus berlanjut dari masa ke masa, khususnya bagi kaum laki-laki. Upaya untuk bertahan hidup di jaman purba hingga sensasi saat menaklukan sekaligus mendapatkan sesuatu yang bersifat liar adalah bentuk transformasi dari tujuan kegiatan berburu.&lt;br /&gt;Seperti halnya kebiasaan anak-anak yang berusia 10-12 tahun kala itu, kegiatan bermain pun mulai didominasi oleh aktifitas yang bersifat perburuan. Diawali dengan meniru anak-anak yang lebih besar, kemana-mana selalu membawa ketapel. Buruan utama kami adalah burung, segala jenis burung yang terlihat akan rame-rame dijadikan sasaran ketapel kami. Hampir setiap hari ada satu-dua ekor burung yang mati oleh setiap kelompok anak yang berburu di kebun-kebun, barongan (deretan rumpun bambu), atau di sepanjang jalan yang ditumbuhi pohon-pohon besar di sampingnya. Dan bukan hanya burung saja yang menjadi korban ketapel anak-anak, segala macam hewan-hewan liar yang dijumpai pun akan menjadi sasaran perburuan yang menyenangkan. Bukan untuk apa-apa tujuan perburuan anak-anak waktu itu, cuma sebagai kegiatan bermain dan adu ketangkasan sesama teman belaka. Karena guru mengaji kami pun telah mengajari untuk tidak memakan daging hewan yang mati bukan disembelih. Juga hewan yang terkena batu ketapel pun akan mati perlahan jika dipelihara.&lt;br /&gt;&amp;nbsp; Masuknya senapan angin yang mulai dimiliki oleh beberapa orang dewasa di dusun kami semakin meramaikan kebiasaan berburu. Di masa itu, aku pun akhirnya sempat mencoba membidik menggunakan senapan angin itu, meskipun seingatanku tak pernah ada hewan yang berhasil aku jatuhkan. Semakin hari semakin banyak saja anak-anak atau orang dewasa yang pulang dari berburu dengan membawa beberapa burung atau hewan mati di tentengan tangan mereka. Kegiatan berburu bukan hanya menggunakan ketapel atau senjata angin. Untuk mendapatkan binatang buruan dalam keadaan hidup untuk tujuan dipelihara, kami biasa menggunakan jebakan baik berupa perangkap di tanah maupun menggunakan pulut perekat yang dililitkan di ranting2  yang biasa dihinggapi oleh burung. Suatu hari, logikaku pun mengatakan, jika satu saja burung yang mati di tangan kami, jika di adalah seekor induk yang sedang mencari makan buat anak-anaknya, sebenarnya kami telah membunuh satu keluarga burung tersebut. Bisa dibayangkan berapa banyak burung di sekitar desaku yang mati setiap hari oleh perburuan kami.&lt;br /&gt;&amp;nbsp; Aktifitas perburuan sebenarnya bukan hanya telah membunuhi burung serta hewan-hewan liar di darat. Ikan-ikan dan udang di sungai-sungai pun tak luput menjadi terancam oleh anak-anak dan orang-orang dewasa. Jika sebelumnya anak-anak seusiaku hanya menggunakan ember dan tong untuk menguras, terkadang juga menggunakan kail berumpan cacing untuk mencari ikan, hal ini kemudian tergantikan dengan cara yang lebih instan dan lebih mudah menggunakan potasium atau kami menyebutnya 'sangkali' untuk mendapatkan ikan dalam jumlah yang lebih banyak. Dengan semakin mudahnya mendapatkan bahan kimia ini di beberapa toko di desa kami, semakin sering orang dewasa dan anak-anak mencari ikan di sungai-sungai. Ketika hujan besar, air di dam meluap dan mengaliri sungai-sungai kecil yang juga membawa serta ikan-ikan turun ke sungai kecil tersebut. Ketika air sungai kembali surut, di saat inilah kami biasa mencari ikan yang telah terbawa aliran air dengan menggunakan potasium. Cukup melarutkan beberapa butir bahan kimia tersebut ke dalam air dan diikuti dengan menggoyang-goyangkan airnya, tak lama kemudian ikan-ikan dan udang akan mabuk dan muncul ke permukaan. Dengan demikian, ikan dan udang mulai dari yang paling kecil hingga yang berukuran besar akan mudah ditangkap dengan tangan atau kalo, sejenis wadah sayur yang berlubang-lubang. Karena terlalu sering dipotasium, beberapa tahun kemudian mulai terasa berkurangnya ikan-ikan yang ada di sungai. Bukan cuma itu, potasium juga mengakibatkan tebing bibir sungai menjadi rapuh sehingga mudah runtuh. Akibatnya banyak lubang atau liang-liang di sungai yang selama ini menjadi sarang ikan untuk bertelur menjadi rusak. Bahkan potasium pun membunuh janin ikan yang masih dalam bentuk telur.&lt;br /&gt;&amp;nbsp; Bersama dengan maraknya penggunaan potasium, fenomena bahan kimia lain pun mulai muncul. Bermula dari cerita seorang petani dari desa tetangga yang mencuci tabung penyemprot yang masih berisi Tiodan di sungai setelah dignakan untuk membasmi belalang di sawah, ternyata tak lama kemudian bermunculan udang-udang yang mabuk dan mati ke permukaan air di sepanjang aliran sungai di bawahnya. Sejak saat itulah tiodan digunakan oleh orang-orang untuk mencari udang di sungai atau parit-parit. Penggunaan potasium dan tiodan seolah menjadi senjata pemusnah masal bagi ikan dan udang di sungai-sungai. Akibatnya ketika aku beranjak remaja, ikan dan udang pun jarang sekali dijumpai di sungai dan parit yang ada di sekitar desaku. Hingga akhirnya orang-orang di desaku harus mencari ikan dan udang ke sungai-sungai yang berada jauh di luar desaku dengan menggunakan potasium atau tiodan, karena ternyata masyarakat di luar desaku tidak banyak yang mencari ikan menggunakan bahan-bahan kimia tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kondisi Desaku Saat Ini&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp; Pemandangan desa tempat aku dilahirkan kini telah jauh berubah. Rumah-rumah penduduk tak lagi terbatas di dusun yang dulu terpagari oleh deretan rumpun bambu, kini bangunan rumah telah menyebar ke areal yang dulu adalah sawah dan tegalan. Rumah-rumah penduduk telah menyatu antar dusun. Beberapa pabrik telah berdiri mengeluarkan suara menderu, menambah bising di antara desingan suara motor dan mobil-mobil besar yang melintas. sebagian pabrik pun sedang dibangun di areal yang dulu menjadi tempat bermain kami. Sebuah kompleks perumahan telah berdiri dan dipenuhi oleh penghuninya, dulunya tempat itu salah satu lokasi di mana kami sering mengejar gemek di kala hujan. Jalanan aspal pun telah menyebar hingga ke lorong-lorong kampung, membelah kebun-kebun yang dulu kami jadikan tempat bermain di siang hari. Jika malam, semua terlihat terang benderang, namun tak terlihat anak-anak kecil yang terlihat bermain di jalanan atau sekedar berkumpul di halaman-halaman rumah, layaknya yang dulu biasa kami lakukan di malam hari. Hanya beberapa kumpulan anak-anak remaja dengan motornya yang nongkrong di pinggir jalan raya.&lt;br /&gt;&amp;nbsp; Tak ada lagi nyanyian burung2 di pagi hari, dan tak ada lagi lengkingan dari ribuan manyar yang pulang ke sarangnya di sore hari. Pun tak pernah terlihat lagi aneka rupa jenis burung yang terbang di pohon-pohon. Hanya burung gereja saja yang nampak semakin akrab dengan manusia, terbang mencari makan dan bermain di antara rumah penduduk.&lt;br /&gt;&amp;nbsp; Sungai-sungai terlihat kotor dan berair dangkal. Berbagai sampah plastik pembungkus dan kaleng-kaleng terlihat ikut mengalir bersama kotoran dari peternakan bebek hingga ke sawah-sawah yang masih tersisa. Tak pernah terlihat wader atau udang-udang di sungai-sungai. yang ada hanya ikan gatul (ikan kecil yang tak dikonsumsi oleh warga) dan terkadang juga ikan sepat yang dulu tak pernah ada di sungai-sungai ini, berenang di antara sampah dan sumpil (sejenis siput kecil dengan rumah cangkang panjang berwarna hitam). &lt;br /&gt;&amp;nbsp; Kasihan kalian anak-anak di desaku jaman sekarang. Kalian tak bisa lagi melihat burung-burung yang pernah hidup bebas di desa ini, atau mandi bersama rombongan ikan dan udang yang berenang di sungai yang jernih. Aku yakin kalian tak lagi mengenal apa dan bagaimana bentuk burung manyar, srapon, srigunting, atau jalak uret. Kalian pun hanya bisa menyaksikan tupai dari gambar teve atau kebun binatang. Aku pun tak pernah lagi melihat kalian membawa ketapel, karena memang tak ada lagi burung yang bisa diburu. Kicauan burung-burung pun hanya bisa kalian nikmati dari burung yang ada di sangkar, bahkan sebagian hanya kalian dengar dari ringtone hape.&lt;br /&gt;&amp;nbsp; Aku turut merasa bersalah terhadap semua ini. Akibat ulahku dan orang-orang tua kalian lah yang menyebabkan tak ada lagi nyanyian berbagai jenis burung di pepohonan, juga tak ada lagi ikan berenang bebas dan udang yang bersembunyi di balik daun dan bebatuan sungai dan parit-parit kecil di desa ini.&lt;br /&gt;&amp;nbsp; Salahkanlah kami, karena generasi kami lah yang telah membuat satwa-satwa itu lenyap dari desa ini. Salahkanlah kami, karena kami generasi pemusnah. Maafkan kami, yang tak bisa lagi mewariskan keindahan harmoni alam yang dulu kami nikmati. Aku hanya bisa menuliskan apa yang pernah aku nikmati di masa kecil dulu, supaya kalian tahu bahwa dulu di desa ini pernah ada kehidupan alam yang memanjakan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-2588179935412206476?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/2588179935412206476/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=2588179935412206476&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/2588179935412206476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/2588179935412206476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2010/10/aku-bagian-dari-generasi-pemusnah.html' title='Aku, Bagian dari Generasi Pemusnah (catatan dari masa kecil di desa)'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-167689890123750438</id><published>2010-10-07T23:03:00.004+08:00</published><updated>2010-10-12T12:51:23.037+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatera Barat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Danau Maninjau</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/TLPovyPa1OI/AAAAAAAAAfA/7CM7P6nf7eU/s1600/DSC00041.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/TLPovyPa1OI/AAAAAAAAAfA/7CM7P6nf7eU/s320/DSC00041.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5527017075351672034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/TK3rMuF4sYI/AAAAAAAAAew/7PYlYsBlh0w/s1600/maninjau.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/TK3rMuF4sYI/AAAAAAAAAew/7PYlYsBlh0w/s320/maninjau.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5525330921617142146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Danau Maninjau adalah sebuah danau vulkanik yg berada di ketinggian 461,50 meter dpl dan berada Kabupaten Agam, provinsi Sumatra Barat. Gempa 30 September 2010 telah mengoyak tebing-tebing yang mengelilingi danau ini. sebagian tebing-tebing curam yang memiliki tinggi antara 200-400 meter ini mengalami longsor sehingga selain mengakibatkan 3 kampung luluh lantak, juga membekaskan mosaic yang mirip cakaran raksasa di sepanjang tebing yang mengelilingi danau. Selain terkenal karena kemilau danau ini di kala pagi hari, danau maninjau juga terkenal karena ikan kerambahnya. Di danau ini juga terdapat ikan khas seperti rinuak (sejenis ikan teri sebesar biji padi) dan ikan bilih yang lebih mirip ikan wader namun lebih panjang.&lt;br /&gt;Dari kota Padang, danau ini dapat ditempuh dalam waktu 3 jam dengan jarak sekitar 140 km. Sementara jika kita dari Bukittinggi, hanya butuh waktu 1 jam dengan jarak 36 kilometer menuruni Kelok 44 yang. Jalur terbaik untuk menikmati danau ini adalah dari Bukittinggi, selain tidak terlalu jauh, sepanjang perjalanan kita bisa menikmati pemandangan khas dataran tinggi yang dihiasi sawah di perbukitan dan lembah serta perkampungan yang asri. Selain itu, dari Kelok 44 kita dapat menikmati danau maninjau secara keseluruhan. Tempat favorit untuk mengambil foto Danau Maninjau berada di kelok 36. Dari sini kita dapat mengambil gambar Danau Maninjau dengan latar depan sawah terasiring dan sebuah bangunan kecil beratap mirip rumah gadang.&lt;br /&gt;Berkeliling danau maninjau merupakan salah satu wisata yang bisa dinikmati dengan menyewa sepeda motor. Berkeliling danau ini membutuhkan waktu satu jam. Jika kita mulai mengelilingi danau dari pusat kampung Maninjau, kita bisa mengabil arah kiri dan kita akan menjumpai perkampungan yang masih didominasi bentuk rumah panggung khas maninjau dengan arsitektur kuno namun bukan rumah gadang, di Sungai Batang terdapat museum Buya Hamka, di sini juga terdapat shelter penampungan pengungsi longsor dari 3 desa di sekitar Maninjau. Namun setelah itu kita akan menyaksikan bekas reruntuhan longsor yang telah menghancurkan perkampungan warga di Pandan, Galapung, dan Batunanggai. Di ujunga danau, kita bisa beristirahat di Muko-muko, di sana terdapat PLTA Maninjau yang juga dijadikan tempat rekreasi oleh warga sekitar. Terakhir kita bisa menikmati keindahan Danau Maninjau mulai dari perpaduan tebing dan perbukitan, sawah, serta barisan pohon kelapa di pinggir danau mulai dari Koto Kaciak hingga Bayur. Di sekitar Maninjau kita bisa menyaksikan beberapa masjid dengan arsitektur yang khas dan menarik.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Banyak pilihan untuk menginap di Danau Maninjau. Kita bisa mendapatkan penginapan atau wisma murah mulai dari seratus ribuan yang banyak berada di sepanjang jalan tepian danau maninjau, terutama di sekitar perkampungan maninjau. Di sini banyak penginapan atau kafe sederhana yang menyediakan penyewaan sepeda bagi para turis untuk sekedar bersepeda di sepanjang jalan tepian danau. Di sekitar danau maninjau pun terdapat beberapa hotel yang menyediakan air panas dan air conditioner. Beberapa&lt;span style=""&gt;tempat penginapan atau hotel yang cukup nyaman untuk dijadikan tempat menginap antara lain penginapan Tan Direh yang bertarif 150 ribuan, atau hotel pasir panjang yang bertarif 300 ribuan. Jika menginginkan suasana resort yang berada di ketinggian dengan pemandangan Danau Maninjau di bawahnya, anda bisa menginap di Nuansa Maninjau Resort yang berada di atas kelok 44 dengan tarif kamar mulai 450 ribu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-167689890123750438?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/167689890123750438/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=167689890123750438&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/167689890123750438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/167689890123750438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2010/10/danau-maninjau.html' title='Danau Maninjau'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/TLPovyPa1OI/AAAAAAAAAfA/7CM7P6nf7eU/s72-c/DSC00041.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-5633420171281711770</id><published>2009-06-05T10:43:00.012+08:00</published><updated>2009-06-05T14:04:50.763+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Timor'/><title type='text'>Pulau Kera</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiiMvDMYsOI/AAAAAAAAAaw/1qSJ700q4qo/s1600-h/IMG_5446.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiiMvDMYsOI/AAAAAAAAAaw/1qSJ700q4qo/s320/IMG_5446.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343675697814089954" /&gt;&lt;/a&gt;Pulau Kera adalah pulau yang terletak di ambang Teluk Kupang. Pulau ini dapat dijangkau dengan menggunakan perahu nelayan selama kurang lebih satu jam. Dari pantai kupang, pulau ini terlihat seperti garis putih yang tertutup cendawan berwarna hijau gelap. Hal ini karena Pulau Kera adalah pulau pasir yang ditutupi rumput dan tanaman perdu. Luas Pulau Kera tidak dapat ditentukan secara tepat karena sangat tergantung pada pasang surut air laut. Namun menurut warga setempat pulau ini memiliki luas rata2 1,5 Km. &lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiiMaex8RzI/AAAAAAAAAao/E-_Zjr83Hh0/s320/IMG_5481.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343675344442115890" /&gt;Sebelum tentara Jepang memasuki wilayah ini, Pulau Kera diceritakan sebagai pulau kecil yang dipenuhi dengan pohon kelapa. Namun saat ini di pulau tersebut hanya terdapat tumbuhan perdu dan di sebagian tempat telah dipenuhi dengan pohon turi.  Untuk menjelajahi pulau ini kita bisa berjalan melalui jalan setapak berpasir yang membelah padang rumput selama 15 menit. Jika ingin mengelilingi pulau, cukup menyusuri tepian pantai yang berpasir putih dan lembut selama 30 menit dan kita akan menemui titik keberangkatan semula.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 222px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiiLwxa8qmI/AAAAAAAAAaY/_DENMziA854/s320/IMG_5500.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343674627891440226" /&gt;Menurut cerita penduduk kupang, hingga tahun 80-an Pulau Kera masih belum berpenghuni. Namun saat ini telah terdapat beberapa rumah penduduk nelayan yang berasal dari suku Bajo yang jumlahnya mencapai belasan serta beberapa gubuk peristirahatan di tepi pantai. Seluruh warga di pulau ini adalah nelayan dan petani rumput laut. Fasilitas umum yang ada di pulau ini hanyalah sebuah mushollah kecil serta sumur yang berair payau. Oleh karena itu hingga saat ini warga masih mengambil air tawar dari Kupang atau Semau untuk kebutuhan air minum. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 133px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiizRAjO4hI/AAAAAAAAAa4/VAdKVkRZGnQ/s200/IMG_5583.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343718062662017554" /&gt;Pemandangan kota kupang dari kejauhan dapat dinikmati dari pulau ini dengan mudah. Sore hingga malam hari adalah waktu yang tepat untuk menikmati suasana di Pulau Kera. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kita bisa menikmati senja sambil tiduran di pasir yang sangat halus dan bersih serta memandang matahari terbenam di ujung garis laut. Di malam hari kita bisa merasakan hembusan angin laut lepas disertai deru ombak di tengah kesunyian yang beraroma pasir dan rumput mampu menciptakan sensasi yang mungkin tidak ditemukan di tempat lain.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiiKRQapZQI/AAAAAAAAAaI/9ORR7ugFveA/s320/IMG_5524.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343672986944234754" /&gt;Jika ingin menelusuri pulau ini, sebaiknya kita menggunakan alas kaki. Meskipun tanahnya hanya berupa pasir, namun terdapat banyak duri-duri kecil yang berasal dari bunga rumput yang mengering. Namun jika anda datang ke Pulau Kera menggunakan perahu nelayan yang berukuran besar, sebaiknya telah memperhitungkan waktu kedatangan dan keberangkatan dengan tepat. Sebagai informasi, Pulau Kera adalah pulau pasir yang relatif landai dengan garis pantai yang sangat tergantung pada ketinggian air laut. Kapal nelayan yang relatif besar tidak akan bisa mendarat di bibir pantai di saat air surut, dan hanya bisa berlabuh jangkar di tempat yang jauhnya sekitar 50-100 meter dari bibir pantai terluar. Jadi, sebaiknya anda segera meninggalkan pulau tersebut sebelum air surut.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-5633420171281711770?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/5633420171281711770/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=5633420171281711770&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/5633420171281711770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/5633420171281711770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2009/06/pulau-kera.html' title='Pulau Kera'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiiMvDMYsOI/AAAAAAAAAaw/1qSJ700q4qo/s72-c/IMG_5446.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-3775605931269372188</id><published>2009-06-04T12:35:00.015+08:00</published><updated>2009-06-05T09:58:10.591+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koleksi Photo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Timor'/><title type='text'>Snorkling di Selat Semau</title><content type='html'>Di bawah ini adalah sebagian kecil dari makhluk laut yang sempat diabadikan dengan kamera biasa saat air surut di Selat Semau, 500 m sebelum Pelabuhan Tenau atau tepatnya seberang Gua Monyet Tenau - Kupang. Lokasi tersebut sangat mudah dijangkau dari Kota Kupang karena hanya berjarak 5 Km dari pusat kota Kupang.&lt;p&gt;Pemandangan bawah laut tersebut dapat dilihat dengan mudah bersnorkling saat laut surut. Berbagai jenis ikan hias yang bermain di indahnya terumbu karang dapat dijumpai hanya dengan berenang 10-50 meter dari bibir pantai mulai dari ikan badut (Clown Fish), berbagai type ikan Kepe-Kepe, berbagai ikan Keling (Wrasse fish), ikan Lepu Ayam (Scorpion Fish),  trigger kembang, berbagai bentuk Angle fish, butterfly fish / ikan bendera, serta jenis2 ikan karang permukaan lain. jika ingin melihat ikan dasar yang lebih besar atau berbagai jenis udang, perlu memberanikan diri untuk sedikit berenang ke tengah 50-100 meter dari pantai. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi para snorkler, saat terbaik untuk menikmati makhluk laut adalah saat air surut sedang yang biasa terjadi di pagi hari (07.00-09.00) atau sore hari (15.30-17.30). Hal lain yang bisa dinikmati di tempat ini adalah saat sore hari, dimana selepas bersnorkling kita bisa langsung menikmati sunset dibalik Pulau Semau. jika ingin menikmati berbagai ikan dan udang dasar, sebaiknya hal ini dilakukan saat air surut penuh (meting jauh) di pagi hari (09.00-10.00) yang hanya terjadi pada saat-saat tertentu. Pada saat tersebut, anda dapat berenang di spot-spot Posing (lembah dasar tempat ikan besar berkumpul) yang masih dapat ditembus oleh sinar matahari secara sempurna 2-3 meter dari permukaan air surut. Ikan-ikan yang bisa dijumpai di sini adalah berbagai jenis ikan konsumsi seperti kerapu, kakatua, ikan pari, lobster, bahkan cumi-cumi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiddcGhD1hI/AAAAAAAAAZg/6mz9LpJQZKY/s1600-h/Nembrala08+(125).JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 269px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiddcGhD1hI/AAAAAAAAAZg/6mz9LpJQZKY/s400/Nembrala08+(125).JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343342220265379346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/Sidcc6DwhqI/AAAAAAAAAZY/XS_Mr1leXsE/s1600-h/IMG_2195.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/Sidcc6DwhqI/AAAAAAAAAZY/XS_Mr1leXsE/s400/IMG_2195.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343341134589494946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SidbYq8aj3I/AAAAAAAAAZQ/gcZWEZ-5K5M/s1600-h/IMG_2193.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 256px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SidbYq8aj3I/AAAAAAAAAZQ/gcZWEZ-5K5M/s400/IMG_2193.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343339962301058930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SidXogoM2FI/AAAAAAAAAZI/Qgn1oqCR9A4/s1600-h/IMG_2214.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SidXogoM2FI/AAAAAAAAAZI/Qgn1oqCR9A4/s400/IMG_2214.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343335836363315282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SidRzi34aLI/AAAAAAAAAYo/WI5OAjnNxx8/s400/IMG_2215.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343329428874750130" /&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/Sih4-Gd_chI/AAAAAAAAAZo/1LKO_CQdExU/s400/IMG_2196.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343653966158721554" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/Sih6UkmktTI/AAAAAAAAAZw/BiqEkfNCRAg/s400/IMG_2182.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343655451716531506" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-3775605931269372188?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/3775605931269372188/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=3775605931269372188&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/3775605931269372188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/3775605931269372188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2009/06/snorkling-di-selat-semau.html' title='Snorkling di Selat Semau'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiddcGhD1hI/AAAAAAAAAZg/6mz9LpJQZKY/s72-c/Nembrala08+(125).JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-7789244201183919442</id><published>2009-06-02T12:03:00.009+08:00</published><updated>2009-06-04T16:57:52.570+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Timor'/><title type='text'>Foto Orang Kupang - Timor</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;Orang Kupang dikenal secara umum dengan karakter yang keras. Stigma ini dipertegas oleh bahasa dan dialek yang lebih banyak menggunakan nada-nada tinggi di akhir pengucapannya. Sebenarnya sulit mendefinisikan 'orang kupang' secara tepat, karena 'penduduk asli' kupang terdiri dari beberapa suku (yang katanya) asli yakni Timor, Rote, dan Sabu, yang biasa disebut Tirosa. &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Bapatua Adat&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiS9Dh24fjI/AAAAAAAAAYg/5prsSOm2rWk/s400/CIMG0061.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342602926294072882" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;Pengiris Tuak&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiS3C7En1II/AAAAAAAAAYY/BMwWLJ-al7g/s400/100_0090.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342596318812951682" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Rumah Ladang&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiS17VrAYGI/AAAAAAAAAYQ/hA7h_TOTnk8/s400/CIMG0201.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342595089002684514" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Tari Bena-Bena &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Welcome Dance to dish up sirih pinang&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiSs2gEcNiI/AAAAAAAAAYI/I--Lf2dhsGk/s400/IMG_5074.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342585110289724962" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Scarf for Pak Toni&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 321px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiSqCy-yOiI/AAAAAAAAAYA/dvuaFSDdZls/s400/IMG_5069.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342582022989822498" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-7789244201183919442?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/7789244201183919442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=7789244201183919442&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/7789244201183919442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/7789244201183919442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2009/06/people-of-timor.html' title='Foto Orang Kupang - Timor'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiS9Dh24fjI/AAAAAAAAAYg/5prsSOm2rWk/s72-c/CIMG0061.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-4124593915727367473</id><published>2009-06-01T15:28:00.013+08:00</published><updated>2009-06-03T16:06:43.059+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flores'/><title type='text'>Flores, the people and culture</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;Penjual Kopi Kelimutu&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Indigenous Coffee paddler at Kelimutu &lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 314px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiSfRUZAbPI/AAAAAAAAAXw/NeWaRQZpIXQ/s400/IMG_1368.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342570177848438002" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="center"&gt;Berdoa &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;(taken by Ndon Cam)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="center"&gt;A girl praying at Weru Island as a part of 'Prosesi Paskah Larantuka' &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 267px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiSdK5CcvTI/AAAAAAAAAXo/a4ZZgYLQ_zc/s400/IMG_0482.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342567868403596594" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Bis Kayu&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Public transportation carries people from villages to Maumere&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 326px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiSNG5UON6I/AAAAAAAAAXY/v_iA-IdSqEI/s400/Bis+Kayu.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342550207572621218" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Tarik Perahu -  Pante Sikka &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Local wisdom in daily mutual assistances to pull the wooden boat over the beach&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 307px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiOWoM4l_oI/AAAAAAAAAXQ/8vZTTuWPMmI/s400/Pante+Lela+(3).jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342279200389070466" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Nasi Beras Merah ( Sikka)&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Indegenous culinary for lunch&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 250px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiOUQS1tuaI/AAAAAAAAAXI/wA2te-ar-hQ/s400/Bola+Journey+008.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342276590647490978" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="center"&gt;Menjerang Benang&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Preparation before Waving&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 303px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiORlAfiJ7I/AAAAAAAAAXA/a-4EkKMSBe4/s400/Bola+Journey+001.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342273647964989362" /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-4124593915727367473?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/4124593915727367473/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=4124593915727367473&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/4124593915727367473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/4124593915727367473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2009/06/flores-people-and-culture.html' title='Flores, the people and culture'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiSfRUZAbPI/AAAAAAAAAXw/NeWaRQZpIXQ/s72-c/IMG_1368.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-1232094306192502359</id><published>2009-06-01T14:18:00.009+08:00</published><updated>2009-06-05T14:36:55.411+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koleksi Photo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Foto Nemberala Rote - Part II, Nov 2008</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiN9W4mpQxI/AAAAAAAAAW4/tyrYeShhlNg/s1600-h/Nembrala08+(274).JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiN9W4mpQxI/AAAAAAAAAW4/tyrYeShhlNg/s400/Nembrala08+(274).JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342251415096607506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiN81TOmrSI/AAAAAAAAAWw/yoHeWRlGeyE/s1600-h/Nembrala08+(88).JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiN81TOmrSI/AAAAAAAAAWw/yoHeWRlGeyE/s400/Nembrala08+(88).JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342250838127979810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiN7ZkWOpGI/AAAAAAAAAWo/tOovRSd9Yh8/s1600-h/Nembrala08+(173).JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiN7ZkWOpGI/AAAAAAAAAWo/tOovRSd9Yh8/s400/Nembrala08+(173).JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342249262175396962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiN3hoY4I5I/AAAAAAAAAWY/RmL7b_B9HXE/s1600-h/Nembrala08+(169).JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiN3hoY4I5I/AAAAAAAAAWY/RmL7b_B9HXE/s400/Nembrala08+(169).JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342245002652689298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-1232094306192502359?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/1232094306192502359/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=1232094306192502359&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/1232094306192502359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/1232094306192502359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2009/06/foto-nemberala-rote-part-ii.html' title='Foto Nemberala Rote - Part II, Nov 2008'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SiN9W4mpQxI/AAAAAAAAAW4/tyrYeShhlNg/s72-c/Nembrala08+(274).JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-4251331127378285045</id><published>2008-10-27T12:14:00.004+08:00</published><updated>2008-11-06T13:06:04.178+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koleksi Photo'/><title type='text'>Wonderful Moment</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SQVFFNEe_LI/AAAAAAAAAVU/DbtGgVUbeVA/s1600-h/IMG_6618.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261687695362423986" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SQVFFNEe_LI/AAAAAAAAAVU/DbtGgVUbeVA/s320/IMG_6618.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Meskipun tidak jadi ke Rote lagi karna ketinggalan kapal.... tapi tetap menikmati waktu yang ada, bersama..&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SQVFEWGeecI/AAAAAAAAAVM/kvekOf_zgKs/s1600-h/IMG_6708.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261687680606828994" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SQVFEWGeecI/AAAAAAAAAVM/kvekOf_zgKs/s320/IMG_6708.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SQVFEbFiNyI/AAAAAAAAAVE/xNq4eGgSlis/s1600-h/IMG_6576.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261687681945057058" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 234px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SQVFEbFiNyI/AAAAAAAAAVE/xNq4eGgSlis/s320/IMG_6576.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SQVFD-m-f7I/AAAAAAAAAU8/0PCfACGkLu8/s1600-h/IMG_6743.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261687674300694450" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SQVFD-m-f7I/AAAAAAAAAU8/0PCfACGkLu8/s320/IMG_6743.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-4251331127378285045?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/4251331127378285045/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=4251331127378285045&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/4251331127378285045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/4251331127378285045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2008/10/wonderful-moment.html' title='Wonderful Moment'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_MS-V9RpGglc/SQVFFNEe_LI/AAAAAAAAAVU/DbtGgVUbeVA/s72-c/IMG_6618.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-7260821021730137699</id><published>2008-07-09T10:53:00.010+08:00</published><updated>2008-07-09T12:12:17.810+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan kucel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='On the Job'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Timor'/><title type='text'>Team Building StC Kupang</title><content type='html'>&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ21u4hYdI/AAAAAAAAANo/P0s_10cqTRM/s1600-h/IMG_0846.JPG"&gt;&lt;img src="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ21u4hYdI/AAAAAAAAANo/P0s_10cqTRM/s400/IMG_0846.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220858164775313874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;Setelah lama menjadi bahan perdebatan, akhirnya kantor menyetujui untuk menyelenggarakan acara team building selama sehari penuh. Padahal sebelumnya hanya diberikan waktu setengah hari, dan semua staf Kupang menolaknya. &lt;br/&gt;Tanggal 27 Juni jam 9.00 pagi seluruh rombongan yang merupakan all staff StC Kupang (tanpa 2 Bos Bule..)  berangkat dari kantor dengan menggunakan innova dan bis Damri. Setengah jam kemudian kita sudah sampai di lokasi, tempat wisata Air Terjun Oenesu yang berlokasi di arah Kupang Barat. Setelah menurunkan barang2 bawaan dari mobil dan menentukan lokasi buat base, masing2 orang langsung menjalankan tugasnya. Imsak n Daniel menyiapkan segala perlengkapan, Tasman dkk kebagian menyiapkan dan memandu acara team building, sedangkan me n Xabi langsung menyiapkan tempat barbeque. &lt;br/&gt;&lt;img src="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ0NJiJFuI/AAAAAAAAANI/w2lW8Wi5v-g/s200/CIMG0046.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220855268531312354" /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;Acara team building pertama adalah berbaris di atas balok berdasarkan urutan usia. Awalnya aku kira tidak akan bisa berpindah posisi dengan tetap berdiri di atas sebatang balok yang tidak stabil, tapi ternyata dengan strategi, usaha keras, dan kerjasama kita bisa melakukan dengan sukses. Acara kedua adalah permainan bola tangan, kegiatan ini layaknya permainan softbol, tapi sayangnya aku tidak bisa ikut karena harus mempersiapkan ikan yang akan dibakar. Dan setelah lelah dengan permainan bola tangan dan beristirahat sejenak, acara berikutnya adalah pembakaran!. Semua orang berpartisipasi dalam acara yang satu ini, ada yang sibuk mengipasi bara, ada yang sok ngatur posisi besi pemanggang, ada juga yang semangat mengoles bumbu yang aku buat malam sebelumnya. Bu Yuli pun akhirnya menangis, bukan karena sedih, tapi tak tahan bermandikan asap panggangan. Sambil menunggu ikan dan ayam rampung dipanggang, para pejantan mengadakan pertandingan sepak bola. Ternyata permainan ini membunuh kami... lama tidak pernah berolahraga terutama sepakbola, kami berpacu dengan detak jantung yang nyaris pecah!. &lt;br/&gt;Jam 11.30, acara yang paling ditunggu semua orang telah siap. Santap siang ikan dan ayam bakar!.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Terpal dibentang, 4 ikan bakar berukuran jumbo, 3 ayam bakar setengah gosong, lalapan, sambal kacang kecap dan sambal tomat, satu box minuman dingin berbagai jenis, semua telah siap di atas terpal. Tanpa dikomando semua orang langsung menyerbu ke tengah, dan yang paling laris adalah ikan bakar plus sambal. Sayangnya aku tidak bisa menikmati limpahan sajian ikan bakar ini dengan sempurna. Sisa-sisa kelelahan dan jantung yang belum berdetak stabil membuat selera makanku berkurang. Tapi meski begitu, akhirnya aku pun larut dalam kenikmatan santap siang ini.&lt;br/&gt;Ternyata usahaku bersama om Xabi semalam tidak sia-sia, banyak pujian untuk sambal dan bumbu ikan buatanku. Padahal aku sempat panik setelah experimen sambal yang diblender aku anggap gagal total karena penampilannya lebih mirip sambal bakso. Tapi ternyata rasanya tidak jauh berbeda dengan sambal uleg, dan tidak ada yang mengeluh dengan sambalnya.&lt;br/&gt;Usai santap siang, semua terlihat kelelahan, lelah karena rakus alias kekenyangan. Acara berikutnya adalah turun ke air terjun.&lt;/span&gt;&lt;img src="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ6HaSiLLI/AAAAAAAAAOA/xOYtAhorH6w/s200/DSCN2515.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220861767019801778" /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;img src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ5oz4dO_I/AAAAAAAAAN4/Wzjm8aVoh7I/s200/CIMG0083.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220861241313803250" /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Diawali dengan permainan menyumbat galon bocor. Ternyata kegiatan ini memicu acara seru berikutnya, mandi!. Karena banyak yang terlanjur basah akibat bocoran air dari galon, maka satu per satu teman2 nyebur ke air. Sebagian hanya bermain di antara aliran air terjun. Acara ini cukup seru karena semua orang mendadak bertingkah aneh (di luar watak dan kebiasaan di kantor), tidak beda dengan anak-anak remaja (padahal banyak yang sudah punya anak berusia remaja), bahkan narsis semua. &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ternyata kegilaan kami berhasil mengusir beberapa kelompok anak remaja yang sebelumnya menguasai air terjun, mungkin mereka takut ketularan tua!. Jadilah air terjun Oenesu milik StC-Kupang Team. &lt;br/&gt;Puas dengan mandi, kami kembali lagi ke base semula untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum usai yakni menghabiskan sisa-sisa ikan bakar dan kawan-kawannya, termasuk pisang bakar yang sebelumnya tak tersentuh. Kali ini ada sebagian teman yang membeli minuman beralkohol, jadilah folk party ala orang NTT. Duduk melingkar ditemani minuman keras, daging, ikan bakar, gitar, dan gelas pun berputar. Aku tidak ikut di acara itu, aku memilih bergabung dengan Ma’Susana dkk (ini kan hari Jum’at, mestinya aku tadi ke Mesjid ya...) astaghfirullah.&lt;br/&gt;Setelah semua menu sajian ludes kecuali cold softdrink, Tasman-Tanti memfasilitasi kami dalam acara kereta buta. Mata kami ditutup dan harus berjalan mengikuti alur yang disediakan dipandu oleh seorang pemimpin. &lt;/span&gt;&lt;img src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ0NIeAlkI/AAAAAAAAANQ/6RYEhi2tqC4/s200/CIMG0149.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220855268245542466" /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bu Yuli sukses memandu kelompokku, sementara om Is harus kehilangan sebagian gerbong yang tertabrak kelompok kami. Acara dilanjutkan dengan permainan yang klasik, mengisi bulpen dalam botol. Permainan ini terbilang kurang seru, Cuma bermakna kerjasama dan kekompakan. &lt;/span&gt;&lt;img src="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQyIAkV7cI/AAAAAAAAAM4/PBmGMPB-qQM/s200/IMG_0840.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220852981202021826" /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Acara terakhir adalah refleksi bersama dan joget Ja’i dengan menggunakan musik dari tape bis Damri.&lt;br/&gt;Acara yang cukup sederhana dan singkat ini telah mampu mempersatukan kami sebagai satu team. Bahkan on Nand mengatakan, ”Su delapan taon be kerja di StC, tapi baru sakarang be rasa merdeka”. Ya, semua orang terlihat puas dan bergembira selama seharian ini. Namun sayangnya acara ini juga bagian dari acara perpisahan dengan seorang anggota team, Imsak yang sebentar lagi akan mengakhiri masa kerjanya di Kupang. &lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;img src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQvnkVyPgI/AAAAAAAAAMo/DnCi-gpoadI/s200/P6270299.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220850224845700610" /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan akhirnya, terima kasih untuk Ibu Karin Johnson. Atas kehadiran beliau sebagai Acting PM di Kupang yang kemudian memberi approval acara ini dilaksanakan selama sehari penuh, kami bisa menyelenggarakan acara team building ini.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-7260821021730137699?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/7260821021730137699/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=7260821021730137699&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/7260821021730137699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/7260821021730137699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2008/07/setelah-lama-menjadi-bahan-perdebatan.html' title='Team Building StC Kupang'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ21u4hYdI/AAAAAAAAANo/P0s_10cqTRM/s72-c/IMG_0846.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-6666510836512816166</id><published>2008-05-06T09:51:00.003+08:00</published><updated>2008-05-06T10:40:46.082+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan kucel'/><title type='text'>Complicated</title><content type='html'>Orang bijak bilang ;  ”Orang hidup itu pasti pernah berbuat salah. Semua orang pernah jatuh, tapi sebodoh-bodohnya manusia adalah dia yang jatuh di lubang yang sama”.&lt;br /&gt;Itu adalah perkataan orang bijak, karena aku bukan orang bijak, maka aku tidak berani berkata apa-apa...???!!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mungkin catatan ini akan menjadi bahan refleksi hidupku ketika kubaca lagi nanti, mungkin juga hanya menjadi bahan lelucon bagi anak cucuku kelak..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku gak mau kamu nelpon hanya untuk bicara yang tidak berbobot”&lt;br /&gt;”Gak berbobot gimana? Aku kan mau tahu kabarmu”&lt;br /&gt;”Kamu kayak anak SD lho, bego gitu, berapa sih usiamu? Sudah tua kan?”&lt;br /&gt;”maksudmu”&lt;br /&gt;”Aku bukan orang yang goblok, yang pura2 bersikap ga peduli, seolah tidak pernah ada apa2, aku ga mau berjalan tanpa arah”&lt;br /&gt;Seperti biasanya, tiba2 aku menjadi bodoh, segoblok yang dia katakan. Aku tidak bisa berkata-kata. Tapi akhirnya pecah juga kebuntuan itu,&lt;br /&gt;”Aku sudah mencoba mencari celah itu, tapi sepertinya tidak ada, Aku tidak dibesarkan di lingkungan yang memungkinkan aku jadi pemberontak”&lt;br /&gt;”pemberontak? Bukan pemberontak, tapi kita hanya berani memutuskan hidup kita sendiri”&lt;br /&gt;Ttttiiiitttt pulsaku habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu banyak yang terlintas, terlalu banyak kenangan.&lt;br /&gt;Terlalu dalam jurang yang ada..&lt;br /&gt;Tidak ada yang bisa menjadi jembatan, menurut pandanganku yang picik dan naif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kami mencoba melompat, tentu akan terjatuh ke dasar jurang. Ada dua kemungkinan, kami akan hancur berantakan di dasar dan musnah, atau kami akan terjatuh di dasar air jurang dan selamat, tapi kemudian kami tetap harus mendaki terjalnya bibir jurang itu...bisa saja salah satu dari kami akan jatuh lagi.&lt;br /&gt;Tiba2 ketakutan itu datang lagi. Dalam ketakutan itu aku lebih menggunakan logika daripada perasaan.&lt;br /&gt;Dan dia benar, kami tidak bisa hanya berdiri terus di tepi jurang..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Then I have to make decision, a very big decision!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tinggalkan jurang itu dan mencari jalan pulang… jalan lain yang lebih mudah, meski harus membawa lagi hati yang telah luluh lantak, meninggalkan yg aku sayangi. Tapi aku yakini jalan ini yang lebih baik.&lt;br /&gt;Aku tengah melakonkan tokoh seorang Pengecut,&lt;br /&gt;Lebih cocok disebut Pecundang..Aku benci lakon ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-6666510836512816166?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/6666510836512816166/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=6666510836512816166&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/6666510836512816166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/6666510836512816166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2008/05/complicated.html' title='Complicated'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-8402843473448251612</id><published>2008-04-30T10:36:00.004+08:00</published><updated>2011-11-25T14:54:00.552+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Nasib Pendidikan di Pedalaman</title><content type='html'>Kondisi Pendidikan di Indonesia Yang Masih Timpang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kondisi pendidikan di Indonesia saat ini, sulit untuk membuat gambaran umum untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya. Saat ini masyarakat sedang ramai-ramainya membicarakan Ujian Nasional (UN) yang sedang berlangsung. Terdapat dua pendapat umum, yakni masyarakat yang mendukung dengan alasan untuk meningkatkan standar pendidikan nasional, dan masyarakat yang menolak dengan alasan ketidaksiapan dan kekhawatiran dari para murid, orang tua, serta guru sendiri.&lt;br /&gt;Sebenarnya yang perlu dilihat adalah sampai sejauh mana peran pemerintah dan masyarakat dalam menyediakan pendidikan yang berkualitas kepada semua warga negara. Jika sekilas kita melihatnya pada sekolah-sekolah unggulan yang ada di kota, mungkin kita bisa berbangga dengan kondisi pendidikan kita saat ini. Apalagi jika yang kita lihat adalah sekolah-sekolah elite seperti Pelita Harapan, Al Azhar, atau BPK Penabur. Sekolah-sekolah tersebut sudah sangat mapan dalam hal fasilitas dan kualitas. Para murid dan guru dari sekolah sekolah elit selalu dimanja dengan fasilitas pendidikan yang lengkap dan mutakhir. Segala proses pembelajaran dijalankan dengan nyaman dan mudah sehingga dapat menghasilkan keluaran yang berkualitas. Namun perlu dianalisa lebih jauh, seberapa besar persentase anak negeri ini yang bisa mendapat pendidikan berkualitas seperti di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak yang mengetahui atau peduli dengan nasib pendidikan di wilayah-wilayah pedalaman Nusantara. &lt;img alt="" border="0" height="444" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197117462218237346" src="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SB_ey99_ZaI/AAAAAAAAAMY/lphTUB-NU7U/s640/S6001653.JPG" width="640" /&gt;Banyak anak di pedalaman Nusantara yang bernasib malang karena tak dapat memperoleh pendidikan yang bermutu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Melihat kondisi pendidikan di wilayah pedalaman NTT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa perkampungan atau dusun di pedalaman NTT, anak-anak harus berjalan kaki 1-2 jam sejauh hingga 6 Km melintasi hutan dan menuruni bukit untuk mendapatkan pendidikan di sekolah setiap hari. Pengorbanan anak-anak tersebut terkadang sia-sia karena ketika sampai di sekolah, tak ada guru yang siap mengajar. Tak jarang setelah berlelah-lelah berjalan kaki dari rumah tanpa sarapan pagi, si anak harus kena marah atau bahkan hukuman fisik dari guru karena terlambat masuk kelas. Dan akibatnya si anak enggan ke sekolah keesokan harinya dan kemudian dia memilih untuk tidak ke sekolah sama sekali selamanya. Potret umum siswa di pedalaman memang sangat memprihatinkan, murid2 ke sekolah hanya membawa 1-2 buku tulis dan 1 bulpen/pensil yang disimpan dalam tas kresek, bersandal jepit atau malah telanjang kaki.&lt;br /&gt;Tidak terbiasa berbicara pada orang dewasa, pemalu dan tidak percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib para guru di pedalaman pun tak kalah memprihatinkan, terutama para guru honorer yang kebanyakan honor komite. Para guru tersebut banyak yang harus mengajar 2-3 kelas sekaligus. Hal ini karena kekurangan tenaga guru di sekolah pedalaman. Guru yang hanya bergaji 100-300 ribu sebulan itu banyak yang dipaksa bekerja ekstra keras bahkan terdapat ‘tuntutan psikologis’ untuk bekerja lebih besar daripada guru PNS karena status tidak tetap sebagai guru honorer lebih rentan daripada guru berstatus PNS yang meskipun sebulan tak mengajar di sekolah pun masih akan tetap menerima gaji. Di beberapa sekolah yang penulis temui baik di wilayah Sikka maupun di Kabupaten Kupang, hanya ada 1 atau 2 guru PNS termasuk kepala sekolah di satu sekolah. Dan khusus untuk Kabupaten Kupang, biasanya salah satu guru PNS tersebut akan ditugaskan sebagai guru bendahara gaji yang harus mengurus gaji di ibu kota Kabupaten setiap bulan. Sehingga praktis yang bersangkutan dibebastugaskan dari KBM di kelas. Dengan kondisi demikian, apakah masih mungkin jika menuntut setiap guru, termasuk para guru honorer untuk menyediakan pendidikan yang berkualitas bagi siswanya? Apakah manusiawi jka kita memaksa semua guru tersebut untuk mempersiapkan syllabus dan RPP dengan baik, sedangkan mereka pun harus melakukan pekerjaan lain untuk dapat bertahan hidup di desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sekolah SLTP terbuka di Desa Nunsaen di Kabupaten Kupang, meskipun jumlah murid cukup lumayan, namun hingga kini mereka hanya diajar oleh guru2 SD. Bukan guru SLTP. Dan yang lebih memprihatinkan adalah para murid tersebut harus belajar bahasa inggris tanpa ada guru Bahasa Inggris, hanya melalui buku karena tak ada guru yang bisa berbahasa inggris. Para murid menjadi kebingungan ketika ada bule datang berkunjung mengajak conversation.....&lt;br /&gt;Entah bagaimana nantinya jika para murid tersebut harus memenuhi standar kelulusan UN untuk materi Bahasa Inggris.. dan kemudian jika nantinya mereka tidak lulus, maka pemerintah akan berdalih bahwa kesalahan ada pada murid yang tidak belajar dan mempersiapkan diri, atau pada sekolah yang tidak becus mempersiapkan muridnya dalam UN alih-alih melihat faktor penyebabnya secara nyata. Pemerintah hanya bisa menuntut murid dan semua sekolah untuk memenuhi standar yang ditetapkan tanpa memenuhi tanggungjawabnya untuk menyediakan pendidikan yang berkualitas, termasuk menyediakan tenaga guru yang berkualitas secara merata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korelasi Pendidikan dan Kemiskinan Saat Ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika menilik pada teori korelasi investasi pendidikan dengan tingkat kesejahteraan, di mana setiap tingkat investasi pada pendidikan akan menaikkan beberapa tingkat kesejahteraan. Maka bisa dimaklumi jika kesenjangan antara keluarga miskin dan keluarga kaya akan tetap lebar, bahkan semakin melebar.&lt;br /&gt;Semakin tinggi kualitas pendidikan, semakin besar peluang mengakses jalan kesuksesan hidup.  Imej pendidikan berkualitas biasanya dihasilkan dari sekolah/universitas bonafid (ternama). Semakin bonafid, maka semakin mahal biaya pendidikannya, semakin jelas siapa yang bisa mengakses pendidikan berkualitas tersebut, hanya anak2 dari keluarga kaya. Dan saat ini banyak lowongan pekerjaan elite yang hanya mau menerima lulusan dari sekolah/universitas yang sudah ternama tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika benar bahwa pendidikan yang berkualitas memberi peluang yang lebih besar untuk meraih kesuksesan hidup/ lebih mudah mendapat pekerjaan2 dengan penghasilan tinggi... maka... lebih jelas bahwa ternyata sistem pendidikan dan fenomena pendidikan akan terus melestarikan tradisi menjadi kaya bagi si kaya dan juga tradisi miskin bagi si miskin... maka bersyukurlah bagi mereka yang dilahirkan di kota dari keluarga kaya yang bisa mengakses pendidikan berkualitas dengan mudah, karena hal itu merupakan salah satu jaminan bahwa masa depan cerah, dan kasihan bagi mereka yang miskin di pedalaman yang tak pernah bisa mengakses pendidikan berkualitas dan bersiap untuk tetap menjadi miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-8402843473448251612?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/8402843473448251612/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=8402843473448251612&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/8402843473448251612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/8402843473448251612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2008/04/nasib-pendidikan-di-pedalaman.html' title='Nasib Pendidikan di Pedalaman'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SB_ey99_ZaI/AAAAAAAAAMY/lphTUB-NU7U/s72-c/S6001653.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-4821000636815655442</id><published>2008-04-25T16:02:00.005+08:00</published><updated>2008-05-09T15:08:56.311+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koleksi Photo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Timor'/><title type='text'>Alam Kupang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SBGYLt9_ZWI/AAAAAAAAAL4/zGNUuCLeFgo/s1600-h/kelapa+satu.jpg"&gt;&lt;img src="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SBGYLt9_ZWI/AAAAAAAAAL4/zGNUuCLeFgo/s400/kelapa+satu.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5193099172420478306" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;Hijau rumput&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SBGYL99_ZXI/AAAAAAAAAMA/9Zd0AJRk9fk/s1600-h/CIMG0395.JPG"&gt;&lt;img src="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SBGYL99_ZXI/AAAAAAAAAMA/9Zd0AJRk9fk/s400/CIMG0395.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5193099176715445618" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;Pohon Putih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SBGYMN9_ZYI/AAAAAAAAAMI/G9ru0AAMiig/s1600-h/CIMG0638.JPG"&gt;&lt;img src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SBGYMN9_ZYI/AAAAAAAAAMI/G9ru0AAMiig/s400/CIMG0638.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5193099181010412930" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;Marmer Fatuleu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SBGYMN9_ZZI/AAAAAAAAAMQ/w0Gz8ZdGEyE/s1600-h/Tablolong+(4).JPG"&gt;&lt;img src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SBGYMN9_ZZI/AAAAAAAAAMQ/w0Gz8ZdGEyE/s400/Tablolong+(4).JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5193099181010412946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pasir Tablolong&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-4821000636815655442?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/4821000636815655442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=4821000636815655442&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/4821000636815655442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/4821000636815655442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2008/04/alam-kupang.html' title='Alam Kupang'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SBGYLt9_ZWI/AAAAAAAAAL4/zGNUuCLeFgo/s72-c/kelapa+satu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-916372304947392060</id><published>2008-04-10T10:40:00.003+08:00</published><updated>2010-10-26T12:13:38.255+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan kucel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flores'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='On the Job'/><title type='text'>Pengalaman Bersama Masyarakat Sikka, Catatan Pengalaman Sebagai Pendamping Masyarakat</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tulisan ini adalah finalis lomba penulisan di PFPM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menjadi CTA, Menjadi Fasilitator Masyarakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tiga belas November 2003, hari yang bersejarah bagiku. Hari pertama aku masuk dalam dunia pemberdayaan masyarakat dengan bergabung sebagai staf Plan International (Plan), sebuah lembaga non profit internasional yang peduli dan bekerja untuk kepentingan anak-anak. Lembaga ini sudah cukup di kenal di masyarakat, khususnya di wilayah NTT. Aku ditempatkan di Program Unit Sikka dengan posisi awal sebagai CTA (Community Transformation Agent). Di akhir masa orientasi baru aku ketahui ternyata CTA  adalah petugas lapangan yang berperan sebagai fasilitator masyarakat dan harus tinggal di tengah masyarakat dampingan. Diilihat dari topografinya, Program Unit Sikka merupakan program unit yang memiliki wilayah dampingan terberat dibandingkan program unit lain di Indonesia.&lt;br /&gt;Masyarakat asli di Kabupaten Sikka terdiri dari tiga suku etnis besar yakni Sikka, Lio, dan TanaAi. Plan bekerja di wilayah yang dihuni oleh suku Lio dan TanaAi, dua suku yang oleh kebanyakan masyarakat di Kabupaten Sikka dianggap lebih tertinggal dibandingkan dengan suku Sikka yang memang banyak tinggal di Kota Maumere sebagai ibukota Kabupaten Sikka. Suku Lio menempati wilayah bagian barat Kabupaten Sikka yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Ende. Sedangkan suku TanaAi menempati wilayah timur yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Flores Timur.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sebuah Dunia Baru Yang Membuatku Merasa Terasing&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah melalui masa orientasi, aku ditempatkan di tiga desa yang berada di wilayah Lio yakni Desa Renggarasi, Desa Bu Watuweti, dan Desa Loke. Desa Renggarasi sebagian wilayahnya berada di bagian lembah sehingga dapat dijangkau dengan motor sebagai kendaraan utamaku. Sedangkan Desa Loke dan Desa Bu Watuweti seluruh wilayahnya berada di atas perbukitan, sehingga untuk menjangkau perkampungannya harus ditempuh berjam-jam dengan jalan kaki mendaki bukit melalui jalan setapak.&lt;br /&gt;Aku merasa seperti orang asing yang kebingungan saat pertama kali turun ke desa dampingan sendirian. Sebelumnya aku tidak pernah mengenal dunia LSM dan pemberdayaan masyarakat. Aku juga selalu tidak percaya diri saat harus berbicara di depan orang banyak, apalagi dengan penampilan fisik yang jawa asli terlihat berbeda dengan orang kebanyakan di desa dampinganku. &lt;br /&gt;Pembekalan semasa orientasi terasa belum cukup untuk menghadapi masyarakat dengan berbagai atribut sosialnya yang sangat jauh berbeda dari latar belakang sosialku. Hal pertama yang aku lakukan ketika pertama kali bertugas di desa dampinganku adalah menemui dua orang penting yang ada di masyarakat sekaligus mengantarkan surat penugasan. Kedua tokoh tersebut adalah kepala desa sebagai pemimpin pemerintahan desa, serta pastor paroki sebagai pemimpin keagamaan tingkat paroki yang wilayah pelayanannya meliputi beberapa desa. Kesan pertama ketika menemui para kepala desa hampir sama dengan kesan yang diberikan oleh masyarakat pada umumnya yang aku temui sewaktu orientasi lapangan, mereka menunjukkan rasa hormat yang kurang tulus dan dipaksakan, rasa hormat yang diberikan karena aku adalah tamu dari luar. Kesan yang lebih kuat adalah perasaan skeptis dan apriori terhadap lembaga kami. Aku bisa memahami hal itu karena selama 4  tahun keberadaan Plan di wilayah ini hampir tidak ada tanda-tanda kedekatan antara lembaga dan masyarakat. Hal ini mungkin karena ketiadaan staf lapangan (CTA) sebelumnya, melainkan Plan bekerja melalui mitra-mitranya yakni sejumlah LSM lokal. Bersyukur akhirnya setelah mendengar penjelasan panjang lebar mengenai perubahan pendekatan Plan dengan menempatkan CTA sebagai fasilitator di desa, akhirnya para kepala desa bisa memahami dan menyambut antusias keberadaanku di desanya sebagai CTA. Bahkan mereka selalu menawarkan rumahnya sebagai tempat menginap. &lt;br /&gt;Paroki yang melayani umat Katholik di wilayah desa dampinganku adalah Paroki Wolofeo yang terletak di pusat desa Renggarasi. Berbeda dengan para kepala desa, Rm. Arnold yang memimpin Paroki Wolofeo memberikan sikap yang cukup ramah dan terbuka saat pertama aku menemui beliau. Aku diterima dengan penuh kehangatan tanpa memandang perbedaan agama dan asal usul. Alasan yang aku tangkap dari penejalasan Rm. Arnold adalah bahwa aku dianggap sebagai sesama pelayan masyarakat hanya dengan bidang yang berbeda dengan beliau. Rm. Arnold juga berharap besar terhadap perubahan pendekatan dari Plan akan dapat memfasilitasi perubahan di masyarakat menjadi lebih baik. Sikap dan penerimaan dari pihak paroki ini menjadi semacam doping bagi semangatku yang sudah terlanjur turun sejak awal dalam menghadapi berbagai tantangan pekerjaan sebagai seorang CTA. &lt;br /&gt;Langkah selanjutnya yang aku lakukan adalah mulai mensosialisasikan diri dan lembaga serta perubahannya kepada warga desa. Pintu masuk yang aku gunakan adalah mendekati kepala dusun atau ketua RW. Aku tidak membuat pertemuan-pertemuan khusus melainkan hanya melakukan pertemuan informal di beberapa rumah yang biasanya dihadiri oleh warga sekitar rumah tersebut. Pada beberapa pertemuan awal warga masih menunjukkan sikap apriori meskipun aku sudah menjelaskan panjang lebar tentang apa itu CTA dan peranannya sebagai bentuk perubahan pendekatan dari lembagaku. Melihat kondisi demikian maka pada pertemuan berikutnya aku mulai dengan lebih banyak mendengar keluhan-keluhan mereka baik keluhan tentang lembaga maupun keluhan tentang kemiskinan mereka. Dari keluhan tersebut kemudian aku selalu menyampaikan bahwa jika warga di sini mau berkelompok tani maka saya akan memfasilitasi bantuan karitatif dari lembaga sebagai jawabannya. Pernyataan ‘janji’ tersebut sebenarnya beresiko dan agak tabu menurut panduan yang diberikan oleh para seniorku saat orientasi sebelumnya, namun aku tidak punya cara lain untuk meyakinkan warga tentang keberadaanku di desa tersebut. &lt;br /&gt;Aku merasa termotivasi untuk terus mensosialisasikan diri dan lembagaku kepada semua warga terutama pada keluarga dampingan. Meskipun terkadang semangat itu nyaris pupus ketika harus mendaki dan menuruni bukit untuk dapat mencapai satu perkampungan. Terdapat beberapa kampung yang harus ditempuh dalam waktu dua hari dari kota Maumere, karena setelah menempuh perjalanan motor aku harus mendaki bukit mencapai pusat desa dan beristirahat semalam di kampung besar sebagai pusat desa, baru keesokan harinya melanjutkan pendakian ke kampung yang dituju. &lt;br /&gt;Berita keberadaanku sepertinya begitu cepat menyebar, mungkin dari perbincangan-perbincangan warga saat Pasar Lambalena yang diadakaan setiap hari Selasa di desa Renggarasi. Setiap kedatanganku selalu disambut dengan hangat dan antusias. Aku sering merasa kelelahan ketika harus melayani obrolan dengan warga saat aku berada di suatu kampung yang baru aku datangi. Dan ketika aku menanyakan lokasi salah satu kampung lain, selalu saja ada orang yang mengajukan diri mengantarkanku dengan sukarela. Situasi yang sangat berbeda dengan yang aku temui saat pertama turun ke desa saat orientasi. Hal tersebut yang memotivasi diriku untuk terus melanjutkan pekerjaan sebagai CTA.&lt;br /&gt;Sebenarnya aku mulai merasa khawatir saat melihat antusiasme warga terhadap kedatanganku, karena antusiasme tersebut sebenarnya hanyalah ekspresi dari tuntutan mereka terhadap bukti keberadaan dan perubahan lembaga seperti yang sudah aku sampaikan sebelumnya. Di lain pihak aku sadar bahwa untuk memenuhi tuntutan mereka dan membuktikan ‘janji’ku tersebut tidaklah mudah, mengingat rumitnya prosedur untuk penyaluran program, apalagi yang bersifat karitatif. Hal demikian berarti banyak yang harus dipersiapkan menyangkut kapasitas warga untuk dapat memenuhi tuntutan prosedur tersebut. Namun ada hal lain yang menguatkanku yakni komitmen dari pimpinanku untuk bisa segera spending program dan hal ini berarti para  CTA harus dapat segera memfasilitasi usulan dari kelompok-kelompok secepatnya agar bisa segera diproses di kantor.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Live-in Sebagai Metode Pendekatan dan Penilaian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya yang dituntut oleh pimpinanku agar semua CTA harus live-in di desa dampingannya sebagai bagian dari immersion (pembauran), akhirnya aku pun terpaksa melakukan live-in atau tinggal dan bermalam di desa. Aku memilih Paroki Wolofeo sebagai base camp utama setelah mendapat respon yang cukup bagus dari Rm. Arnold di dalam Paroki. Sedangkan jika aku harus bermalam di BuWatuweti atau di Loke, aku memilih bermalam di rumah Kepala Desa. &lt;br /&gt;Aku merasa melihat kehidupan di dunia lain ketika menyaksikan kehidupan warga di desa dampinganku, terutama jika aku berada di desa BuWatuweti atau di Loke yang lebih terpencil dan berada di ketinggian bukit. Berbagai perasaan sering campur aduk dalam benakku. Terkadang aku merasa sangat bangga telah berada di tempat itu dan merasakan kehidupan yang lain, namun kadang juga aku merasa prihatin dan kasihan dengan warga yang ada di sini. Bahkan terkadang aku juga merasa kasihan dengan diriku sendiri, karena harus meninggalkan sejenak segala fasilitas dan kemudahan hidup ala perkotaan. Yang pasti jika kedua orangtuaku melihat kehidupanku di desa tersebut, pasti mereka akan segera menyuruhku pulang ke kampung halaman di Mojokerto. Sebenarnya aku tidak pernah bisa live-in selama empat hari empat malam dalam seminggu seperti yang diminta oleh pimpinanku. Aku paling lama hanya live-in tiga malam dalam seminggu, dan yang paling sering adalah hanya dua malam saja dalam seminggu, dan terkadang aku harus melakukan perjalanan dari kota Maumere ke desa dampingan dua kali dalam seminggu.&lt;br /&gt;Awalnya aku agak kesulitan saat harus menyesuaikan diri dengan rutinitas kehidupan masyarakat di desa dampingan. sebagai seorang muslim aku sedikit risih ketika melihat anjing dan babi yang sering mengeliliku ketika berkunjung ke rumah warga, sementara aku juga tetap berusaha menjalankan ritual keagamaanku termasuk sholat meskipun itu hanya bisa dilakukan jika ada kesempatan. Selain itu aku juga harus menyesuaikan selera makan dan juga intensitas makanku harus berkurang. Sebagian besar keluarga dampingan hanya sekali makan nasi yakni pada malam hari itu pun dengan lauk pauk yang sangat minimalis (hanya ada satu jenis lauk saja atau hanya satu jenis sayur saja), sedangkan pagi hari hanya makan ubi, jagung atau pisang bakar, dan di siang hari juga makan ubi tapi di ladang. Namun jika berada di paroki, aku selalu disiapkan sarapan pagi dan makan malam seperti halnya yang disajikan pada para pastor di paroki. Seringkali aku makan siang di rumah warga yang aku kunjungi. Biasanya keluarga di desa dampingaku akan segera memasak nasi untuk disantap bersama jika aku bertamu agak lama, hal ini biasa dilakukan hanya untuk menghormati seorang tamu. “Tahan sebentar pak, di dapur sudah menyiapkan sajian” kata-kata itu yang sering diucapkan untuk menahanku saat akan pamit. Dan hal seperti ini yang kemudian membuatku berusaha menghindari bertamu lama-lama hingga jam makan siang, karena aku melihat sebenarnya warga sering kekurangan persediaan beras untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari karena semua warga di desa dampinganku adalah petani ladang (kebun), dan tidak ada sawah kecuali padi ladang di musim hujan.&lt;br /&gt;Seiring seringnya aku live-in di desa akhirnya aku bisa lebih tahu banyak hal tentang kondisi dan situasi di desa. Lebih dari sekedar yang sering dijelaskan warga kepadaku, ternyata tidak semua yang dikeluhkan warga tentang alam dan kehidupan mereka benar 100%, sebagian yang diceritakan warga hanyalah hiperbola atau bahkan mengada-ada. Meski demikian ada hal-hal lain yang menarik yang tidak dijelaskan oleh warga dapat aku saksikan langsung, seperti bagaimana warga menyiasati kemiringan tanah ladang mereka yang ada di tebing bukit, atau bagaimana sistem perekonomian rumah tangga mereka yang hanya mengandalkan hasil penjualan kemiri atau kakao, sedangkan begitu banyak tanah ladang berpotensi tanam dibiarkan tidur. Aku juga melihat ternyata beban kerja perempuan jauh lebih besar dari beban kerja laki-laki, selain harus menyiapkan urusan domestik rumah tangga, seorang ibu juga harus ikut bekerja di ladang seperti halnya suaminya, aku bisa melihat bias gender yang sebenarnya. Semuanya aku catat dalam buku catatan dan juga dalam otakku untuk dijadikan pertimbangan dalam menyusun program nantinya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Membentuk dan Menghidupkan Kelompok&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selama hampir dua bulan bertugas, hampir semua kampung-kampung besar di 3 desa sudah aku datangi untuk sekedar bersosialisasi sambil melakukan penilaian awal (initial assesment). Langkah selanjutnya yang aku lakukan adalah mulai mengajak warga menghidupkan kelompok-kelompok tani yang pernah ada. Kelompok tani yang penah ada adalah kelompok yang dulu dibentuk oleh bebrapa LSM yang pernah bekerja di desa tersebut, beberapa tahun sebelumnya, bahkan beberapa kelompok telah terbentuk mulai tahun 1980an sejak adanya bantuan alat-alat pertanian dan program terasiring dari sebuah LSM. Sedangkan untuk kampung yang belum pernah ada kelompoknya aku mengajak membentuk kelompok baru.&lt;br /&gt;Ternyata mengajak berkelompok tani hanya dengan menjelaskan kegunaan kelompok tani secara teoritis seperti membuka kembali rasa frustasi sebagian masyarakat, hanya sebagian kecil saja yang memahami dan bersedia membentuk kelompok. Sebagian besar warga justru menanggapi dingin dan menyampaikan keluhan-keluhan yang bersifat negatif tentang berkelompok tani. Kondisi ini cepat aku sadari dan aku tidak lagi berceramah untuk menjelaskan pentingnya kelompok tani. Aku mendekati tokoh-tokoh yang cukup vokal yang biasanya berusia 30-40 tahun. Melalui orang-orang tersebut aku menjelaskan secara lebih baik kenapa mereka perlu berkelompok tani, juga bahwa kantorku ingin menyalurkan bantuan tapi harus melalui kelompok tani. Aku juga selalu menggambarkan keberhasilan kelompok-kelompok tani di kabupaten lain, dan dengan sedikit memuji pentingnya keberadaan mereka di masyarkat sebagai ‘orang pintar’, akhirnya aku meminta mereka mau menjelaskan sekaligus membujuk warga untuk ikut menghidupkan kembali kelompok tani. Cara tersebut ternyata cukup efektif, tidak perlu menunggu lama ternyata orang-orang vokal yang lebih suka aku sebut ‘kader’ tersebut bergerak dengan cara masing-masing. Ternyata kader-kader itu bisa menjelaskan dan memahamkan pada warga secara lebih baik tentang pentingnya berkelompok tani dan rencana kerjasama antara kelompok tani dengan lembagaku dalam implementasi program bantuan.&lt;br /&gt;Di luar dugaanku, setelah para kader bergerilya di tengah musim hujan Januari, akhirnya warga desa menjadi antusias untuk kembali membentuk kelompok tani dan ikut menjadi anggota atau bahkan menjadi pengurus kelompok tani. Namun aku melihat hal tersebut dikarenakan adanya tendensi akan mendapat bantuan dari Plan. Aku menyadari dari awal bahwa membentuk atau menghidupkan kelompok tani secara instan seperti yang telah aku lakukan bukanlah langkah yang tepat dan tidak ada unsur pemberdayaan yang positif, namun sekali lagi aku tidak punya cara lain untuk memenuhi tuntutan lembaga dan juga tuntutan masyarakat. Lembaga selalu memintaku untuk segera spending, sedangkan masyarakat menuntut untuk segera mendapat bantuan.&lt;br /&gt;Dalam setiap pertemuan dengan kelompok tani, aku selalu menekankan bahwa kelompok tani bukan dibentuk untuk mendapatkan bantuan, melainkan untuk menghidupkan kegiatan-kegiatan sosial petani dan juga untuk saling belajar sambil berorganisasi dan memberdayakan diri. Aku juga menekankan pentingnya partisipasi dan berdiskusi untuk memutuskan segala sesuatu, dan untuk itu aku sengaja meminta bukti tanda tangan dalam setiap pertemuan yang menyangkut hubungan kelompok tani dengan Plan. Aku memang langsung menjelaskan prosedur yang diminta oleh kantorku untuk menyalurkan bantuan melalui kelompok tani, salah satunya adalah partisipasi yang dibuktikan dengan tanda tangan peserta. Dan untuk mengajukan usulan bantuan, diperlukan beberapa tahapan, mulai dari pertemuan-pertemuan awal hingga need assesment yang seharusnya mengikuti langkah-langkah PRA (participatory Rural Appraisal) hingga bermuara pada satu proposal yang partisipatif. Dan untuk mempermudah prosedur tersebut, aku memodifikasi teknik PRA menjadi lebih singkat dan mudah agar diterapkan dengan mudah dan cepat pada kelompok-kelompok tani. Dengan teknik tersebut aku memfasilitasi kelompok tani untuk berdiskusi melihat masalah dan mengidentifikasi kebutuhan disesuaikan dengan potensi yang ada. Biasanya aku mengajak satu atau dua orang kader dari kelompok lain ikut berproses selama diskusi, kemudian aku meminta kader tersebut memfasilitasi proses yang sama di kelompoknya tanpa kehadiranku. Dari hasil diskusi-diskusi tersebut biasanya direkam dalam bentuk tulisan yang carut marut di HVS yang aku sediakan. Biasanya sesampai di kantor aku menertawakan sendiri catatan-catatan dari pengurus kelompok yang menurutku lebih mirip dengan catatan anak SD, baik bentuk tulisan maupun struktur bahasanya. Meskipun demikian catatan-catatan itu kemudian menjadi sangat bernilai setelah terkumpul menjadi satu dokumen proposal kucel yang aku masukkan ke kantor, dan ternyata kantorku tidak mempersoalkan kekacauan catatan tersebut atau kadang malah kertas proposal yang ditulis tangan itu ternoda dengan lumpur atau arang.&lt;br /&gt;Dari hasil diskusi-diskusi kelompok tani serta catatan assesment yang aku buat, aku menilai bahwa untuk memberdayakan ekonomi warga, perlu menciptakan suatu wilayah sentra komoditi perkebunan yang memiliki potensi pasar. Hal ini selain untuk menyiasati keterbatasan akses pasar juga untuk mengoptimalkan potensi yang ada. Dan untuk mewujudkannya diperlukan langkah-langkah strategis dan perlu adanya perubahan perilaku dari masyarakat itu sendiri. &lt;br /&gt;Dari beberapa pertemuan kelompok yang telah aku ikuti, hampir semua kelompok menyepakati untuk membudidayakan tanaman vanili. Warga tergiur dengan nilai jual vanili yang sedang meroket hingga Rp.200 ribu per kilo pada saat itu. Aku sempat berkonsultasi dengan seorang ahli pertanian perkebunan yang aku temui ketika mengunjungi Renggarasi, menurutnya wilayah di desa dampinganku sangat ideal untuk budidaya vanili. Tanpa berpikir panjang aku langsung menyetujui semua usulan kelompok dampinganku itu. Idealnya memang perlu mempersiapkan SDM terlebih dahulu sebelum menyediakan bibit komoditi dan sarana prasarananya. Namun pada akhirnya aku berkompromi ketika semua kelompok tani mengajukan proposal pengadaan bibit vanili sebagai langkah awal dengan asumsi bahwa hampir di setiap kelompok telah ada anggota maupun pengurus yang menguasai teknik budidaya vanili baik yang didapat dari pelatihan yang pernah diadakan oleh instansi lain, maupun dari pengalaman membudayakan sendiri, dan segera akan dilakukan pelatihan-pelatihan kecil di masing-masing kelompok. Meskipun aku sempat khawatir dengan hampir berakhirnya musim hujan yang sangat berpengaruh pada masa-masa awal program vanilisasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Akhirnya Dana Kelompok Cair&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Salah satu persyaratan penting yang harus dimiliki kelompok untuk bisa mengelola dana dari Plan adalah rekening bank, dan untuk membuka rekening bank harus dilakukan oleh dua orang pengurusnya yakni ketua dan bendaharanya. Sementara itu hampir semua warga di desa belum pernah berhubungan dengan bank, apalagi membuka rekening bank. Beberapa orang yang berperan sebagai ketua kelompok bahkan tidak bisa membaca dan menulis. Untuk mengatasi ini aku terpaksa menjelaskan terlebih dahulu apa dan bagaimana cara membuka rekening, dan akhirnya aku harus mendampingi kelompok saat membuka rekening bank.&lt;br /&gt;Pertengahan bulan Maret 2004 tiba waktunya pencairan dana oleh kelompok, suasana di desa menjadi lebih ramai. Pertemuan-pertemuan kelompok selalu dilakukan di setiap kampung yang aku kunjungi. Aku cukup senang melihat kondisi seperti itu, ternyata kelompok-kelompok sudah tahu apa yang harus dilakukan. Hampir semua pengurus ternyata cenderung patuh pada panduan yang aku berikan, mereka mendiskusikan peran dan langkah-langkah selanjutnya kepada semua anggota sebelum menggunakan dana. &lt;br /&gt;Dari beberapa pertemuan yang aku ikuti, ada tiga kelompok yang sempat menyampaikan tawaran untuk memberiku insentif berupa ‘uang terima kasih’, namun aku tolak dengan menjelaskan bahwa dana bantuan itu harus digunakan sesuai dengan yang diusulkan, sedangkan di proposal tidak ada pos ‘uang terima kasih’ itu, dan juga aku jelaskan bahwa tawaran seperti itu akan membuat saya diberhentikan dari Plan dan nantinya kelompok yang bersangkutan tidak akan dipercayai lagi oleh kantor saya. Dalam hati aku menjadi miris melihat kejadian seperti itu, dengan jumlah bantuan yang kecil, kok mereka yang masih kekurangan itu masih ada pemikiran menyisihkan buat aku, dan betapa hinanya profesiku jika aku menerima ‘uang terima kasih’ yang bukan hakku itu. &lt;br /&gt;Saat berkunjung ke kampung-kampung untuk monitoring kemajuan program vanili yang dijalankan serentak oleh kelompok-kelompok dampinganku, aku sering mendengar ungkapan-ungkapan terima kasih dari warga atas realisasi bantuan dari Plan. Masing-masing kelompok selalu menceritakan bagaimana mereka memperlakukan bibit vanili yang telah diterima dan sering mengajakku melihat ke lahan mereka. Aku biasanya hanya memuj-muji dan terus memberikan semangat ketika dimintai pendapat tentang tanaman vanili di ladang mereka, karena sebenarnya aku tidak mengerti apa-apa tentang pertanian apalagi tentang tanaman vanili. Aku justru sering menanyakan ini dan itu untuk mempelajari berbagai hal tentang pertanian khususnya tentang vanili. Melihat antusiasme dan semangat warga ini membuat aku jadi kagum sekaligus bangga, ternyata dengan bantuan yang nilainya cukup kecil jika dihitung per keluarga ini mampu mengubah persepsi terhadap lembagaku selama beberapa tahun.&lt;br /&gt;Dari 27 kelompok yang aku dampingi, terdapat dua kelompok yang bermasalah. Satu kelompok dari Desa BuWatuweti dan satunya dari Desa Loke. Kedua kelompok ini memiliki masalah yang berbeda, jika yang di BuWatuweti  terdapat anggota yang tidak pernah hadir saat pertemuan diperlakukan beda dengan anggota yang aktif, maka yang di Loke dikarenakan adanya dugaan korupsi oleh ketuanya. Aku memang terlambat mengetahui masalah yang ada di dua kelompok tersebut karena kedua kelompok tersebut termasuk yang tidak sempat aku monitor langsung dari awal. Jika kelompok yang di BuWatuweti dikarenakan lokasi kampungnya yang cukup jauh di atas bukit, maka kelompok yang di Loke dikarenakan aku megenal baik kapasitas ketuanya yang termasuk orang terpelajar dan dianggap ‘orang pintar’ sekaligus sebagai aparat penting di kantor desa. Aku tidak intensif mendampingi kelompok yang dipimpin ‘orang pintar’ ini karena aku menganggap si ketua tersebut cukup bisa dipercaya.&lt;br /&gt;Untuk kasus kelompok di BuWatuweti dapat segera aku tangani dengan mudah setelah aku fasilitasi pertemuan kelompok. Sedangkan untuk masalah kelompok di Loke ternyata telah menciptakan situasi yang mengarah pada konflik sosial. Semua warga yang menjadi anggota kelompok tersebut memboikot kegiatan-kegiatan dari Plan dan mengucilkan keluarga si ketua kelompok. Hal ini menimbulkan kemarahan dari warga kampung lain. Aku mulai merasa cemas dan bersalah karena terlambat untuk menemui warga anggota guna penyelesaian masalah ini. Dan ketika aku mendatangi kampung tersebut, ternyata si ketua yang diduga menyelewengkan dana kelompok telah pergi meninggalkan kampungnya. Beruntung akhirnya ada pertemuan warga di kantor desa yang dihadiri para tokoh adat setempat yang kemudian membicarakan penyelesaian masalah tersebut sehingga warga tidak lagi melakukan boikot namun dengan satu syarat agar ketua kelompok harus diganti. Perlakuan anggota dengan ‘mengucilkan sementara’ dianggap cukup menghukum si ketua. Dari pertemuan tersebut aku menyadari bahwa ternyata peran sistem sosial cukup efektif dalam penyelesaian konflik di desa, di lain pihak aku juga merasa rendah dan malu karena dianggap tidak bisa menyelesaikan masalah di kelompok ini.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perubahan Itu Mulai Nampak, Meskipun Kecil &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Ternyata mudah saja membuat laporan keuangan”, demikian kata seorang pengurus kelompok di BuWatuweti setelah selesai aku ajarkan cara membuat laporan keuangan kelompok, pengurus itu hanyalah seorang lulusan SD. Aku hanya bisa tersenyum bangga menanggapinya sambil mengatakan nanti nilai bantuan dari Plan yang bisa dikelola kelompoknya akan lebih besar. Selain bangga dengan kemampuan para pengurus yang menurutku sudah termasuk peningkatan kapasitas warga dampingan seperti yang diharapkan lembaga, aku juga senang melihat pertemuan-pertemuan kelompok yang sering diadakan meskipun tanpa keberadaanku. Pertemuan-pertemuan ini biasanya dilakukan menyangkut gotong royong pembersihan kebun, atau sekedar membahas masalah sehari-hari. Memang tidak semua kelompok yang aku dampingi melakukan itu, namun perubahan-perubahan kecil ini menurutku cukup progresif. Apalagi sering kali warga mendatangiku di saat aku melintas di Pasar Lambalena hanya sekedar untuk menjelaskan bahwa minggu ini mereka telah mengadakan pertemuan kelompok di rumah salah satu anggotanya. Partisipasi dan diskusi sepertinya telah menjadi suatu yang biasa dilakukan oleh warga, terutama warga yang di kelompoknya terdapat kader-kader yang aku andalkan. Bahkan terdapat kelompok yang telah mencoba mempraktekkan sendiri teknik analisa kebutuhan seperti yang pernah aku ajarkan sebelumnya, meskipun hasilnya masih jauh dari sempurna.&lt;br /&gt;Seiring dengan akan jatuh temponya jadwal update data keluarga dampingan yang harus dilakukan setiap tahun di bulan Juli, aku mulai membagi peran dengan kelompok-kelompok tani. Mereka bersedia untuk membantuku mengambil data-data yang diperlukan di setiap  keluarga dampingan. Sebenarnya cara seperti ini dilarang oleh kantorku karena seharusnya dilakukan sendiri oleh CTA, namun aku telah menganalisa beban kerja dan juga waktu penyelesaia yang tidak mungkin aku lakukan sendiri mengingat banyaknya jumlah keluarga dampingan dengan sebaran lokasi yang cukup berat, hal yang tidak masuk akal dan mengherankan bagiku kenapa lembagaku mengharuskan CTA melakukannya sendiri. Ternyata warga yang tergabung dalam kelompok cukup senang membantuku sehingga aku terpaksa membuat mekanisme jadwal pengambilan data sekaligus foto keluarga yang akhirnya disepakati bersama oleh semua kelompok.&lt;br /&gt;Kelompok Tani Saja Belumlah Cukup&lt;br /&gt;Di kantor selain bertanggungjawab terhadap tiga desa dampinganku, aku juga diberi tanggungjawab dalam mengkoordinir Program Adituka di tingkat program unit, sebuah program yang dikhususkan bagi tumbuh kembang anak di usia emas. Dan sebagai CTA aku juga bertanggungjawab untuk implementasi semua program di desa dampingan, program-program tersebut hampir menyentuh semua aspek kehidupan warga dampingan. Temanku yang juga seorang CTA mengatakan, “CTA itu mengurusi semua aktifitas keluarga dampingan mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur, mulai makanan, kesehatan, pendidikan, hingga mimpi-mimpi keluarga pun diurus”. Aku senang saja dengan tugas CTA yang bertanggungjawab dalam implementasi berbagai program itu. Paling tidak aku bisa belajar banyak hal meskipun cuma sedikit melalui berbagai pelatihan dan juga pegalaman yang diberikan oleh lembaga.&lt;br /&gt;Bekaitan dengan tugas diseminasi pesan-pesan program tersebut, di desa dampingan aku mulai mengidentifikasi berbagai potensi yang bisa aku gunakan sebagai media implementasi program-program lembaga. Menurutku menggunakan kelompok tani saja belumlah cukup. Setelah sering berdiskusi dengan pastor di Paroki Wolofeo, aku memutuskan menggunakan Mudika Paroki Wolofeo sebagai pihak yang akan aku ajak bekerjasama. Mudika adalah kelompok muda-mudi Katholik yang dibina oleh pastor paroki. Aku melihat kelompok mudika (muda-mudi Katholik) ini cukup potensial karena mereka adalah orang-orang yang relatif enerjik dan terpelajar, selain itu mereka adalah calon kepala keluarga pengambil keputusan.&lt;br /&gt;Dengan bantuan pastor paroki aku berhasil mendekati para mudika yang kemudian bersama mereka dan pastor paroki mengadakan suatu kegiatan lokalatih di tingkat paroki. Lokalatih dengan materi hak asasi manusia, hak anak, dan kesetaraan gender ini aku buat sedemikian rupa sehingga kelak pesertanya harus meneruskan materi lokalatih kepada masing-masing komunitas basis (satuan warga untuk kegiatan Katholik). Aku menyerahkan kepada pastor paroki untuk mengkoordinir kegiatan sekaligus memastikan kegiatan paska lokalatih tersebut bisa berjalan. Ternyata cara ini cukup berhasil, dengan dikoordinir pastor paroki, para mudika akhirnya bersedia bergerilya membuat kegiatan pengumpulan massa untuk menyampaikan materi lokalatih kepada komunitas basis. Dalam beberapa kunjungan ke kampung, aku sempat melihat beberapa kelompok mudika sedang berpidato dan bersimulasi menyampaikan pesan-pesan hak anak dan juga gender di depan semua warga. Sesi yang paling menarik adalah ketika dibuka dialog di akhir acara, yang paling sering dimunculkan dan diprotes orang-orang dewasa adalah pesan kesetaraan gender. Biasanya dialog ini berlangsung cukup lama dengan menggunakan Bahasa Lio yang tidak aku mengerti. Aku hanya geli saat melihat mudika mempertahankan argumentasinya di depan orang-orang tua yang biasanya mereka hormati. &lt;br /&gt;Ternyata efek domino kegiatan mudika tersebut melebihi ekspektasiku, pembicaraan mengenai hak anak dan terutama tentang kesetaraan gender banyak dilakukan di mana-mana. Aku melihat pembicaraan itu di sekolah, di pertemuan kelompok, hingga di Pasar Lambalena, meskipun biasanya pembicaraan itu biasanya disertai tertawaan atau gurauan saja. Paling tidak aku telah melihat adanya keberhasilan dalam diseminasi pesan program. &lt;br /&gt;Selain bekerjasama dengan mudika, aku juga menjalin kerjasama dengan guru-guru di empat sekolah dasar yang ada di desa dampinganku. Sebenarnya terdapat enam SD yang ada di wilayah dampinganku, namun aku hanya bisa intensif bekerjasama dengan empat sekolah, sedangkan dua lainnya jarang aku kunjungi karena lokasi yang jauh dan juga jumlah murid yang sedikit. Beberapa kegiatan program telah dilaksanakan atas kerjasama yang baik dengan para guru dan kepala sekolah di empat sekolah tersebut. Aku memang belum bisa benar-benar membaur dengan anak-anak, meskipun hal itu merupakan sesuatu yang mandatory dari lembagaku. Semua kegiatan-kegaiatan program yang dilaksanakan di sekolah meskipun ditujukan bagi anak-anak, namun masih dikendalikan oleh para guru (driven by adult). Aku sudah berusaha selalu mengakrabkan diri dengan anak-anak melalui berbagai kegiatan program yang selalu melibatkan anak, namun aku merasa belum cukup menyatu dan diakrabi oleh anak-anak, mungkin karena aku tidak bisa bermain secara luwes dengan mereka. Aku biasanya dibantu oleh teman CTA lain saat harus memfasilitasi kegiatan anak seperti saat melaksanakan School Quality Index, sebuah kegiatan diskusi terfokus untuk menganalisa situasi sekolah guna menyusun rencana pengembangan sekolah. Aku senang bisa belajar bagaimana seharusnya memfasilitasi anak-anak. Meskipun begitu ada beberapa anak di satu SD yang cukup akrab denganku, anak-anak itu yang biasanya membantuku untuk memobilisasi teman-temannya untuk ikut dalam kegiatan-kegiatan yang aku adakan baik di sekolah maupun di kampung.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ternyata Kader itu Penting&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berbagai fenomena yang aku lihat di desa dampingan semakin mempertegas benang merah di otakku tentang siapa sebenarnya yang harus menjadi pelaku utama dalam perubahan di masyarakat. Aku melihat semakin jelas bahwa pelaku sebenarnya bukanlah seorang CTA, melainkan warga masyarakat sendiri yang dimotori oleh orang-orang tertentu yakni para kader. Melihat pentingnya peranan kader, aku pun sedikit mempertegas perubahan pola pendekatanku. Aku tidak lagi selalu keliling dari kampung ke kampung untuk memfasilitasi pertemuan-pertemuan atau sekedar menyampaikan sesuatu kepada warga, aku lebih banyak menemui orang-orang yang aku anggap potensial sebagai kader. Aku lebih banyak berdiskusi tentang program-program yang bisa dijalankan di desa bersama kader-kader sambil terus memberikan pengarahan sebagai bentuk capacity building bagi mereka. Hal ini tentunya membawa dampak lain pada hubunganku dengan warga pada umumnya. Aku semakin jarang bersosialisasi ke kampung-kampung. Aku hanya mengunjungi suatu kampung jika ada sesuatu yang harus aku sampaikan sendiri. Hal ini aku lakukan bukan hanya sekedar untuk mendelegasikan peran kepada kader, melainkan juga karena semakin banyaknya aktifitas Program Adituka di tingkat program unit yang menyita waktu dan tenagaku.&lt;br /&gt;Karena terlalu mengandalkan kader yang ada, aku sempat kelimpungan ketika kehilangan seorang kader perempuan yang menikah dan keluar dari desa untuk mengikuti suaminya. Biasanya aku selalu berdiskusi dan mendapatkan informasi tentang kampungnya dari kader ini. Celakanya aku hanya mengandalkan dia sendiri untuk kampung tersebut sehingga ketika dia meninggalkan kampung terpaksa aku harus memulai dari awal lagi untuk membuat mekanisme pengkaderan.&lt;br /&gt;Sedikit Yang Aku Beri, Banyak Dampaknya&lt;br /&gt;Melihat beberapa perubahan dari warga membuatku senang dan sedikit merasa bangga dengan peranku sebagai seorang CTA. Meskipun nilai nominal spending programku tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan CTA lain, namun ternyata dapat membawa beberapa perubahan terutama persepsi warga terhadap peran dan juga lembagaku. Sebenarnya aku tidak begitu memperhatikan perubahan-perubahan yang terjadi pada warga dampingan hingga suatu hari di bulan Juli pimpinanku memintaku mengajak seorang CTA dari program unit Jakarta yang baru saja mengajukan diri pindah ke Sikka. Ketika aku mengajak teman baru ini  ke desaku dan langsung live-in selama dua malam, dia kagum dengan penerimaan warga terhadap lembagaku, serta bagaimana warga bersemangat dengan kegiatan kelompok tani. Aku hanya mengatakan ini semua mungkin karena sedikit bibit vanili yang telah mereka terima. Pada saat itu juga aku tergerak untuk melihat kembali catatan-catatan analisa situasi yang aku buat saat pertama turun ke desa dampingan, dan ternyata memang telah ada beberapa perubahan terutama pada persepsi dan keterbukaan warga pada lembagaku. Pada akhirnya teman inilah yang kemudian menggantikan aku di desa Loke dan Renggarasi.&lt;br /&gt;Masyarakat mulai terbuka, kelompok-kelompok tani pun mulai terbiasa berurusan dengan dunia luar, pengurus mulai bisa melakukan pembukuan kelompok, dan beberapa pemahaman tentang hak anak dan juga kesetaraan gender mulai dikenal meskipun belum sampai pada penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Jika dikaitkan pada teori perubahan perilaku, apa yang terjadi di masyarakat dampinganku barulah pada tahap-tahap awal dengan tingkatan yang berbeda. Untuk partisipasi dan diskusi aku melihat sudah sampai pada tahap penerapan menuju pembiasaan, sedangkan untuk implementasi hak anak dan kesetaraan gender barulah pada tahap awal yakni  pada penyerapan informasi menuju pemahaman. Untuk mencapai tahap perubahan perilaku seperti yang diharapkan oleh lembagaku perlu waktu yang masih lama dan harus disertai pendampingan yang berkesinambungan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berganti Desa Dampingan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengawali bulan Agustus 2004, seiring dengan penambahan tenaga CTA, aku dipindah ke desa Wailamung dan Lewomada yang sebelumnya ditangani oleh teman CTA lain. Kedua desa ini berada di pesisir pantai dan banyak dihuni oleh warga suku TanaAi. Perpindahan ini sebenarnya sesuai dengan permintaanku pada pimpinan. Karena selain aku semakin disibukkan dengan kegiatan Program Adituka, aku juga merasa mulai kelelahan karena harus naik turun bukit di wilayah Lio. Dengan penempatan di desa pesisir, aku berpikir tidak perlu selalu live-in di desa dan juga aku lebih mudah menyesuaikan kehidupan beragama sebagai seorang muslim. &lt;br /&gt;Meskipun demikian aku juga merasa berat untuk meninggalkan warga dampingan di tiga desa lama, aku merasa telah memiliki ikatan emosi dengan warga dampinganku tersebut. Bahkan aku terpaksa menyembunyikan rencana kepindahanku hingga saat kunjungan terakhir bersama CTA penggantiku. Dan saat itu aku mendengar ungkapan keberatan dari hampir semua warga yang aku temui.&lt;br /&gt;“Wah, bagaimana ini pak, tidak bisa begini pak” “Pak Toni tidak boleh pindah sekarang, tunggu beberapa bulan lagi, urusan kita belum selesai” demikian kata-kata Pak Wese yang aku ingat, beliau adalah seorang kader yang juga kepala dusun di Lambalena. Aku hanya menjelaskan bahwa aku harus lebih banyak pulang pergi ke kantor karena sekarang mengurusi Program Adituka. “Pak Untung ini yang akan menggantikan saya, dia sudah lama jadi CTA di Jawa sehingga bisa lebih baik mendampingi warga di sini” demikian aku memperkenalkan temanku sekaligus untuk memperkuat argumen kepindahanku.&lt;br /&gt;Ketika masuk pertama kali ke desa Lewomada yang berjarak 80 Km dari kantor, aku langsung menemui kepala desa dan kepala dusun. Namun karena melihat pengaruh kepala dusun lebih kuat, aku memutuskan lebih mendekati kepala dusun tersebut. Sebelumnya aku telah melakukan koordinasi dengan CTA  yang sebelumnya mendampingi desa ini. Aku memastikan siapa-siapa saja stakeholder yang potensial diajak kerjasama, program-program carry over, serta hal-hal lain yang berkaitan dengan pekerjaan CTA. Berkat pendekatan dengan kepala dusun tersebut, akhirnya aku bisa mendekati warga lain tanpa hambatan. Penerimaan warga terhadap keberadaanku aku rasa biasa-biasa saja, tidak ada kesan penolakan namun tidak juga ada kesan antusias. Hanya beberapa orang yang sudah tergolong kader dari CTA sebelumnya yang akrab dan bersemangat mengobrol denganku. &lt;br /&gt;Warga di desa Wailamung dan juga Lewomada tergolong lebih berkecukupan secara ekonomi dibandingkan dengan warga di Renggarasi, Loke, maupun BuWatuweti. Penghasilan mereka terhitung lebih tinggi karena adanya tanaman jambu mete yang dibudidayakan sejak lama. Meskipun kedua desa ini terletak di pesisir pantai, namun hanya ada dua kampung yang mengandalkan laut sebagai mata pencaharian, dan kedua kampung ini dihuni oleh warga suku Bajo. &lt;br /&gt;Aku memilih melakukan perjalanan pulang pergi untuk mengunjungi desa yang biasanya aku lakukan seminggu dua kali. Dengan cara ini maka secara otomatis intensitas waktu dan kualitas hubunganku dengan warga di dua desa baruku menjadi berkurang. Meskipun hanya ada satu dusun yang tidak bisa dijangkau dengan motor karena berada di atas bukit, namun aku juga tidak begitu sering mengunjungi kampung-kampung yang ada di sepanjang jalan di tepi pantai ini. Biasanya aku hanya mendatangi orang-orang tertentu yang aku anggap potensial sebagai kader untuk membantuku dalam implementasi program dan juga komunikasi dengan lembagaku. Pendek kata, aku hanya intensif berkomunikasi dan bekerjasama dengan beberapa orang kader, itu pun tidak di setiap kampung ada, melainkan hanya ada beberapa di satu dusun. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sulitnya Memfasilitasi Implementasi Program&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak diawali dengan immersion yang intensif serta tidak live-in, aku  mengalami kesulitan ketika harus merancang kegiatan bersama warga untuk implementasi program di desaku. Aku tidak menemukan kelompok-kelompok yang hidup, yang ada hanya beberapa kelompok yang telah dibina CTA sebelumnya untuk implementasi program peternakan kecil dan juga kerajinan kain tenun. Aku mencoba menemui beberapa pengurus kelompok tersebut dan meminta melakukan pertemuan dengan anggotanya, namun selalu gagal karena berbagai hal yang sebagian besar karena kurangnya motivasi berkelompok itu sendiri. Akhirnya dengan sedikit putus asa aku mencoba mendekati warga suku Bajo di kampung Tanadewa di desa Lewomada. Ternyata kehadiranku disambut lebih antusias di sini. Akhirnya dengan meneruskan kelompok lama yang telah dibentuk oleh pendahuluku aku mengadakan beberapa kali pertemuan dan berhasil memfasilitasi penilaian kebutuhan (need assesment) secara partisipatif yang kemudian dilanjutkan menjadi sebuah proposal program budidaya rumput laut oleh dua kelompok.&lt;br /&gt;Berbekal pengetahuan sedikit tentang potensi rumput laut dari warga suku Bajo tersebut, aku akhirnya menawarkan program yang sama kepada warga lain yang tinggal di sepanjang pantai di desa Wailamung. Beberapa warga setuju dengan tawaran programku meskipun mereka bukanlah nelayan asli. Untuk lebih melancarkan rencana ini, aku bekerjasama dengan kepala desa Wailamung yang cukup disegani oleh warganya. Ternyata berkat bantuan kepala desa ini aku berhasil mengumpulkan warga dalam jumlah besar dan menjelaskan rencana program yang aku tawarkan. Aku tidak menggunakan tahapan-tahapan penilaian kebutuhan partisipatif dalam rencana ini, aku memilih jalur cepat dengan langsung menawarkan rancangan program. Aku mencoba menawarkan alternatif mata pencaharian dengan menggunakan ilustrasi perhitungan untung rugi dan juga analisa ekonomi rumah tangga. Dari pertemuan pertama itu, diusulkan untuk diadakan pelatihan dan pendampingan dari pihak yang berkompeten yakni Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sikka. &lt;br /&gt;Akhirnya aku bersama bapak kepala desa pergi ke Dinas Perikanan dan Kelautan untuk menjelaskan rencana program sekalgus meminta bantuan pelatih dan pendamping. Meskipun pada awalnya disambut kurang baik, namun akhirnya pihak dinas mengirimkan stafnya untuk menjadi pelatih sekaligus pendamping dalam kegiatan budidaya rumput laut. Kerjasama dengan Dinas Perikanan ini hanya sebatas pada tenaga pelatih dan pendampingan, sedangkan untuk yang lain aku serahkan pada kelompok untuk dikelola secara mandiri. Peranku hampir tidak ada selain hanya memfasilitasi proposal kelompok hingga pencairan dana. Sedangkan pada saat pelatihan dan pendampingan lapangan oleh staf Dinas Perikanan aku justru disibukkan dengan kegiatan Program Adituka. Padahal pendampingan yang dilakukan oleh staf dinas tersebut hanya terbatas pada teknis budidaya rumput laut, sementara pendampingan sosial mestinya aku yang berperan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Satu Keberhasilan Diantara Sekian Yang Gagal&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Satu bulan setelah rumput laut mulai dibudidayakan, aku mulai turun monitoring ke kelompok kelompok yang ada di Wailamung. Aku mulai melihat tanda-tanda kegagalan. Skema program yang telah disepakati ternyata tidak berjalan dengan baik. Warga yang bukan nelayan asli ternyata tidak bisa berlama-lama di laut karena tidak bisa meninggalkan rutinitas mereka di kebun mete. Hanya sedikit saja yang terlihat intensif merawat bibit rumput lautnya dan menunjukkan keberhasilan. Hasil temuanku kemudian aku sampaikan pada pertemuan bulanan pertama, dan beberapa warga secara terus terang menyampaikan bahwa mereka tidak bisa bekerja di laut. Hal ini membuat aku seperti orang kalah perang sebelum pertempuran usai. Aku tidak menyalahkan warga atas kegagalan ini, aku melihat kegagalan ini sebagai kesalahanku sendiri yang menawarkan rencana kegiatan tanpa melibatkan warga secara nyata.&lt;br /&gt;Tanda-tanda kegagalan kelompok di Wailamung ternyata tidak terlihat pada kelompok yang ada di Kampung Kabal dan Tanadewa yang memang terdiri dari para nelayan. Di Tanadewa justru menunjukkan kemajuan yang sangat pesat. Ketika banyak rumput laut warga di Wailamung yang tidak berkembang, kelompok di Tanadewa justru sudah melakukan panen, dan hasil panen tersebut telah disemaikan lagi sehingga ketika aku turun monitoring sudah terlihat hamparan luas petak-petak rumput laut memenuhi pantai. Warga anggota kelompok di Tanadewa ternyata berkomitmen untuk menjadikan rumput laut sebagai mata pencaharian utama menggantikan penangkapan ikan. Hal positif lain yang aku lihat adalah warga di Tanadewa tidak ada lagi yang berminat menggunakan bom ikan, melainkan semua telah serius mengurusi rumput lautnya. Selain itu sedikit demi sedikit warga bisa menggeser lahan rumput laut yang sebelumnya dikuasai oleh seorang pemilik modal dari kota Maumere.&lt;br /&gt;Selain program rumput laut, aku juga bekerjasama dengan beberapa kelompok di dua desa ini dalam program lain. Program lain tersebut berupa pembangunan sumur sehat, pembangunan taman posyandu dan juga beberapa kegiatan di sekolah termasuk rehabilitasi sebuah SD. Semua kegiatan tersebut dikelola secara mandiri oleh kelompok yang aku dampingi dengan dana bantuan dari lembagaku. Selain itu aku juga intensif melakukan monitoring kegiatan yang dikerjasamakan dengan instansi pemerintah seperti program kemitraan bidan dan dukun bayi, serta pelaksanaan kegiatan Adituka yang juga menjadi tanggung jawabku di tingkat program unit.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sebuah Pembelajaran Penting&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah hampir satu tahun berada di desa Wailamung dan Lewomada, aku merasa belum juga bisa membaur dengan warga di sini. Aku hanya bisa akrab dan berkomunikasi dengan baik terbatas pada orang-orang tertentu. Memang banyak yang berbeda antara warga di sini yang termasuk suku TanaAi dengan warga di desa lamaku yang termasuk suku Lio. Bukan perbedaan suku yang membuat mereka berbeda, namun keterbukaan wilayah yang paling mempengaruhi cara pandang mereka terhadap orang luar. Orang-orang di desa lamaku cenderung tertutup dengan orang dari luar yang belum dikenal, namun mereka cukup ramah dan sangat menghormati tamu dari luar, sebuah anomali memang. Hal ini karena akses  transportasi dan komunikasi di desa mereka sangat terbatas karena letak geografis dan topografi alamnya . Sedangkan warga di desa Wailamun dan Lewomada yang berada di pesisir dengan ketersediaan sarana transportasi yang lancar membuat mereka lebih terbuka dengan orang luar, namun mereka cenderung cuek dan tidak lagi memberikan rasa hormat yang berlebihan terhadap tamu. Jika di Lio aku selalu kenyang dengan kopi atau makanan yang disajikan di setiap rumah yang aku singgahi, hal sebaliknya saat aku bertugas di TanAi ini sangat jarang ditawari minuman. Terlepas dari semua hal tersebut, pola pendekatanku terhadap mereka adalah faktor yang paling dominan dalam keberhasilan dan kegagalanku dalam menjalankan program dan komunikasi di desa dampingan.&lt;br /&gt;Ternyata  keberhasilan dan kegagalan di desa lama tidak cepat aku jadikan pembelajaran. Secara umum aku merasa lebih berhasil mendampingi warga di tiga desa lama meskipun kondisi awal warga serta topografi wilayahnya jauh lebih berat dibandingkan dengan dua desa dampinganku yang baru.&lt;br /&gt;Bulan Juni 2005 aku melepaskan posisi sebagai CTA karena dipromosikan sebagai R&amp;amp;D Coordinator. Dengan demikian aku tidak lagi intensif di lapangan untuk mendampingi dan memfasilitasi masyarakat. Aku lebih banyak berkutat dengan kegiatan-kegiatan di tingkat program unit terutama pada aspek monitoring program secara menyeluruh. Namun pengalaman yang aku dapat selama berada di tengah masyarakat maupun pemberdayaan diri melalui pelatihan-pelatihan yang diberikan lembaga merupakan pembelajaran paling berharga yang pernah aku dapat hingga saat ini. Pembelajaran itu melebihi dari apa yang aku pelajari selama 4,5 tahun di bangku kuliah. Karena ternyata dinamika di masyarakat merupakan sumber pembelajaran yang tidak pernah habis untuk dieksplorasi. Dan pada akhirnya apa yang aku alami saat mendampingi dan memfasilitasi masyarakat itu kemudian sangat berpengaruh dalam kehidupan dan juga karirku hingga saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis oleh :&lt;br /&gt;Ahmad Fathoni&lt;br /&gt;Desember 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-916372304947392060?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/916372304947392060/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=916372304947392060&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/916372304947392060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/916372304947392060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2008/04/pengalaman-bersama-masyarakat-sikka_10.html' title='Pengalaman Bersama Masyarakat Sikka, Catatan Pengalaman Sebagai Pendamping Masyarakat'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-5894783324564870591</id><published>2008-04-10T10:15:00.005+08:00</published><updated>2008-05-30T11:14:42.161+08:00</updated><title type='text'>8 April 08</title><content type='html'>Ya Allah,&lt;br /&gt;Ampuni aku, yang telah banyak lalai dan berdosa&lt;br /&gt;Namun kumohon, dengar dan terimalah doaku ini,&lt;br /&gt;sekali lagi aku ajukan permohonan yang sama..&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ampuni aku, yang telah melibatkannya dalam kesulitan ini.&lt;br /&gt;Ampuni aku, yang belum juga bisa membuatnya bahagia, pun hanya membuatnya&lt;br /&gt; menderita.&lt;br /&gt;Beri petunjuk aku, apa maksud lakon yang sedang kujalani&lt;br /&gt;Lakon yang ingin segera kulewati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangi dia seperti aku menyayanginya,&lt;br /&gt;Beri kebahagiaan padanya, kebahagiaan yang belum pernah dia rasakan&lt;br /&gt; dariku&lt;br /&gt;Beri dia perlindungan dari segala yang buruk&lt;br /&gt;Beri dia kebaikan, kebaikan yang terbaik baginya&lt;br /&gt;Dan beri dia cinta, melebihi cinta yang aku miliki.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-5894783324564870591?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/5894783324564870591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/5894783324564870591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2008/04/8-april-08.html' title='8 April 08'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-3287553137887485354</id><published>2008-03-11T16:12:00.002+08:00</published><updated>2008-03-11T16:21:35.882+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan kucel'/><title type='text'>Akhirnya Kembali Lagi</title><content type='html'>Beberapa bulan ga pernah nengok lagi sama dunia blogging meski tiap hari aku mantengin dunia maya. Ga ngerti kenapa kok jadi ga ada mood buat nilik blog ini. mungkin karena kesibukan dan juga orientasi hidup yang mulai berubah, atau karena aku telah mengalami petualangan bathin yang 'seru'..? ga tau ah.&lt;br /&gt;Tapi beberapa hari ini aku iseng buka blog lagi, blog walking lagi, jadi terinspirasi buat update blog lagi....&lt;br /&gt;InsyaAllah kalo ada inspirasi dan mood aku mau nulis lagi deh,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-3287553137887485354?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/3287553137887485354/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=3287553137887485354&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/3287553137887485354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/3287553137887485354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2008/03/akhirnya-kembali-lagi.html' title='Akhirnya Kembali Lagi'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-2928866441552131007</id><published>2007-11-05T13:28:00.001+08:00</published><updated>2008-04-10T10:12:18.027+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kampung Halaman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Jalan-jalan setelah Lebaran</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Taman Safari Indonesia II&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di H+3 Lebaran 2007 kali ini aku berkesempatan jalan-jalan dengan keluarga di Taman Safari Indonesia II. Acara jalan-jalan ini sebenarnya rangkaian kegiatan setelah bersilaturrahmi ke sanak famili, acara rutin keluarga di hari lebaran.&lt;br /&gt;&lt;img src="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Ry7CkInbq6I/AAAAAAAAALk/TJVCfGoP9_g/s320/TSI+II+(26).JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5129250951665527714" /&gt;Taman Safari Indonesia II (TSI II) terletak di kawasan kaki gunung Arjuna yang masuk di wilayah Kabupaten Pasuruan. Untuk memasuki taman wisata ini bisa ditempuh melalui 2 jalur pintu masuk, dari Pandaan dan juga dari Prigen.&lt;br /&gt;Keramaian jalanan di kawasan wisata mulai dari Pacet, Trawas hinga Prigen cukup terasa. Kendaraan roda 2 maupun roda 4 memadati jalanan di pegunungan Arjuno/Welirang. Kepadatan kendaraan roda 4 makin terasa saat memasuki pintu masuk Taman Safari dari jalur Prigen, meskipun pintu ini adalah pintu kedua, sedangkan pintu utama berada di jalur Pandaan.&lt;br /&gt;Untuk memasuki Taman Safari pengunjung ditarif Rp.35.000 untuk Dewasa dan Rp.30.000 untuk anak balita. Bagi pengunjung yang datang menggunakan motor atau rombongan pengelola menyediakan fasilitas bus keliling, sedangkan bagi yang menggunakan kendaraan roda 4 pribadi pengunjung dapat langsung memasuki kawasan yang dihuni sekitar 200 jenis satwa liar ini dengan kendaraannya. Lokasi Taman Safari yang berada di lereng gunung Arjuno dengan hamparan hutan pinus membuat tempat ini cukup ideal dijadikan tujuan wisata keluarga karena selain dapat berjalan-jalan sambil mengamati berbagai satwa dengan suhu udara yang cukup sejuk, juga disediakan sarana rekreasi keluarga dengan berbagai fasilitas hiburannya yang terletak di area parkir dalam kawasan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya Taman Safari Indonesia I yang ada di Bogor, di TSI II ini semua satwa penghuninya dilepas di suatu kawasan berikat yang dipagari kawat antara satu pengandangan dengan pengandangan lain. Sistem pengandangan ini disesuaikan dengan sifat dan asal satwa di habitat aslinya. Hal ini sepertinya ditujukan agar antara satu jenis hewan dengan jenis lainnya tidak saling mengganggu. Hal lain yang cukup khas ala Taman Safari adalah keakraban satwa liar dengan mobil pengunjung, hewan bisa berjalan bebas diantara mobil pengunjung, terutama untuk hewan-hewan mamalia yang berasal dari Afrika. Keakraban ini mulai dirasakan pengunjung dari dalam mobil saat mobil memasuki kawasan mamalia, hewan-hewan tersebut dengan pede akan langsung menghampiri kaca jendela mobil yang terbuka berharap ada sesuatu yang dikeluarkan oleh penumpang yang bisa dilahap, persis pengamen dan pengemis di perempatan lampu merah Surabaya. Meskipun pengelola sudah memberi peringatan melalui tulisan yang ditempel di tempat-tempat tertentu untuk tidak memberi makan hewan, namun sepertinya para pengunjung tidak menggubrisnya dengan tetap memberi makanan melalui jendela mobil mereka, begitu juga dengan si hewan yang memang tidak bisa membaca peringatan tersebut. Bahkan untuk beberapa jenis hewan tampak dijaga ketat oleh petugas agar hewan tidak memakan pemberian pengunjung, seperti yang terihat di pengandangan gajah, ketika seekor gajah nekat mendekati sebuah mobil yang menyodorkan sejumput makanan dan langsung melahapnya, rupanya si gajah tidak melihat kalau ada petugas yang tak jauh darinya sedang memperhatikan. Ketika si gajah menyadari bahwa dia sedang dihampiri oleh sang petugas dengan pentungan kayu ditangan, sontak si gajah lari terbiri-birit dan petugas mengejar sambil memukuli kaki si gajah nakal tersebut sebagai hukuman. Pemandangan ini mirip dengan seorang guru yang memukuli murid saat ketahuan melanggar peraturan sekolah. Si Guru yang tidak ramah anak, si petugas yang tidak ramah hewan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bersantai di Rm. Sendang Raos&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Ry6wyYnbq5I/AAAAAAAAALc/5ddyiSy7Vo8/s320/CIMG0316.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5129231405269363602" /&gt;Mencari dan memilih tempat makan terkadang menjadi masalah yang tidak mudah, apalagi bagi orang2 yang sudah rutin dengan kebiasaan makan di luar rumah (anak kos dan sejenisnya). Meskipun pada dasarnya ketika kita lapar, maka orientasi pilihan bukan lagi pada masalah selera, melainkan pada hasrat mengisi perut itu sendiri. Namun dengan makin  banyaknya pilihan tempat makan dengan berbagai menu dan konsep suasana yang ditawarkan, maka terpaksa kita harus memilih. Pengalaman pelik dalam memilih tempat makan sering aku alami sebagai anak kos, baik sewaktu di Maumere maupun sekarang di Kupang. Begitu juga jika sedang berada di kampung halaman ketika hendak hangout bersama teman.&lt;br /&gt;Saat ini semakin banyaknya rumah makan berdiri dan wisata kuliner telah menjadi fenomena gaya hidup hampir di semua kota. Untuk menarik pengunjung maka banyak rumah makan menawarkan berbagai daya tarik berupa konsep suasana maupun menu yang disajikan.&lt;br /&gt;Suasana keakraban dan pemandangan alam dengan menu harga terjangkau merupakan konsep yang sepertinya ditawarkan oleh Pak Tjuk melalui Rm Sendang Raos yang berlokasi di Jl Trawas-Mojosari di desa Jatijejer Kec. Trawas. Rumah makan ini menyajikan menu yang sederhana dan terbatas, Cuma terdapat menu ayam lalapan, sari kali (mulai ikan wader hingga nila) tempe/tahu penyet, beberapa makanan khas jawa timuran, dan gurami bakar yang menjadi menu andalannya. Menu ternyata bukan menjadi daya tarik utamanya, tetapi suasana dan pemandangan alam Gunung Penanggungan yang cantik adalah keunggulannya.&lt;br /&gt;Dari jalan rumah makan Sendang Raos hanya dimunculkan oleh papan nama dan gapura, sedangkan rumah makan yang berbentuk pendopo joglo baru ditemukan setelah kita memasuki jalan pelataran sekitar 50 m.&lt;br /&gt;Selain pendopo yang terbagi dalam dua bagian besar yang menghadap langsung ke arah gunung dan sebuah kolam memanjang di depannya, pengunjung juga dapat memilih bungalow kecil yang berada di area parkir mobil dan lebih dekat ke areal perkebunan di sisinya. Di dalam pendopo sendiri dipenuhi dengan hiasan gebyok jati ukir serta terdapat pilihan meja makan atau kursi bayang yang biasanya ada di teras rumah kepala desa Jawa di jaman lampau. Jika ingin berlama-lama sambil bersantai bersama rekan atau keluarga, terdapat papan catur atau alat pancing sederhana yang disediakan secara gratis bagi pengunjung. Kegiatan bersantai tersebut bisa dilakukan saat menunggu menu datang ataupun sehabis menikmati makan sambil menikmati udara sejuk pegunungan dan indahnya gunung Penanggungan dari dekat.&lt;br /&gt;Meskipun suasana dan tata ruang yang ditawarkan cukup berkelas namun harga menu makanan cukup murah dan terjangkau, tidak jauh beda dengan harga makanan di Pasar Legi Mojosari. satu ekor gurami besar plus sambal lalap, nasi sebakul, cah kangkung, tempe penyet, tahu penyet masing2 satu porsi, dan 2 minuman segar hanya seharga Rp.37.000,-  Meskipun begitu rumah makan lesehan ini tidak terlalu ramai sehingga cukup nyaman bagi pengunjung yang biasanya datang rombongan dengan mobil. Sepertinya pengunjung adalah para wisatawan dari arah Surabaya atau para keluarga yang sudah menjadi langganannya.&lt;img src="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Ry6uAYnbq4I/AAAAAAAAALU/6uzzEBhgwDs/s200/CIMG0319.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5129228347252648834" /&gt;&lt;br /&gt;Matur nuwun buat Taki yang sudah mengajak dan mentraktir aku di Sendang Raos ini, next time lagi ya....&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-2928866441552131007?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/2928866441552131007/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=2928866441552131007&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/2928866441552131007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/2928866441552131007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2007/11/jalan-jalan-setelah-lebaran.html' title='Jalan-jalan setelah Lebaran'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Ry7CkInbq6I/AAAAAAAAALk/TJVCfGoP9_g/s72-c/TSI+II+(26).JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-9160346979780039125</id><published>2007-09-28T14:35:00.001+08:00</published><updated>2008-05-26T12:19:06.039+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koleksi Photo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flores'/><title type='text'>Dari Maumere ke Lembata</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RvyrI5giUFI/AAAAAAAAALM/HYzUkxQVB0s/s1600-h/road+to+Lembata+(8).JPG"&gt;Foto foto ini aku ambil saat melakukan perjalanan dari Maumere ke Lembata di bulan Desember 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RvyrI5giUFI/AAAAAAAAALM/HYzUkxQVB0s/s320/road+to+Lembata+(8).JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5115151446150631506" /&gt;&lt;br /&gt;Pantai Larantuka dari Meting Doeng&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RvypTJgiUDI/AAAAAAAAAK8/EvtCD8gICbs/s320/Lrtk+(1).JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5115149423221035058" /&gt;&lt;br /&gt;Gereja Kathedral Larantuka&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RvyrI5giUFI/AAAAAAAAALM/HYzUkxQVB0s/s1600-h/road+to+Lembata+(8).JPG"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RvyqPZgiUEI/AAAAAAAAALE/lsVnNk_cXiI/s1600-h/road+to+Lembata+(3).JPG"&gt;&lt;img src="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RvyqPZgiUEI/AAAAAAAAALE/lsVnNk_cXiI/s320/road+to+Lembata+(3).JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5115150458308153410" /&gt;&lt;br /&gt;Adonara, kota kecil sebelum sampai Lembata &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RvyoXJgiUCI/AAAAAAAAAK0/SdpOiYUSclQ/s1600-h/road+to+Lembata+(1).JPG"&gt;&lt;img src="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RvyoXJgiUCI/AAAAAAAAAK0/SdpOiYUSclQ/s320/road+to+Lembata+(1).JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5115148392428884002" /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Ape (Ile Ape)&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rvylx5giUBI/AAAAAAAAAKs/dMRsEVUCm6g/s1600-h/Lembata.JPG"&gt;&lt;img src="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rvylx5giUBI/AAAAAAAAAKs/dMRsEVUCm6g/s320/Lembata.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5115145553455501330" /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Patung Depan Panti di Lembata&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RvyjbZgiUAI/AAAAAAAAAKk/DCqiocc2jLg/s1600-h/Launc+Lbt+(24).JPG"&gt;&lt;img src="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RvyjbZgiUAI/AAAAAAAAAKk/DCqiocc2jLg/s320/Launc+Lbt+(24).JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5115142967885189122" /&gt;&lt;br /&gt;Deretan sarang madu putih di kaki Ile Ape&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-9160346979780039125?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/9160346979780039125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=9160346979780039125&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/9160346979780039125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/9160346979780039125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2007/09/dari-maumere-ke-lembata.html' title='Dari Maumere ke Lembata'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RvyrI5giUFI/AAAAAAAAALM/HYzUkxQVB0s/s72-c/road+to+Lembata+(8).JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-8845919453515615665</id><published>2007-09-26T12:00:00.001+08:00</published><updated>2008-04-10T12:02:58.120+08:00</updated><title type='text'>Estranged</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RvnuJ5giT_I/AAAAAAAAAKc/M1UPInMk1Xo/s1600-h/CIMG0063.JPG"&gt;&lt;img src="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RvnuJ5giT_I/AAAAAAAAAKc/M1UPInMk1Xo/s200/CIMG0063.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5114380705679429618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;When you're talkin to yourself&lt;br /&gt;And nobody's home&lt;br /&gt;You can fool yourself&lt;br /&gt;You came in this world alone&lt;br /&gt;Alone&lt;br /&gt;So nobody ever told you baby&lt;br /&gt;How it was gonna be&lt;br /&gt;So what'll happen to you baby&lt;br /&gt;Guess we'll have to wait and see&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Old at heart but I'm young&lt;br /&gt;And I'm much too young&lt;br /&gt;To let love break my heart&lt;br /&gt;Young at heart but it's getting much too late&lt;br /&gt;To find ourselves so far apart&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I don't know how you're s'posed&lt;br /&gt;To find me lately&lt;br /&gt;An what more could tou ask from me&lt;br /&gt;How could you say that I never needed you&lt;br /&gt;When you took everything&lt;br /&gt;Said you took everything from me&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Young at heart an it gets so hard to wait&lt;br /&gt;When no one I know can seem to help me now&lt;br /&gt;Old at heart but I musn't hesitate&lt;br /&gt;If I'm to find my own way out&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When I find out all the reasons&lt;br /&gt;Maybe I'll find another way&lt;br /&gt;Find another day&lt;br /&gt;With all the changing seasons of my life&lt;br /&gt;Maybe I'll get it right next time&lt;br /&gt;An now that you've been broken down&lt;br /&gt;Got your head out of the clouds&lt;br /&gt;You're back down on the ground&lt;br /&gt;And you don't talk so loud&lt;br /&gt;An you don't walk so proud&lt;br /&gt;Any more, and what for&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well I jumped into the river&lt;br /&gt;Too many times to make it home&lt;br /&gt;I'm out here on my own, an drifting all alone&lt;br /&gt;If it doesn't show give it time&lt;br /&gt;To read between the lines&lt;br /&gt;'Cause I see the storm getting closer&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-8845919453515615665?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/8845919453515615665/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=8845919453515615665&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/8845919453515615665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/8845919453515615665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2007/09/estranged.html' title='Estranged'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RvnuJ5giT_I/AAAAAAAAAKc/M1UPInMk1Xo/s72-c/CIMG0063.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-5772895744202243327</id><published>2007-09-14T13:21:00.000+08:00</published><updated>2007-09-17T10:20:21.574+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan kucel'/><title type='text'>Puasa Kali Ini</title><content type='html'>Puasa Ramadlan lagi... mesti nyiapin segala sesuatunya lagi&lt;br /&gt;mesti bangun jam 3 lagi, makan sahur dan sholat subuh..&lt;br /&gt;nahan nafsu makan dan minum.. itu mudah dan biasa, tapi kalo musti jaga hati dan pikiran.. itu yang susah!&lt;br /&gt;Memang harus berubah kalo lagi puasa.. berubah jam tidurnya, berubah pola makannya, berubah perilakunya, berubah pula kebiasaan liburannya.&lt;br /&gt;Gak bisa lagi begadang sampe larut sambil dengar radio..&lt;br /&gt;Gak bisa lagi nikmati lontong sayur pagi2..&lt;br /&gt;Gak bisa lagi ngopi di meja kerja..&lt;br /&gt;Gak bisa lagi makan siang di 'mbak dyan'&lt;br /&gt;Gak bisa lagi snorkling saat libur..&lt;br /&gt;Tapi meskipun sepertinya harus meninggalkan hal2 duniawi yang menyenangkan itu.. masih ada satu kenikmatan yang hanya ada di bulan puasa, menikmati saat berbuka..&lt;br /&gt;Jadi teringat saat masih kecil di kampung halaman, di bulan puasa, kebahagiaan yang tak tergantikan..&lt;br /&gt;Alhamdulillah, ternyata aku masih bisa menikmati bulan Ramadlan tahun ini&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-5772895744202243327?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/5772895744202243327/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=5772895744202243327&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/5772895744202243327'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/5772895744202243327'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2007/09/puasa-kali-ini.html' title='Puasa Kali Ini'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-2072891422983074120</id><published>2007-08-30T08:37:00.002+08:00</published><updated>2008-04-17T19:36:35.891+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Malaysia, Ada Apa Dengan Tetangga Kita itu?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span&gt;Tetangga yang dekat jauh lebih berharga daripada saudara yang jauh. Tetapi 'tetangga dekat' tidak selalu lebih baik daripada saudara yang jauh. Tetangga yang dekat berarti tetangga yang benar-benar dekat baik secara fisik maupun secara emosi. Akan tetapi tetangga dekat tidak selalu menjadikan kita merasa dekat secara emosional, apalagi di saat egoisme menjadi suatu yang dominan dalam kehidupan global seperti sekarang.&lt;br /&gt;Ungkapan di atas mungkin bisa menjadi refleksi bagi kita sebagai individu dan bangsa kita sebagai suatu komunitas di dunia internasional. Seringkali negara tetangga dekat kita menjadi tetangga yang tidak dekat dengan bangsa kita. Beberapa kali darah kita mendidih sebagai anak bangsa karena ulah negara tetangga kita.&lt;br /&gt;Salah satu negara yang akhir-akhir ini paling sering membuat harga diri kita terusik adalah tetangga dekat  kita yang serumpun, Malaysia. Berulangkali  kita harus bersitegang akibat ulah tetangga kita itu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari lepasnya Pulau Sepadan dan Ligitan ke tangan Malaysia. Kita dengan mudah dikangkangi oleh Malaysia dalam penguasaan pulau tersebut hanya dengan bukti pengelolaan pulau terlebih dulu.&lt;br /&gt;Warga Negara Malaysia juga telah menjadi penjarah utama hutan-hutan kita di Kalimantan.Cukong-cukong kayu dari Malaysia telah memperdayai kita melalui warga miskin di sekitar hutan untuk membalak hutan secara ilegal yang kemudian hasilnya dapat dibawa secara mudah ke wilayah Malaysia akibat bobroknya sistem pengamanan dan peradilan di negara kita. Akibat penjarahan dan perusakan hutan yang berlangsung bertahun-tahun ini bukan hanya merugikan kita secara finansial, tetapi juga mengakibatkan berbagai bencana alam dan bencana sosial mulai dari banjir bandang, tanah longsor, dan terancam punahnya beberapa satwa langka penghuni hutan Kalimantan. Efek domino lain adalah dunia internasional menghujat negara Indonesia sebagai perusak hutan tercepat di dunia. Di lain pihak, negara Malaysia mengambil keuntungan yang sangat besar dari degradasi hutan kita. Industri pengolahan kayu tumbuh subur di wilayah Malaysia, dan saat ini Malaysia merupakan negara pengekspor kayu olahan terbesar di dunia dan hutan Malaysia tetap lestari karena tak terjamah. Sedangkan di negara kita ribuan industri kayu kelas menengah ke bawah gulung tikar akibat sulitnya mendapat bahan bakunya setelah pemerintah memperketat peredaran kayu gelondongan di dalam negeri, dan bencana alam pun terus mengakrabi negeri kita. Asal tahu saja bahwa maraknya idustri kayu di Malaysia bukan hanya bahan bakunya yang berasal dari Indonesia, tetapi tenaga kerja buruhnya juga didominasi oleh TKI kita.&lt;br /&gt;Kita juga masih ingat dengan kasus Nirmala dan Ceriyati. Kedua perempuan ini adalah korban dari kebiadaban majikannya di Malaysia. Dua orang TKW ini awalnya hanya ingin memperbaiki kehidupan ekonomi keluarganya yang mungkin mereka pikir tidak dapat disediakan di negerinya sendiri sehingga harus berjudi dengan nasib menjadi PRT di negara tetangga. Nasib baik belum berpihak pada mereka, bukan perbaikan ekonomi keluarga yang didapat, namun siksaan dan penganiayaan dari majikan yang tak berperikemanusiaan yang harus diterima. Nirmala dan Ceriyati hanya 2 cerita dari sekian banyak cerita memilukan tentang penderitaan TKI/TKW kita di Malaysia, baik yang terekspos di media massa maupun yang tidak sempat diketahui oleh masyarakat umum. Bahkan tidak sedikit TKI/TKW yang harus meninggal secara tidak wajar di wilayah negara Malaysia seperti nasib Kurniwati. Ironisnya hampir semua kasus penganiayaan terhadap TKI/TKW tersebut tidak ditindaklanjuti secara adil oleh pengadilan Malaysia, para majikan yang biadab tersebut masih bebas hidup berkeliaran tanpa harus dipenjara. Sedangkan bila seorang WNI tertangkap atau tersangka melakukan tindak kejahatan di Malaysia, maka dengan jelas akan diperlakukan sebagai pesakitan mulai dari hukuman penjara, hukuman cambuk, hingga hukuman mati.&lt;br /&gt;Meskipun banyak cerita memilukan dari TKI/TKW kita di Malaysia, namun tetap saja setiap tahun ribuan TKI/TKW diberangkatkan ke Malaysia, baik yang resmi maupun yang ilegal. Pemerintah dan masyarakat selalu terjebak pada pemikiran sempit bahwa TKI/TKW adalah sumber devisa yang membangun negeri. Padahal nilai uang yang dihasilkan oleh TKI/TKW tersebu tidak sebanding dengan jumlah yang mereka belanjakan di wilayah negara Malaysia sendiri. Dengan kata lain devisa atau uang yang dikirim TKI/TKW ke negeri kita sangat jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah uang yang dibelanjakan TKI/TKW di negara Malaysia baik dalam bentuk belanja konsumsi maupun pajak yang jumlah totalnya lebih dari 32 Triliun per tahun.&lt;br /&gt;Jika kita jeli melihat, sangat sulit mendapatkan contoh kisah sukses dari para perantau di Malaysia yang berhasil membangun ekonomi keluarganya. Yang ada malah banyak perantau itu yang tidak pernah bisa mengirim uang kepada keluarganya, bahkan hilang berita keberadaannya di Malaysia. Namun  ternyata rasa putus asa terhadap negeri sendiri dan iming-iming persuasi dari para calo TKI jauh lebih memikat para calon TKI/TKW daripada pilunya cerita perantau dari Malaysia.&lt;br /&gt;Pemerintah Indonesia seakan tidak pernah belajar dari pengalaman yang ada, selalu terlambat menyadari kondisi yang ada. Jika Malaysia bisa membangun negerinya dengan bermodalkan bahan baku dan tenaga kerja dari Indonesia, kenapa pemerintah tidak bisa menyediakan lapangan kerja yang sama di negeri sendiri..? bukankah negara kita memiliki sumber daya alam yang besar, sumberdaya manusia melimpah ruah, pemikir-pemikir hebat, dan banyak anak muda brilian di negeri ini. Namun sayang semuanya tidak diberikan kesempatan yang sesuai di negeri ini. Pejabat pemerintah kita serta para wakil rakyat, terutama yang ada di daerah lebih sibuk dengan urusan politik dan menggunakan kesempatan yang ada untuk memperkaya diri dan keluarganya.&lt;br /&gt;Berbagai cerita di atas bukan hanya membuktikan bahwa sebenarnya bangsa kita sedang dibodohi oleh tetangga kita. Bukan hanya stigma bangsa yang bodoh, tetangga kita Malaysia seakan telah menganggap bangsa kita sebagai bangsa kelas 2 yang bisa diperlakukan seenaknya.&lt;br /&gt;Hari Minggu, 26 Agustus 2007. Donald Pieter seorang wasit resmi di kejuaran Karate Internasional di Malaysia yang berasal dari Indonesia  dihajar dan dianiaya oleh 4 oknum Polisi Diraja Malaysia tanpa alasan yang jelas. Meskipun ke-4 oknum tersebut mengetahui bahwa korbannya adalah seorang wasit resmi yang menjadi duta bangsa Indonesia, namun penganiayaan tetap dilanjutkan. Mungkin mereka berpikir  Bpk Donald Pieter itu sama dengan para TKI/TKW  yang bisa diperlakukan seenaknya tanpa bereaksi apa-apa. Sekali lagi, tetangga kita telah mengusik emosi kita secara terang-terangan.&lt;br /&gt;Malaysia dulu berbeda dengan Malaysia sekarang. Tetangga kita itu telah berubah. Jika dulu Malaysia berguru dan menimba ilmu dari para dosen dan profesor kita, saat ini mereka telah menjadi lebih pintar dari kita, kipintaran itu telah membuat mereka juga lebih kaya dari kita. Dan kedua perubahan itu juga telah ikut merubah kepribadian dan sikap mereka.&lt;br /&gt;Ibaratnya jika dulu tetangga kita masih lugu dan polos dengan kepribadian yang sederhana dan semangat persaudaraaan yang tinggi, namun saat ini telah berubah menjadi tetangga yang lebih pintar dan kaya. Layaknya OKB (orang kaya baru) Malaysia kini menjadi bangsa yang angkuh, sombong, acuh...dan agak biadab.&lt;br /&gt;... oh Siti.. oh Datuk... kok loe pade belagu sih?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-2072891422983074120?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/2072891422983074120/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=2072891422983074120&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/2072891422983074120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/2072891422983074120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2007/08/malaysia-ada-apa-dengan-tetangga-kita.html' title='Malaysia, Ada Apa Dengan Tetangga Kita itu?'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-627206775717290692</id><published>2007-08-28T11:37:00.001+08:00</published><updated>2008-05-26T13:14:41.901+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koleksi Photo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Timor'/><title type='text'>Colourful of Summer, Kupang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RtPUWRz41UI/AAAAAAAAAKU/J0PiFEpKF7E/s1600-h/CIMG0010.JPG"&gt;&lt;img src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RtPUWRz41UI/AAAAAAAAAKU/J0PiFEpKF7E/s400/CIMG0010.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5103656281944151362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RtO3URz41TI/AAAAAAAAAKM/SCBSPTDocgc/s1600-h/CIMG0398.JPG"&gt;&lt;img src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RtO3URz41TI/AAAAAAAAAKM/SCBSPTDocgc/s400/CIMG0398.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5103624361747207474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RtOdLRz41SI/AAAAAAAAAKE/wEYmC3GWLMw/s1600-h/CIMG0341.JPG"&gt;&lt;img src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RtOdLRz41SI/AAAAAAAAAKE/wEYmC3GWLMw/s400/CIMG0341.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5103595619826062626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RtOcNxz41RI/AAAAAAAAAJ8/8b49MFydvzQ/s1600-h/Bunga+September+(2).JPG"&gt;&lt;img src="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RtOcNxz41RI/AAAAAAAAAJ8/8b49MFydvzQ/s400/Bunga+September+(2).JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5103594563264107794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-627206775717290692?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/627206775717290692/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=627206775717290692&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/627206775717290692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/627206775717290692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2007/08/colourful-of-summer-kupang.html' title='Colourful of Summer, Kupang'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RtPUWRz41UI/AAAAAAAAAKU/J0PiFEpKF7E/s72-c/CIMG0010.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-1786296610140483053</id><published>2007-08-15T11:48:00.000+08:00</published><updated>2007-08-30T11:16:23.268+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pantai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Pantai Kolbano</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsJ_S9ScxTI/AAAAAAAAAJU/K9dIeQiPG70/s1600-h/CIMG0119.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098777691803141426" height="224" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsJ_S9ScxTI/AAAAAAAAAJU/K9dIeQiPG70/s320/CIMG0119.JPG" width="293" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Pantai Kolbano memang tidak banyak dikenal dan dikunjungi oleh masyarakat di kota Kupang. Hal ini karena untuk melihat pantai yang masuk dalam wilayah Kabupaten TTS ini warga kota Kupang harus menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 130 Km dengan waktu tempuh 3 jam. Namun meskipun tidak begitu populer sebagai tempat tujuan wisata, Pantai Kolbano ternyata menyimpan daya tarik tersendiri yang tidak dapat ditemukan di tempat lain. Pantai yang menghadap ke Samudra Hindia atau laut selatan ini dipenuhi dengan bebatuan kecil berbentuk lempeng dan bertekstur halus layaknya batuan pantai lain. Batu Kolbano, nama itu yang dikenal untuk menyebut bebatuan dari Pantai Kolbano yang telah menjadi komoditi andalan masyarakat di sekitar Pantai Kolbano. Batu Kolbano ini telah ditambang dan diperdagangkan secara resmi sejak tahun 80-an. Batu ini biasanya dipergunakan sebagai batu hias di taman atau di lobi-lobi hotel, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsJ8YNScxPI/AAAAAAAAAI0/Rsbt9aNeOQg/s1600-h/CIMG0130.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098774483462571250" height="189" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsJ8YNScxPI/AAAAAAAAAI0/Rsbt9aNeOQg/s320/CIMG0130.JPG" width="237" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu masih jam 6.20 pagi aku dan temen-temen FAU (Fius Alliance Unit) sudah berangkat dari Kupang dengan tujuan Pantai Kolbano. Ternyata melakukan perjalanan pagi itu membawa suasana yang menyegarkan. Udara yang masih segar, sinar matahari memantul di dedaunan, serta melihat aktifitas penduduk di awal hari merupakan pemandangan yang jarang aku temukan. Selama ini perjalanan pagi hanya aku lakukan jika harus bepergian dengan pesawat pagi.&lt;br /&gt;Untuk menuju Pantai Kolbano kita mesti melewati desa-desa dan areal persawahan yang cukup panjang. Hamparan sawah yang hijau dihiasi pohon kelapa dan pohon tuak menciptakan pemandangan yang menggoda naluri photografiku, tapi sayangnya tidak banyak kesempatan untuk berhenti karena mobil yang terus melaju. Dan setelah menempuh perjalanan selama 3 jam lebih yang melelahkan dan nyaris putus asa karena pantai Kolbano serasa semakin menjauh, akhirnya rombongan kami sampai juga di Pantai Kolbano.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsJ-y9ScxSI/AAAAAAAAAJM/rIz3GkOWSPI/s1600-h/CIMG0113.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098777142047327522" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsJ-y9ScxSI/AAAAAAAAAJM/rIz3GkOWSPI/s320/CIMG0113.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pantai yang cukup panjang ini dipenuhi dengan bebatuan kecil yang didominasi warna putih dan kemerahan. Angin pantai lumayan kencang dengan terik matahari yang menyengat..! di pantai itu hanya disediakan 2 lopo bagi pengunjung, sementara di bagian lain terlihat penduduk sedang mengumpulkan batu yang dikemas dalam karung plastik kecil. Setelah sejenak menikmati suasananya, aksi narcistme langsung dilakukan, jepret sana jepret sini, sedangkan yang lain sibuk memilih-milih batu.. (ngutil dikit) atau sekedar duduk menikmati pantai di lopo kecil. Setelah menghabiskan jatah konsumsi masing-masing di lopo sebagian rombongan melanjutkan aksi narcist sambil menikmati pantai yang sangat indah itu, maklumlah dengan adanya pemandangan bagus didukung dengan model yang bagus pula membuat aksi narcist tidak pernah mati. Dan tepat pukul 2 siang akhirnya rombongan sepakat balik.. yach, rugi lah kita dengan jarak tempuh yang cukup jauh dan waktu menikmati pantai indah ini cukup singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;beautiful beach, beautiful stones, beautiful girls..&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsJ9MtScxQI/AAAAAAAAAI8/QwRVMhji-o0/s1600-h/CIMG0126.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098775385405703426" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsJ9MtScxQI/AAAAAAAAAI8/QwRVMhji-o0/s320/CIMG0126.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsJ66NScxNI/AAAAAAAAAIk/NVzzvTrPPLc/s1600-h/CIMG0124.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098772868554867922" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsJ66NScxNI/AAAAAAAAAIk/NVzzvTrPPLc/s320/CIMG0124.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Valentino Rossi 'versi pasca tabrakan' menghabiskan masa rehat balapan bersama Paris Hilton di pantai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsJ79tScxOI/AAAAAAAAAIs/0dcaoV9XZAo/s1600-h/CIMG0166.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098774028196037858" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsJ79tScxOI/AAAAAAAAAIs/0dcaoV9XZAo/s320/CIMG0166.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-1786296610140483053?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/1786296610140483053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=1786296610140483053&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/1786296610140483053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/1786296610140483053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2007/08/pantai-kolbano-memang-tidak-banyak.html' title='Pantai Kolbano'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsJ_S9ScxTI/AAAAAAAAAJU/K9dIeQiPG70/s72-c/CIMG0119.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-6641746223851225133</id><published>2007-08-13T15:59:00.000+08:00</published><updated>2007-08-15T16:44:25.138+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Timor'/><title type='text'>How Art Your Car Today?</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsARTNScxEI/AAAAAAAAAHc/xGaK3_cWAHU/s1600-h/Bemo+(3).JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098093799865631810" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 278px; CURSOR: hand; HEIGHT: 203px" height="225" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsARTNScxEI/AAAAAAAAAHc/xGaK3_cWAHU/s320/Bemo+(3).JPG" width="341" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ini cuma Bemo, angkutan umum yang ada di kota Kupang, NTT.&lt;br /&gt;Bemo di Kupang menjadi angkutan umum paling populer sejak lama, meskipun saat ini mulai agak tergeser dengan keberadaan motor ojek yang menjamur.&lt;br /&gt;Angkutan bemo merupakan fenomena unik di Kota Kupang karena selain dilengkapi dengan audio dengan power yang besar, bemo juga dihiasi berbagai asesoris di dalam dan di luarnya. asesoris di dalam biasanya berupa boneka, takometer, lampu-lampu, atau sekedar car freshener untuk memanjakan hidung penumpangnya.&lt;br /&gt;Saat ini jumlah bemo di kota Kupang tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Jika 5 tahun lalu dari 10 mobil yang melintas di jalanan, 6 di antaranya adalah bemo dan hanya 4 mobil pribadi, artinya 60% mobil yang melintas di kota Kupang saat itu adalah bemo. Namun saat ini perbandingannya sudah berbalik, bemo hanya sekitar 35% dari sekian mobil yang melintas.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsATr9ScxII/AAAAAAAAAH8/rHR3_1MwDjs/s1600-h/Bemo+(15).JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098096424090649730" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsATr9ScxII/AAAAAAAAAH8/rHR3_1MwDjs/s320/Bemo+(15).JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bahkan begitu populernya bemo Kupang saat itu, hingga sering diadakan kontes audio bemo tahunan. Saat itu kualitas dan kekuatan audio sebuah bemo akan menentukan kepopuleran bemo tersebut. Perlu diketahui bahwa setiap bemo di kota Kupang (dan juga di NTT) selalu memiliki nama tersendiri, serta untuk menentukan jalur yang dilewati ditandai dengan nomor yang ditempatkan di atas bemo dengan sebuah lampu di dalamnya. Oleh karena itu jalur jurusan bemo dikenal melalui nomor di lampunya. Jika di tempat lain jalur angkutan umum dikenal melalui tempat yang dilaluinya, maka bemo kupang dikenal melalui lampunya 'Kakak mau naik bemo lampu berapa?.. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dengan dentuman musik yang cukup kuat, maka otomatis di dalam sebuah bemo yang berjalan kita akan kesulitan untuk ngobrol atau berkomunikasi dengan orang lain. Nah jika seorang penumpang ingin turun di suatu tempat, ga perlu berteriak kepada sopir atau kondekturnya, cukup ketukkan jari atau uang logam/cincin anda ke kaca atau handle yang ada di dalam mobil dan dengan sigap sopir bemo akan ngerem dan putar setir ke kiri. Nah akibat seringnya si sopir putar setir mendadak untuk menurunkan penumpang ini, di Kupang sering terjadi kecelakaan kecil bagi pengendara motor di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Fenomena baru dari bemo Kupang saat ini adalah adanya hiasan tambahan di setiap bidang kacanya, mulai dari kaca depan, samping dan kaca belakang. hiasan ini biasanya berupa lukisan stiker mirip seni kaca patri. Yups.. Bemo Kupang semakin semarak dan semakin artistik.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsASddScxHI/AAAAAAAAAH0/12bDb95P0fc/s1600-h/Bemo+(14).JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098095075470918770" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsASddScxHI/AAAAAAAAAH0/12bDb95P0fc/s320/Bemo+(14).JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsARmdScxFI/AAAAAAAAAHk/xJbe8JfvKq4/s1600-h/Bemo+(7).JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098094130578113618" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsARmdScxFI/AAAAAAAAAHk/xJbe8JfvKq4/s320/Bemo+(7).JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsASAtScxGI/AAAAAAAAAHs/ABc7lipGRUY/s1600-h/Bemo+(12).JPG"&gt;&lt;/a&gt; &lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098099142804948162" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsAWKNScxMI/AAAAAAAAAIc/tg7Rba6iTqw/s320/Bemo+(32).JPG" border="0" /&gt; Jika anda ke kota Kupang dan tidak mencoba menggunakan angkutan bemo ini, rasanya kurang lengkap. Karena Bemo sudah menjadi salah satu icon kota Kupang. Nah jika ingin menggunakan jasa angkutan bemo, sebaiknya perhatikan dulu jalur yang akan dilaluinya melalui angka yang ada di lampu di atas kabin. Sebagai informasi awal, bisa dilihat dibawah ini;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;lampu 1 : Sikumana-Oepura-Kuanino-Oeba&lt;/div&gt;&lt;div&gt;lampu 2 : Oepura-Kuanino-LLBK-Kampung Solor-Oeba&lt;/div&gt;&lt;div&gt;lampu 3 : Terminal Kupang-Kuanino-Bakunase&lt;/div&gt;&lt;div&gt;lampu 6 : Oebufu/Flobamora mall-Oebobo-terminal Kupang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lampu 5 : Oebobo-Oeba-Terminal Kupang&lt;br /&gt;lampu 7, 27 : Walikota-Kpang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lampu 10 : Walikota-Pasirpanjang-Kupang*&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;*sumber : Organda (organisasi gadis dan janda)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098098159257437362" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsAVQ9ScxLI/AAAAAAAAAIU/Wg5hv1u0I8k/s320/Bemo+(29).JPG" border="0" /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsAQgtScxDI/AAAAAAAAAHU/d8wgZcNT0ks/s1600-h/Bemo+(1).JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098092932282238002" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsAQgtScxDI/AAAAAAAAAHU/d8wgZcNT0ks/s320/Bemo+(1).JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098097940214105250" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsAVENScxKI/AAAAAAAAAIM/TrTkSA5FF2A/s320/Bemo+(26).JPG" border="0" /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-6641746223851225133?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/6641746223851225133/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=6641746223851225133&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/6641746223851225133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/6641746223851225133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2007/08/how-art-your-car-today.html' title='How Art Your Car Today?'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsARTNScxEI/AAAAAAAAAHc/xGaK3_cWAHU/s72-c/Bemo+(3).JPG' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-7294336012731208775</id><published>2007-08-09T16:00:00.000+08:00</published><updated>2007-08-13T15:11:28.604+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Timor'/><title type='text'>Sirih Pinang Orang Timor</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rr_db9ScxAI/AAAAAAAAAG8/jF87a6sAcJ8/s1600-h/Retraen+else+(3).JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098036775584842754" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rr_db9ScxAI/AAAAAAAAAG8/jF87a6sAcJ8/s200/Retraen+else+(3).JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Jika kita pergi ke pelosok di wilayah daratan Timor Barat, maka kita akan sering menjumpai beberapa hal yang tidak ditemukan di tempat lain. Ketika memperhatikan penduduknya, hampir semua orang laki-laki dan perempuan selalu terlihat sebagai pesolek dengan balutan gincu di bibirnya. Dan tidak lupa mereka selalu membawa seperangkat peralatan yang biasanya disimpan dalam kotak atau tas kecil semacam box kosmetik. Tapi ternyata bibir yang merah itu bukanlah gincu melainkan warna yang membekas akibat sirih pinang di mulut mereka, sedangkan kotak box kosmetik yang disebut Oko Mamah atau yang berbentuk tube disebut Aluk itu adalah perlengkapan standar untuk menikmati sirih pinang. Oko Mamah biasa dipakai oleh para kaum wanita sedangkan Aluk dipakai oleh kaum laku-laki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsAAUtScxBI/AAAAAAAAAHE/pNTJhzzp844/s1600-h/Retraen+(1).JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098075133937763346" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsAAUtScxBI/AAAAAAAAAHE/pNTJhzzp844/s200/Retraen+(1).JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Selain itu, jika kita melihat ke hamparan tanah atau lantai di perkampungan penduduk, kita akan melihat banyak bekas bercak merah darah yang tercecer di atas tanah, diatas lantai, di batu, atau di dahan dan daun yang rendah. Tapi tak usah panik atau takut, itu bukanlah darah yang tertumpah akibat pembunuhan bukan pula bekas hewan yang terbantai.. itu adalah 'limbah organik' yang dihasilkan oleh proses fermentasi instan antara buah sirih, buah pinang, kapur, dan air liur penduduk.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;'Mamah' sirih pinang sudah menjadi tradisi masyarakat Timor yang tidak diketahui mulai kapan kebiasaan tersebut berlangsung. Tradisi 'mamah' sirih pinang ini juga sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Timor, hampir seluruh acara adat dan acara resmi lain selalu diawali dengan acara makan sirih pinang terlebih dahulu. Ketika tamu baru datang, sebelum minuman dihidangkan biasanya terlebih dahulu disediakan seperangkat sirih pinang di atas meja. Dan konon sebagai tanda bahwa sang tamu menaruh rasa hormat pada tuan rumah, maka sang tamu harus mencicipi sirih pinang tersebut.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsAB_dScxCI/AAAAAAAAAHM/f-VR10FTPi0/s1600-h/Retraen+(3).JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098076967888798754" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RsAB_dScxCI/AAAAAAAAAHM/f-VR10FTPi0/s200/Retraen+(3).JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Untuk dapat memamah sirih pinang, Orang Timor harus menyiapkan tiga bahan penting yakni buah sirih, buah pinang, dan kapur sirih. Ketiga bahan ini sangat mudah ditemukan di pelosok daratan timor, terlebih buah pinang dan kapurnya. Pohon pinang banyak terdapat di pekarangan penduduk atau di daerah mata air, sedangkan kapur sirih diambil dari bunga karang yang telah mati kemudian dibakar hingga menjadi bubuk kapur. Bagi anda yang ingin mencicipi sirih pinang sebaiknya berhati-hati, karena jika kita salah memamahnya atau sampai menelannya terutama pada mamahan pertama maka akan mengakibatkan 'mabuk sirih pinang' yakni pusing kepala dan mual-mual.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Hal unik lain dari tradisi mamah sirih pinang ini adalah ketika usai dilakukan suatu acara adat atau sekedar berkumpulnya para orang tua. Di sekitar lokasi acara tersebut akan dengan mudah ditemukan bercak-bercak merah darah di tanah atau di pohon-pohon, bahkan warna merah darah tersebut dapat menjadi dominan di tanah karena banyaknya pemamah sirih pinang yang membuang ludahnya di tempat yang sama. Akibat tradisi yang selalu menghasilkan limbah inilah yang sering diprotes oleh para ABK kapal atau fery yang melayari kepulauan di NTT. bisa dibayangkan jika di dalam sebuah kapal terdapat 100 orang yang tidak bisa meninggalkan kebiasaan mamah sirih pinang.. kapal yang biasa berwarna coklat dan putih itu bisa berubah warna mendadak di tengah perjalanan akibat siraman limbah sirih pinang yang dibuang sembarangan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi bagi anda yang saat ini ingin mengubah warna rumah atau mobil anda menjadi merah, tak usah mengeluarkan ongkos besar buat membeli cat. Anda cukup menyediakan seperangkat sirih pinang dan mengundang beberapa orang Timor untuk memamah sirih pinang. Dijamin deh warna rumah atau mobil anda bakal berubah seketika menjadi merah. Silahkan mencoba..&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-7294336012731208775?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/7294336012731208775/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=7294336012731208775&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/7294336012731208775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/7294336012731208775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2007/08/sirih-pinang-orang-timor.html' title='Sirih Pinang Orang Timor'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rr_db9ScxAI/AAAAAAAAAG8/jF87a6sAcJ8/s72-c/Retraen+else+(3).JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-5728726680539816560</id><published>2007-07-27T16:48:00.001+08:00</published><updated>2008-04-17T19:40:26.797+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Mengapa Negara Kita Miskin?*</title><content type='html'>Perbedaan antara bangsa miskin (berkembang) dan bangsa kaya (maju) tidak tergantung pada umurnya.&lt;br /&gt;Bangsa Mesir dan India telah berusia lebih dari 2000 tahun, tapi mereka tetap terbelakang. Negara Singapura, Kanada, Australia, dan New Zealand yang usianya kurang dari 150 tahun dalam membangun, saat ini mereka adalah bagian dari negara maju di dunia dan penduduknya tidak lagi miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketersediaan sumber daya alam dari suatu negara tidak menjamin negara itu menjadi kaya atau miskin. Jepang mempunyai area yang sangat terbatas, daratannya 80% adalah pegunungan yang tidak cukup untuk meningkatkan pertanian dan peternakan. Namun saat ini Jepang menjadi raksasa ekonomi dunia. Jepang laksana negara 'industri terapung' yang besar, mengimpor bahan baku dari semua negara dan mengekspor barang jadinya ke semua negara.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Para eksekutif dan ilmuwan dari negara maju yang berkomunikasi dengan rekannya dari negara berkembang akan berpendapat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal kecerdasan orang di negara maju dan negara berkembang.&lt;br /&gt;Ras atau warna kulit juga bukan faktor penting. Para imigran yang dikatakan pemalas, ternyata menjadi SDM yang produktif di negara maju.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;.. Jadi apa yang membuat negara menjadi maju atau terbelakang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaannya adalah pada sikap atau perilaku masyarakatnya, yang terbentuk sepanjang tahun melalui kebudayaan dan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan analisa di atas, perilaku masyarakat di negara maju, ternyata &lt;strong&gt;mayoritas&lt;/strong&gt; penduduknya sehari-hari mengikuti dan patuh pada prinsip-prinsip dasar kehidupan sebagai berikut ; &lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kejujuran dan integritas&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bertanggungjawab&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hormat pada aturan dan hukum masyarakat yang positif&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hormat pada hak orang lain&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cinta pada pekerjaan dan bekerja keras&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berusaha keras menabung dan investasi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tepat waktu.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Di negara miskin / terbelakang/ berkembang, &lt;strong&gt;hanya sebagian kecil&lt;/strong&gt; masyarakat mematuhi prinsip dasar kehidupan tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kita bukan miskin (terbelakang) karena kurang sumber daya alam, atau karena alam yang kejam pada kita. Kita miskin karena perilaku kita yang kurang baik. kita kekurangan kemauan untuk mematuhi dan mengajarkan prinsip dasar kehidupan yang akan memungkinkan masyarakat kita membangun masyarakat, ekonomi, dan negara kita. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;*Dikutip dari suatu sumber yang diterjemahkan oleh Boedi Dayono, 2005&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-5728726680539816560?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/5728726680539816560/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=5728726680539816560&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/5728726680539816560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/5728726680539816560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2007/07/mengapa-negara-kita-miskin.html' title='Mengapa Negara Kita Miskin?*'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-2052783508024596576</id><published>2007-07-09T10:49:00.001+08:00</published><updated>2008-04-17T20:13:13.560+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Dari Laut ke Mall</title><content type='html'>Biasanya orang2 apalagi remaja dan orang muda kalo pergi ke Mall pasti mesti dandan dulu, pake baju yg ok, and ga lupa mandi dulu.. poko'e harus tampil oke de. Tapi kalo ada yang ke Mall berbekal sisa garam air laut di badan... ga pake mandi/bilas dulu... ga pake ganti baju.. pokoknya dari laut langsung ke mall? ... pasti itu nelayan yang mo beli kail di supermarket!&lt;br /&gt;Ceritanya gini..&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, di hari libur acaranya ke laut tuk snorkling. kali ini pilihannya ke Tablolong nun jauh di ujung barat pulau Timor... sst, tapi ini bukan cerita tentang Pantai Tablolong!.&lt;br /&gt;setelah kecapean mandi laut (maunya sih snorkling tapi air ga juga surut), aku ikut hunting kerikil dan batu2 di tepi pantai sama To'o Toni dan mbak Andriani. lumayan kerikil dan bebatuannya bagus2, buat nambah koleksi. jam 5.30 kami segera meninggalkan Tablolong dan ngebut pulang karna mbak Andri mo kejar bis luar kota. meski hari mulai gelap dan angin dingin cukup kencang, kami nekat ngebut terus di jalan sepanjang 25 kiloan itu  sampe mirip si Komeng... kan motornya samaa! bedanya jaketku ga sampe robek2, tapi celana si Imsak yang robek2..&lt;br /&gt;sampe di Kupang, to'o Toni dan mbak Andry langsung pulang sementara aku dan Imsak mampir ke Bakso Ratu Sari di dekat Flobamora Mall. Dingin2 makan bakso en teh hangat.. mak Nyos!. habis bakso Imsak ngajak ke mall tuk belanja sembako, kebetulan aku juga perlu bekal tuk ke Amarasi.&lt;br /&gt;Pengunjung di mall ternyata lagi penuh, sampe parkiran pun mesti mepet2. sebelum ke supermarketnya kami liat2 stand home entertainment dikira calon pembeli serius, seorang penjaganya melayani dan menjelaskan pada kami dengan antusias (ga tau apa kalo lagi bokek!). Puas dari situ kami mau langsung ke supermarket, tapi aku harus mengeluarkan kerikil2 dari kedua kantong di jacket tuk dijadiin satu di dalam tas, cuek aja aku keluarin kerikil2 dari jacket di atas meja penjaga.&lt;br /&gt;Di dalam supermarket di lantai bawah itu kita muter2 liat barang, mulai gelas buat naruh batu sampe minuman ringan, liatnya sih banyak tapi belanjanya dikit. keluar dari supermarket Imsak mo beli sepatu, jadi terpaksa nemenin dia di counter yang berada tepat di hall tengah itu. sementara Imsak yang kali ini mirip pemulung pantai itu coba sana coba sini, pas sana pas sini... aku duduk di kursi pas yang dibelakangnya ada cermin tembok. Dan ketika coba ngaca di cermin itu... Wow, oh my....!!!*-#?&lt;br /&gt;ternyata aku berantakan... rambut awut2-an campuran sisa garam laut yang dipermak angin jalanan, muka lusuh ga jelas maknanya, celana setengah tiang yang masih basah, dan sandal pun masih berpasir.. jadi dari tadi tuh aku seperti ini ya? keliling di mall? mirip nelayan terdampar? ada orang yang kukenal ga yang liat?....&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-2052783508024596576?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/2052783508024596576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=2052783508024596576&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/2052783508024596576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/2052783508024596576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2007/07/dari-laut-ke-mall.html' title='Dari Laut ke Mall'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-17471295630089020</id><published>2007-07-04T08:54:00.001+08:00</published><updated>2008-05-26T13:22:31.120+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koleksi Photo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Malang Tempo Doeloe, Festival</title><content type='html'>Saat dapat kesempatan travel dari kantor tuk ke Jakarta di bulan Maret 2006, aku sempatkan singgah di rumah beberapa hari. Saat itu juga aku gunakan kesempatan tuk ngunjungi Kota Malang, kebetulan ada kerabat yang punya rumah di Malang dan pas juga ada teman SMA yang juga lagi berada di Malang. Memasuki Kota Malang membawa ingatan pada teman2ku alumni SOB Malang, &lt;em&gt;eventhough choosen SOB was one of two big mistakes in my life time, another is come to Kupang...&lt;/em&gt;.&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Ror-0qgVb3I/AAAAAAAAAFk/9bsGYpt3Kg0/s1600-h/Travel+ke+CO+-+Trawas+037.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5083155310157590386" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Ror-0qgVb3I/AAAAAAAAAFk/9bsGYpt3Kg0/s200/Travel+ke+CO+-+Trawas+037.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;div&gt;Back to Malang... Saat muter2 kota Malang dg temenku aku sempat membaca spanduk acara festival tempoe doeloe di Jl Ijen. Spanduk itu membawa aku dan temanku mengakhiri acara jalan2 di Jl Ijen yang juga dulu menjadi lokasi kampusku. Ternyata acara festivalnya masih ada.... Jl. Ijen yang biasanya tenang dan nyaman buat jalan2 kali itu menjadi ramai oleh pengunjung festival dan segala atribut bernuansa tempo doeloe, termasuk sebagian pengunjung pun menggunakan pakaian atau kendaraan tempoe doeloe. Dan inilah foto2nya...&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Ror_XagVb4I/AAAAAAAAAFs/oXeAq5ZbqFc/s1600-h/Travel+ke+CO+-+Trawas+052.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5083155907158044546" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Ror_XagVb4I/AAAAAAAAAFs/oXeAq5ZbqFc/s400/Travel+ke+CO+-+Trawas+052.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;== Mr. Mi(f)taki mo naek dokar&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span&gt;Merdeka... Merdeka...!&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5083187586836819986" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RoscLagVcBI/AAAAAAAAAG0/jEs4Mq4Ec74/s400/Travel+ke+CO+-+Trawas+082.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RosR-qgVcAI/AAAAAAAAAGs/6aeMSRJP-hs/s1600-h/Travel+ke+CO+-+Trawas+086.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5083176372677210114" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RosR-qgVcAI/AAAAAAAAAGs/6aeMSRJP-hs/s320/Travel+ke+CO+-+Trawas+086.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RosRIKgVb_I/AAAAAAAAAGk/jJ1UJaXfL8I/s1600-h/Travel+ke+CO+-+Trawas+056.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5083175436374339570" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RosRIKgVb_I/AAAAAAAAAGk/jJ1UJaXfL8I/s400/Travel+ke+CO+-+Trawas+056.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt; kalo gadis2 tempo doeloe aja kayak gini, apalagi gadis tempo kini ya?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RosQi6gVb-I/AAAAAAAAAGc/hVqdO1_XgIA/s1600-h/Travel+ke+CO+-+Trawas+089.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5083174796424212450" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RosQi6gVb-I/AAAAAAAAAGc/hVqdO1_XgIA/s320/Travel+ke+CO+-+Trawas+089.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span&gt;&lt;em&gt;Bekas mobil RI #1&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5083157990217183154" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RosBQqgVb7I/AAAAAAAAAGE/AsdZJtL56vM/s400/Travel+ke+CO+-+Trawas+090.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5083158634462277570" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RosB2KgVb8I/AAAAAAAAAGM/vJ-qHlN94C0/s400/Travel+ke+CO+-+Trawas+061.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RosP2KgVb9I/AAAAAAAAAGU/EXQHAcSsQRU/s1600-h/Travel+ke+CO+-+Trawas+067.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5083174027625066450" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RosP2KgVb9I/AAAAAAAAAGU/EXQHAcSsQRU/s320/Travel+ke+CO+-+Trawas+067.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span&gt;Pak Pulisi.. Ada perampok yg pake dasi, tapi naik sedan... bisa dikejar gak?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;...waah ga bisa dhik, lha wong saya cuma ngonthel..&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RosAkKgVb6I/AAAAAAAAAF8/Ew-bWWqmWQI/s1600-h/Travel+ke+CO+-+Trawas+049.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5083157225713004450" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RosAkKgVb6I/AAAAAAAAAF8/Ew-bWWqmWQI/s320/Travel+ke+CO+-+Trawas+049.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-17471295630089020?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/17471295630089020/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=17471295630089020&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/17471295630089020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/17471295630089020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2007/07/malang-tempo-doeloe-festival.html' title='Malang Tempo Doeloe, Festival'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Ror-0qgVb3I/AAAAAAAAAFk/9bsGYpt3Kg0/s72-c/Travel+ke+CO+-+Trawas+037.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-2320172987335381675</id><published>2007-06-20T16:34:00.000+08:00</published><updated>2007-08-30T11:37:04.382+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pantai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Jalan-jalan di Akhir Pekan</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rn-GCgaHxVI/AAAAAAAAAFM/hBoFwr7LWpE/s1600-h/lasianajingga1.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5079926282314564946" height="279" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rn-GCgaHxVI/AAAAAAAAAFM/hBoFwr7LWpE/s320/lasianajingga1.JPG" width="201" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span&gt;Jumat 15 Juni, mbak Tanti ngajak jalan-jalan bareng genk 'petualang' (me, Imsak, MasTo'o Toni, dan mbak Tanti) buat nemani Tiza yang akan segera balik ke Makassar 2 hari lagi. ya, sudah 4 hari Tiza (tanpa hrf 'r' di tengah) datang di Kupang tuk ngebantu kami dalam database. Rencananya seh kita akan jalan pas jam bubar kantor dengan tujuan ke pantai liat sunset dengan tujuan pertama ke pantai Lasiana, tapi karna satu dan lain hal kita baru bisa jalan jam 5.20pm, padahal akhir2 ini matahari cenderung lebih cepat tenggelam (dah males nyinari bumi). Ternyata belum lagi kami sampai di Lasiana, mentari sudah tenggelam, jadinya kami hanya bisa melihat bias jingga matahari di antara siluet nyiur pantai. Dan kami hanya bisa menikmati hidangan pisang bakar dan air kelapanya. sebenarnya bagiku Lasiana itu bukan tempat yang menyenangkan, bahkan tidak ada dalam kamus jalan-jalanku, tapi karena mau ikut acara jalan-jalan, akhirnya aku pun sampai di Lasiana. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;Dari pantai Lasiana kami pun melanjutkan ke terminal Kupang yang ramai di malam hari, dan setelah puas nongkrong2 serta hunting suvenir, &lt;/span&gt;&lt;span&gt;acara jalan-jalan malam itu diakhiri dengan makan malam di sebuah warung pojok. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rn-FHwaHxUI/AAAAAAAAAFE/2BOE_kcDvRw/s1600-h/CIMG0093.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5079925272997250370" height="198" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rn-FHwaHxUI/AAAAAAAAAFE/2BOE_kcDvRw/s320/CIMG0093.JPG" width="273" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sabtu 16 Juni, sesuai kesepakatan kami akan jalan-jalan lagi, tapi kali ini acaranya cuma makan siang di tepi laut Tenau sambil snorkling. Acara yang direncanakan mulai jam 12.30 siang itu sekali lagi molor sampai jam 2.30. Meskipun ada kendala kurangnya motor, namun akhirnya bisa disiasati dengan menggunakan jasa 'Ojek'. sesampainya tempat tujuan yang berada tepat di bawah goa monyet tenau itu acaranya adalah makan ikan bakar yang dibeli di pasir panjang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;Ada yang aneh di pantai yang dibatasi batu karang yang tajam itu, biasanya di sini selalu sepi dan nyaris tidak terdapat orang atau pengunjung, tapi kali ini banyak orang yang sedang menambang pasir dan sesekali terdapat truk pengangkut pasir lewat di atas. Ternyata ada penambangan pasir (liar??) dengan menggunakan penduduk setempat sebagai tenaganya. sebelumnya beberapa kali aku sempat ke sini hanya untuk berenang di laut yang sepi dan menikmati 'laut meeting' atau saat air laut surut yang membuat bunga2 karang bisa dilihat dengan jelas dengan ikan-ikan kecil di antaranya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rn-GxwaHxWI/AAAAAAAAAFU/-W58f8gZrAM/s1600-h/CIMG0103.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5079927094063383906" height="164" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rn-GxwaHxWI/AAAAAAAAAFU/-W58f8gZrAM/s320/CIMG0103.JPG" width="226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;Kali ini aku dan Imsak 'si bocah Kemplo' membawa alat snorkling masing-masing, dan tanpa menunggu lama Imsak langsung 'bermain air' berenang di kejauhan yang kemudian aku susul. ini acara snorklingku yang kedua setelah sebelumnya aku dan Imsak mencoba di Tablolong. Ternyata ikan-ikan yang bermain di bunga karang di Tenau ini jauh lebih berani bahkan sedikit 'jinak' ketika didekati, dengan begitu aku bisa lebih lama menikmati ikan-ikan karang yang bentuknya 'aneh-aneh' itu berkeliaran di sekitarku.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;Saat suasana mulai gelap kami segera beranjak pergi dan akhirnya acara jalan2 kali ini dituntaskan di rumah dengan menikmati minuman hangat buatan sendiri.&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RoDI7QaHxXI/AAAAAAAAAFc/J0pbrB_bk6I/s1600-h/CIMG0122.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5080281300016285042" height="156" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RoDI7QaHxXI/AAAAAAAAAFc/J0pbrB_bk6I/s320/CIMG0122.JPG" width="218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-2320172987335381675?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/2320172987335381675/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=2320172987335381675&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/2320172987335381675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/2320172987335381675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2007/06/jalan-jalan-di-akhir-pekan.html' title='Jalan-jalan di Akhir Pekan'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rn-GCgaHxVI/AAAAAAAAAFM/hBoFwr7LWpE/s72-c/lasianajingga1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-2517346418015446921</id><published>2007-06-15T11:28:00.000+08:00</published><updated>2007-08-30T11:19:07.144+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flores'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pantai'/><title type='text'>Sea World Hotel, Maumere</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RnYUSwaHxNI/AAAAAAAAAEM/bK7SvYGjjXY/s1600-h/Bungalow23_600.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5077267942371476690" height="128" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RnYUSwaHxNI/AAAAAAAAAEM/bK7SvYGjjXY/s320/Bungalow23_600.jpg" width="223" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kemaren saat browsing di google, aku sempat kesasar ke &lt;a href="http://www.sea-world-club.com/"&gt;website hotel SeaWorld&lt;/a&gt;. Websitenya sih Dutch minded, meskipun ada terjemahan Englishnya tapi tetep aja sering pusing membacanya. Di situ ada galeri foto tentang hotel dan fasilitas yang ditawarkan. Melihat foto2 yang ada di situ, aku jadi teringat lagi tentang nikmatnya menghabiskan waktu di SeaWorld hotel itu. Ya, aku memang sering mengunjungi bahkan menginap di hotel itu. &lt;a href="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RnYirQaHxSI/AAAAAAAAAE0/jjXEdhPab1s/s1600-h/SWC.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5077283756441060642" height="245" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RnYirQaHxSI/AAAAAAAAAE0/jjXEdhPab1s/s320/SWC.jpg" width="309" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu di Maumere (bersama Plan Sikka) SeaWorld hotel atau yang kami menyebutnya Sea World Club (SWC) adalah salah satu dari dua venue yang dijadikan langganan untuk kegiatan kami, baik kegiatan bersama mitra atau masyarakat, maupun kegiatan internal lembaga. Tak cukup dengan itu, pantainya juga sering aku kunjungi di saat libur bersama teman hanya untuk berenang atau tiduran di pasirnya, paling sering sih dengan Titon, tul ga' Titon?. Ya, hal itu karena di pantai SeaWorld terdapat fasilitas shower air tawar yang ditempatkan di beberapa titik, sehingga setelah puas berenang di air asin, kita bisa membilas badan dengan shower itu. &lt;a href="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RnYdKwaHxOI/AAAAAAAAAEU/zG7itEl1Lc8/s1600-h/restaurant2_600.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5077277700537173218" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RnYdKwaHxOI/AAAAAAAAAEU/zG7itEl1Lc8/s320/restaurant2_600.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RnJUUwaHxMI/AAAAAAAAAEE/U9jeP7ajGOE/s1600-h/Bungalow10_600.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RnJS6AaHxLI/AAAAAAAAAD8/cBf4BylI52M/s1600-h/Bungalow2_600.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5076210886495421618" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RnJS6AaHxLI/AAAAAAAAAD8/cBf4BylI52M/s320/Bungalow2_600.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Lokasi SWC 8 Km arah timur dari pusat kota Maumere, pas berada di luar batas kota Maumere. Hal ini cukup ideal untuk beristirahat terhindar dari hiruk pikuk keramaian kota, apalagi hotel yang bertype resor ini berada di atas pantai. Kamarnya terbagi dalam beberapa type dengan harga yang berbeda, mulai dari beach house sampai yang bungalow yang excusive. aku sih paling suka menggunakan beach house karena tempatnya yang tepat di bibir pantai, meskipun dengan fasilitas yang serba minim dibandingkan dengan kamar yang lain.&lt;br /&gt;Bicara tentang Sea World Club, bagiku itu berarti ; &lt;div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pasir laut, pohon kelapa, ketapang, biru laut, bunglow, kamar panggung, dan restoran terbuka, sunyi,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nyantai di pantai setelah penat dengan kegiatan training atau workshop,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;tidur di kamar ditemani suara deburan ombak,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;bangun pagi, berenang sejenak, trus sarapan dan ngopi di restoran,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berenang bebas di laut yang jernih, trus bebilas di shower air tawar,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ikan Bakar, Sup Asparagus, Jus buah, Kopi Pekat, Live music BangBoler,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;nunggu pesanan makanannya kelamaan,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;pusink ngorganisir pelatihan dengan peserta dan fasilitator yang rewel,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;main bola di pantai-kecapean de,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;ketiduran di kursi pantai dibalut angin sepoi-sepoi, kepanasan seh,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;menampung cerita bu Trix Mali sampai ngantuk, kram juga,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;nelayan merajut jala, turis pergi diving, anak pantai berenang,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Plan-Yaspem, Adituka,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rocky Independent, GL-Max, Mega Pro.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Di antara beberapa kunjungan dan waktu menginap di SWC, ada 2 kenangan yang paling berkesan buat aku. Pertama adalah saat aku dan teman2 Plan Sikka menginap di SWC untuk penyusunan Rencana Operasional FY '06 (Juni 2005), I spent my time with her. &lt;a href="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RnYd-QaHxQI/AAAAAAAAAEk/SmpOikrvXcg/s1600-h/Family+Day+SWC+06+061.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5077278585300436226" height="203" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RnYd-QaHxQI/AAAAAAAAAEk/SmpOikrvXcg/s320/Family+Day+SWC+06+061.jpg" width="139" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;dan yang kedua adalah saat Family Day Plan Sikka yang seru dengan kegiatan2 kebersamaannya. &lt;a href="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RnYeMgaHxRI/AAAAAAAAAEs/15iXBiGmP5k/s1600-h/Family+Day+SWC+06+104.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5077278830113572114" height="165" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RnYeMgaHxRI/AAAAAAAAAEs/15iXBiGmP5k/s320/Family+Day+SWC+06+104.jpg" width="216" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;Terakhir, aku menghabiskan waktu di SWC adalah saat mengikuti pelatihan CCCD sekitar bulan Oktober 2006 lalu (sekaligus sibuk sbg panitianya), namun sayang kali ini aku ga bisa menikmati bersantai di SWC, scara harus mondar-mandir ke kantor buat nyelesaikan tugas lain.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Titon, kalo loe maen ke SWC, sampekan salam buat Bu Trix Mali ya, biar nanti bisa ditraktir Jus Alpukat atau bahkan makanannya sekalian..!. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-2517346418015446921?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/2517346418015446921/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=2517346418015446921&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/2517346418015446921'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/2517346418015446921'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2007/06/sea-world-hotel-maumere.html' title='Sea World Hotel, Maumere'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RnYUSwaHxNI/AAAAAAAAAEM/bK7SvYGjjXY/s72-c/Bungalow23_600.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-59678373724846342</id><published>2007-06-11T16:06:00.001+08:00</published><updated>2008-06-03T15:26:19.607+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koleksi Photo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flores'/><title type='text'>Raflesia, kok di Flores?</title><content type='html'>Pagi ini, sambil sarapan pagi di rumah aku dengerin satu siaran radio lokal. kali ini si penyiar membacakan satu artikel tentang salah satu tumbuhan langka yang ada di Indonesia, Bunga Raflesia ... "Bunga Raflesia yang disebut juga Bunga Bangkai merupakan jenis tumbuhan langka karena tumbuhan ini tidak memiliki batang, tidak memiliki daun, dan tidak memiliki akar, tumbuhan ini hanya tumbuh di Pulau Kalimantan dan Sumatra... bla..bla..bla.."&lt;br /&gt;Grlhh..? ... Bunga Raflesia hanya tumbuh di Kalimantan dan Sumatra...?&lt;br /&gt;aku langsung ingat dengan koleksi foto digitalku, aku pernah memotret sejenis bunga yang ciri2nya mirip dengan Raflesia, tapi bukan di Kalimantan, bukan juga di Sumatra? aku memotretnya di sebuah hutan di dekat sebuah kampung di Flores. bahkan aku sempat memotret dua bunga yang berbeda di lokasi yang berdekatan, namun dalam waktu yang berbeda. foto yang pertama aku ambil di bulan Oktober 2004, dan foto yang kedua aku ambil satu bulan sesudahnya. Aku yakin kalo kedua bunga itu adalah jenis Bunga Raflesia sebab bunga yang aku potret pertama hanya hidup tidak lebih dari seminggu setelah aku temukan (aku potret), dan bunga itu juga ga punya daun dan batang...&lt;br /&gt;ini bunga apa ya....??!#*^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rm0D3AaHxJI/AAAAAAAAADs/sOBkXVMjinA/s1600-h/Wailamung+(1).JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5074716598653666450" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rm0D3AaHxJI/AAAAAAAAADs/sOBkXVMjinA/s400/Wailamung+(1).JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rm0DQwaHxII/AAAAAAAAADk/fwlM21VSYWM/s1600-h/TWA-TLE+(9).JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5074715941523670146" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rm0DQwaHxII/AAAAAAAAADk/fwlM21VSYWM/s320/TWA-TLE+(9).JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-59678373724846342?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/59678373724846342/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=59678373724846342&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/59678373724846342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/59678373724846342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2007/06/raflesia-kok-di-flores.html' title='Raflesia, kok di Flores?'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rm0D3AaHxJI/AAAAAAAAADs/sOBkXVMjinA/s72-c/Wailamung+(1).JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-2192079284086481760</id><published>2007-06-04T15:48:00.000+08:00</published><updated>2007-08-30T11:03:07.686+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>7 Juni</title><content type='html'>Entah apa dasar yang pasti sampe beberapa media mengeluarkan statement bahwa akan terjadi gempa pada tg 7 Juni ini. sementara menurut yang lain, hingga saat ini belum ada alat atau negara yang bisa memprediksi datangnya gempa bumi.&lt;br /&gt;yang jelas berita tentang akan terjadinya gempa yang konon bakal terjadi di sekitar wilayah NTT bagian selatan itu telah mempengaruhi banyak orang dalam banyak hal. pagi ini meeting di kantor pun sempat ada yg membicarakan hal itu . . . ternyata sampe ada keluarga yang nyiapin perahu di depan rumahnya . .. weleh.&lt;br /&gt;dan yang merugikan lagi, berita itu mempengaruhi rencana aku tuk liburan dg teman2 di P. Riung!&lt;br /&gt;tapi . .. gimana ya kalo gempa itu bener2 akan terjadi? oh God!! Na'udzubIllah min dzalik.&lt;br /&gt;mama . . aku pulang aja!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-2192079284086481760?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/2192079284086481760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=2192079284086481760&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/2192079284086481760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/2192079284086481760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2007/06/7-juni.html' title='7 Juni'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-8520697201770588510</id><published>2007-05-30T16:05:00.000+08:00</published><updated>2007-08-30T11:15:29.807+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pantai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Nemberala, Rote</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rl03vgRx_4I/AAAAAAAAABU/3NLpLCn4O9I/s1600-h/kelapa.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5070270044746940290" height="176" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rl03vgRx_4I/AAAAAAAAABU/3NLpLCn4O9I/s320/kelapa.JPG" width="207" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Setelah menempuh perjalanan 1,5 jam dengan Feri express dilanjutkan dengan perjalanan motor 1 jam, akhirnya kami berempat dapat melihat pintu gerbang desa ‘Selamat Datang di Pantai Wisata Nemberala’.&lt;br /&gt;Ada beberapa hotel dan homestay di sekitar pantai Nemberala dengan tarif mulai puluhan ribu hingga ratusan ribu per malam, tapi akhirnya kami memilih penginapan milik Pak Thomas dengan pertimbangan sedang tidak ada pengunjung dan juga murah. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Desa Wisata Nemberala terletak di tepian pantai termasuk kecamatan Rote Barat Daya. Desa ini berpenduduk lumayan padat dengan bentuk rumah yang sebagian besar sudah berplester dan beratap seng, hanya sebagian yang masih menggunakan bebak dan atap alang-alang. Secara sepintas warga di desa ini termasuk &lt;a href="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rl08JARx_5I/AAAAAAAAABc/uc4eZ6_zPmo/s1600-h/CIMG0118.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5070274880880115602" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rl08JARx_5I/AAAAAAAAABc/uc4eZ6_zPmo/s200/CIMG0118.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;berkecupan jika dibandingkan dengan beberapa desa yang sebelumnya kami lewati, menurut penuturan pak Thomas, kesejahteraan warga di sini ditopang dari komoditi rumput laut yang ditanam di sepanjang pantai Nemberala. Di sepanjang jalan dan juga di sekitar rumah warga terdapat pohon kelapa yang menjulang tinggi dan daunnya saling merapat sehingga meneduhkan sebagian besar desa ini. Di sore hari, beberapa orang yang sebagian besar perempuan paruh baya terlihat menyisir tepian pantai dengan berbekal karung ataupun keranjang yang terbuat dari tali buatan sendiri di pundak. Dengan seksama mereka mencari dan memunguti potongan-potongan rumput laut yang terbawa ombak hingga ke tepian pantai. Jika karung atau keranjang mereka penuh, maka mereka beranjak pulang untuk menjemur rumput laut tersebut. &lt;a href="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rl0-LQRx_7I/AAAAAAAAABs/OJKen-G-VV4/s1600-h/CIMG0063.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5070277118558076850" height="173" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rl0-LQRx_7I/AAAAAAAAABs/OJKen-G-VV4/s320/CIMG0063.JPG" width="185" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suasana yang sama juga terlihat di pantai di pagi hari, bahkan lebih banyak lagi orang yang berada di pantai karena selain para pencari rumput laut juga terdapat orang-orang yang sedang membersihkan atau sekedar memeriksa tanaman rumput laut mereka di pinggiran laut. Suasana ini semakin ramai oleh banyaknya binatang anjing dan babi yang berkeliaran di pantai.&lt;br /&gt;Pantai Nemberala sudah lama dikenal sebagai tempat berselancar bagi turis mancanegara, sebagian besar turis yang datang di sini berasal dari Australia dan menginap rata-rata seminggu hanya untuk bermain gelombang air laut. Biasanya musim padat pengunjung di desa Nemberala adalah mulai pertengahan Juli hingga bulan September. Ombak di sini memang cukup ideal bagi peselancar, karena ombaknya yang cukup panjang dan lumayan tinggi menurut para peselancar memberi kepuasan tersendiri dalam bermain papan selancar. Hal ini ditunjang juga dengan indahnya pantai yang masih tergolong alami dengan rumah-rumah penduduk yang sebagian masih tradisional menambah nilai tersendiri sebagai tempat tujuan wisata pantai. Hanya saja&lt;br /&gt;Akses jalan dari Ba’a menuju desa ini memang sedikit menghambat perjalanan wisatawan. Selain jaraknya yang lumayan jauh juga kondisi jalan yang lebih banyak rusak.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rl09BgRx_6I/AAAAAAAAABk/TqG3NEmsweU/s1600-h/CIMG0156.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5070275851542724514" height="204" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rl09BgRx_6I/AAAAAAAAABk/TqG3NEmsweU/s320/CIMG0156.JPG" width="251" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Selama 3 hari 2 malam berlibur di desa Nemberala cukup memuaskan kami berempat. Kami telah mengunjungi beberapa tempat wisata yang semuanya di kawasan pantai. Ada Pantai Boa yang disiapkan khusus untuk festival surfing dengan gelombangnya yang cukup dekat dengan bibir pantai. Kami juga mengunjungi pantai Fimok yang memiliki batu karang yang menyerupai pintu gerbang. Kami juga telah merasakan nikmatnya mandi dan bermain di pantai Nemberala bersama para peselancar asing, bahkan dengan berbekal papan selancar sewaan dari pak Thomas kami mencoba belajar berselancar meskipun tidak pernah bisa berdiri di atas ombak. Sebelum mengakhiri perjalanan di Rote kami sempatkan untuk melihat batu Termanu yang berupa gundukan bukit batu yang menjulang tinggi di tepi laut. Namun sayangnya perjalanan kami diakhiri dengan keterlambatan kapal feri di pelabuhan pantai baru hingga 3 jam. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;img src="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RtOTXBz41PI/AAAAAAAAAJs/Ta99s22Umjc/s200/CIMG0184.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5103584826573247730" /&gt;&lt;br /&gt;Tips :&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika ingin membawa motor menggunakan Fery Express, sebaiknya kurangi BBM di tangki motor, karena sebelum naik tanki motor diperiksa dan akan disedot jika terlihat penuh.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Cari hotel atau penginapan yang sekaligus menyediakan makanan, karena di Nemberala belum tersedia rumah makan / warung.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika tidak memakai kendaraan sendiri, sebaiknya menggunakan jasa bemo carter untuk mempercepat waktu tempuh.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;untuk ketepatan waktu, gunakan Fery Express meskipun harus membayar lebih mahal; 75rb per orang, 100rb untuk motor, sedangkan fery biasa cukup 38 ribu per orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-8520697201770588510?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/8520697201770588510/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=8520697201770588510&amp;isPopup=true' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/8520697201770588510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/8520697201770588510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2007/05/setelah-menempuh-perjalanan-15-jam.html' title='Nemberala, Rote'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rl03vgRx_4I/AAAAAAAAABU/3NLpLCn4O9I/s72-c/kelapa.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-2767309981002259935</id><published>2007-05-29T16:44:00.000+08:00</published><updated>2007-08-30T11:20:17.227+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flores'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Kelimutu</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RlvuSgRx_1I/AAAAAAAAAA8/FqQ77F1LzJc/s1600-h/Kelimutu+Dec+(41).JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5069907807205195602" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RlvuSgRx_1I/AAAAAAAAAA8/FqQ77F1LzJc/s320/Kelimutu+Dec+(41).JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Gunung Kelimutu dapat ditempuh dalam 3-4 jam perjalanan dari kota Maumere. Atau jika kita beranjak dari kota Ende, perjalanan hanya memakan waktu sekitar 2 jam. Namun sebagian besar para turis (khususnya Wisman) lebih banyak berangkat dari kota Maumere karena mereka menghabiskan waktu sebelumnya dengan menikmati beberapa tempat wisata pantai atau diving di sekitar kota Maumere.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di akhir bulan Desember 2006 lalu aku dapat kesempatan mengunjungi Kelimutu untuk yang kedua kali setelah di awal tahun 2004 aku pertama kali ke sana. Kebetulan saat itu aku yang masih berkantor di sebuah NGO di kota Maumere diajak temanku yang ingin menggunakan kesempatan saat di Maumere untuk melihat danau Kelimutu. Perjalanan dimulai pukul 03.30 dini hari, Sepanjang perjalanan yang berliku-liku melewati bukit dan lembah tidak dapat dinikmati karena hanya gelap di luar serta goncangan mobil Rocky Independent yang dikebut oleh om Moce yang kami rasakan. &lt;/div&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RlvpawRx_yI/AAAAAAAAAAk/c7pj79ox1Y8/s1600-h/Kelimutu+Dec+(5).JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5069902451380977442" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RlvpawRx_yI/AAAAAAAAAAk/c7pj79ox1Y8/s200/Kelimutu+Dec+(5).JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div align="justify"&gt;Memasuki desa Moni di kaki gunung Kelimutu, keadaan di luar mulai terang, namun justru aku malah merasakan mual akibat mabok perjalanan. Maklumlah, dengan kondisi badan yang kurang fit akibat kurang tidur serta perut yang kosong dan diguncang-guncang di atas mobil mengakibatkan mual yang tidak tertahan. Setelah sempat istirahat sejenak menghilangkan mual, akhirnya perjalanan dilanjutkan. Memasuki gerbang masuk kawasan wisata Moni, kami harus membayar tiket masuk, 4ribu per orang.&lt;br /&gt;Mobil kami terhenti di parkiran terakhir, dan tanpa diaba-aba 5 orang di dalamnya langsung berkemas, Pak Teno, Duma, om Moce, Wayan dan aku sendiri mulai menapaki tangga-tangga setapak menuju ke danau Kelimutu, jam di HP menunjukkan pukul 06 pagi lewat. Ternyata ada seorang laki-laki tua berjaket biru yang tanpa diminta bersedia menemani kami sambil membawa thermos dan seperangkat alat minum yang ditaruh di tas ranselnya. Beliau ini ternyata warga di desa terdekat yang berjarak sekitar 4 Km di bawah tempat parkir mobil terakhir. Pekerjaan sehari-harinya selain menjual minuman hangat buat wisatawan di pagi hari, juga sebagai petani sayur di siang hari. &lt;a href="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RlvrOgRx_zI/AAAAAAAAAAs/GD0RM43vTZk/s1600-h/Kelimutu+Dec+(14).JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5069904439950835506" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RlvrOgRx_zI/AAAAAAAAAAs/GD0RM43vTZk/s200/Kelimutu+Dec+(14).JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Udara pagi pegunungan cukup menyemangati kami menaiki setapak demi setapak. Angin yang lumayan kencang menimbulkan suara yang berirama dari pepohonan cemara, ditingkahi dengan kicauan berbagai burung yang bersahutan mampu mengalahkan kelelahan yang kami rasakan. Semakin mendekati puncak danau Kelimutu, semakin kami merasakan suasana magis, alam begitu hening di antara tiupan angin dingin, warna-warni langit dipadu dengan hijaunya hutan yang sebagian masih ditutupi kabut tipis sepertinya membawa suasana yang sulit ditemukan ditempat lain. Meskipun aku sudah pernah mengunjungi tempat ini sebelumnya, namun sepertinya aku baru pertama kali berada di tempat ini. Mungkin karena saat ini tidak ada pengunjung lain yang kami temui selain aku dan keempat temanku, maklum karena kami berkunjung di hari Kamis. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5069906372686118722" height="150" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rlvs_ARx_0I/AAAAAAAAAA0/071B1GtNU2o/s200/Kelimutu+Dec+(27).JPG" width="321" border="0" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RlvvfwRx_3I/AAAAAAAAABM/mTkcXVynRTs/s1600-h/Kelimutu+ju+(10).JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5069909134350090098" height="101" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RlvvfwRx_3I/AAAAAAAAABM/mTkcXVynRTs/s320/Kelimutu+ju+(10).JPG" width="143" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Akibat terlalu sering beristirahat dan menikmati suasana, akhirnya aku menjadi orang paling akhir yang mencapai puncak Kelimutu yang ditandai dengan tugu dan prasasti yang bertuliskan kata-kata tentang riwayat dan nilai-nilai leluhur. Dari puncak ini, terlihat jelas ketiga danau yang airnya berwarna di sekiling kami, juga hamparan hijau bukit yang bergunduk-gunduk tersebar di segala sisinya. Pandangan yang cukup luas ini seakan dibatasi oleh awan yang tersebar di kejauhan. Dari ketiga danau kawah tersebut ternyata 2 di antaranya telah mengalami perubahan warna sejak aku datang pertama kali. Kawah terkecil yang berada di dekat tugu yang dulunya berwarna putih saat ini telah berwarna hitam pekat, kawah yang paling bawah yang dulunya berwarna hitam kini sedikit berubah menjadi agak coklat pekat. &lt;a href="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RlvvCQRx_2I/AAAAAAAAABE/fT7dE2RjShA/s1600-h/Kelimutu+Dec+(47).JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5069908627543949154" height="179" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RlvvCQRx_2I/AAAAAAAAABE/fT7dE2RjShA/s320/Kelimutu+Dec+(47).JPG" width="206" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sedangkan danau yang terbesar tetap berwarna hijau permata yang cukup terang.&lt;br /&gt;Setelah puas mengabadikan segala sudut dan menikmati suasana sambil minum kopi dan teh panas dari pak Tua yang menemani, akhirnya kami sepakat turun karena takut pak Teno terlambat pesawat di Maumere. Ternyata benar kata orang bahwa berapa kali pun kita datang ke Kelimutu tetap kita akan merasa suasana magis yang berbeda, satu lagi keajaiban karya Tuhan yang bisa kita nikmati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-2767309981002259935?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/2767309981002259935/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=2767309981002259935&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/2767309981002259935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/2767309981002259935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2007/05/kelimutu.html' title='Kelimutu'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RlvuSgRx_1I/AAAAAAAAAA8/FqQ77F1LzJc/s72-c/Kelimutu+Dec+(41).JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-6922702269496709216</id><published>2007-05-25T13:13:00.001+08:00</published><updated>2008-05-26T13:43:13.989+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koleksi Photo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Flores'/><title type='text'>Sikka, Landscape</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rmjl8AaHxFI/AAAAAAAAADM/eG_ye4Tk8lU/s1600-h/Sikka.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073557799297336402" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rmjl8AaHxFI/AAAAAAAAADM/eG_ye4Tk8lU/s200/Sikka.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Sikka is one of 16 district in NTT-Indonesia, it's located on eastern of Florest Island. the capital of Sikka district is Maumere, you can reach it by plane (Merpati) from Jakarta, Surabaya, Denpasar, or Kupang (Trans Nusa &amp;amp; Merpati) directly everyday. Sikka has 11 subdistrict dispersed in the mainland and its small islands.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073508823785259938" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rmi5ZQaHw6I/AAAAAAAAAB0/DnwfL_Xn3w0/s400/100_0043.JPG" border="0" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Egon view from Talibura beach&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073528902757368850" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RmjLqAaHxBI/AAAAAAAAACs/ZWU6GL6Ibzw/s400/Gaikiu.JPG" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;cross road over the hilly land in Bu Watuweti-Paga&lt;/p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073534632243741762" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RmjQ3gaHxEI/AAAAAAAAADE/dAHbIwykiB4/s400/Wailamung+(2).JPG" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;Beautiful sunset on Pulau Besar, a view from Wailamung-Talibura&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RmjEIQaHw-I/AAAAAAAAACU/rH7isGYB7JI/s1600-h/IMG_0001.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073519659987747794" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RmjDQAaHw9I/AAAAAAAAACM/s4kPhuvDY_Y/s400/DSCN1518.JPG" border="0" /&gt; a green view of the road to Mbay in rainy season&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073517022877828034" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RmjA2gaHw8I/AAAAAAAAACE/5Aw4eRFBJ2Y/s400/Makepanda+Kering1.JPG" border="0" /&gt; a burned grass, 'Tanjung' -Maumere in dry season&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RmjEIQaHw-I/AAAAAAAAACU/rH7isGYB7JI/s1600-h/IMG_0001.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073520626355389410" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RmjEIQaHw-I/AAAAAAAAACU/rH7isGYB7JI/s400/IMG_0001.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; cool water river, Gera-Mego&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RmjMlAaHxCI/AAAAAAAAAC0/WhLl-1u2raY/s1600-h/DSCN6168.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073529916369650722" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RmjMlAaHxCI/AAAAAAAAAC0/WhLl-1u2raY/s400/DSCN6168.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Statue of 'Bunda Maria', Nilo-Nita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RmjNrQaHxDI/AAAAAAAAAC8/nwytojqoORQ/s1600-h/DSCN0799.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073531123255460914" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RmjNrQaHxDI/AAAAAAAAAC8/nwytojqoORQ/s320/DSCN0799.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073569155190867058" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/RmjwRAaHxHI/AAAAAAAAADc/HPbZDRYDKp8/s400/Road+to+Poma+002.jpg" border="0" /&gt;the highland village, Poma-Paga &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-6922702269496709216?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/6922702269496709216/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=6922702269496709216&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/6922702269496709216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/6922702269496709216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2007/05/sikka-landscape.html' title='Sikka, Landscape'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/Rmjl8AaHxFI/AAAAAAAAADM/eG_ye4Tk8lU/s72-c/Sikka.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-743275869588963008.post-789195267955805568</id><published>2007-05-16T16:04:00.000+08:00</published><updated>2007-05-29T16:43:57.339+08:00</updated><title type='text'>Kenapa Mesti Bikin blogspot ini?</title><content type='html'>awalnya sih aku ga pernah mau atau kepingin ngeblog, scara yang sering aku liat blog temen2ku tuh cuma terisi dengan opini-opini pribadi yang informasinya ga ada yang menarik.&lt;br /&gt;paling2 cuma isi pengalaman pribadi, keluh-kesah. . . . kalian pasti lebih paham hal itu.&lt;br /&gt;sampe suatu saat di minggu lalu mas Abi minta aku kunjungi blognya, dan aku baru sempat liat beberapa hari lalu. kebetulan waktu itu aku juga aku lagi demen browsing di indobackpacker.com jadi serba adventure minded lah..&lt;br /&gt;dan kesan pertama waktu liat blog mas Abi adalah ada yang menarik dengan blog itu, aku merasa sedang membuka majalah wisata ala flightnews. dipercantik dengan foto2 . . . aku jadi pengen ikutan ngeblog juga!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan hari ini, ga banyak yang bisa aku lakukan di kantorku, jadi . . . . iseng2 juga aku bikin blog ini.&lt;br /&gt;untuk sementara ga banyak yang bisa aku tumpahkan di sini, lack of ideas in my brain due influenza has intruding me.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/743275869588963008-789195267955805568?l=toniahmad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://toniahmad.blogspot.com/feeds/789195267955805568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=743275869588963008&amp;postID=789195267955805568&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/789195267955805568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/743275869588963008/posts/default/789195267955805568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://toniahmad.blogspot.com/2007/05/kenapa-mesti-bikin-blogspot-ini.html' title='Kenapa Mesti Bikin blogspot ini?'/><author><name>toni ahmad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01199583685377989394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp1.blogger.com/_MS-V9RpGglc/SHQ9aHmTYrI/AAAAAAAAAOI/HOcz3m6TTlw/S220/Kuta.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
